Hujan masih mengguyur tempat ini, kabut tipis pun tak kunjung memudar. Suasana ini sering kali kita temui di film-film horror. Entah semenjak mimpi itu, aku menjadi sedikit tertarik dengan keberadaan pintu hitam. Tapi salah besar jika kalian berpikir kalau aku bakal memaksa masuk keruangan dibalik pintu itu. Aku sudah repot, kenapa juga aku harus ambil pusing properti orang? Ya kan?
“La… Udah sarapan?” tiba-tiba kak intan muncul, dia bicara dengan malasnya. Entah kenapa orang ini gampang akrab, padahal kami baru ketemu kemarin.
“Be..belum kak, belum lapar” ujarku gugup. Tak lama seorang cewek memakai headset turun dengan tampang jutek.
“Rin.. Kenalin, penghuni baru” ujar kak intan.
“Layla….” kusodorkan tanganku “Rina…” ujarnya sambil membalas jabat tanganku. Sesaat matanya terbelalak, kemudian dia pasang tampang serius dan pamit keatas, meninggalkan aku dan kak intan dalam ke bingungan, “mungkin lagi waktunya” ujar kak intan pergi naik ke atas.
(17.22) Akhirnya aku bertemu hampir semua penghuni kost ini. Penghuni lantai dua, aku dekat tangga, lalu kak anis, paling ujung kak intan. Sedangkan lantai tiga ada Hana, kak Rina, dan yang paling ujung belum nampak, kata kak intan, dia satu-satunya cowok di kost ini, namanya danang. Hawa nya makin dingin, membuat secangkir teh panas adalah hal yang bagus, saat keluar dari dapur, aku berpapasan dengan kak rina.
” teh panas kak?” tawarku, namun yang terjadi, dia menatapku tajam lalu kembali naik keatas tanpa membalas tawaranku. Namun saat diatas tangga dia sempat berbalik dan berkata lirih, aku tak yakin tapi dia mengatakan sesuatu.
“Jauhi pintu itu, atau mreka akan….” dia langsung naik begitu saja. Mereka? Siapa? Aku jadi bingung, orang itu mengigau mungkin. Hujan semakin deras dan disertai angin kencang , sepertinya bakal ada badai malam ini. Aku hanya bisa membaca buku di kamar, sampai terdengar suara kencang. Aku berhambur keluar, diluar sudah ada kak intan, disusul kak anis yang tampak panik.
“Nis… Kayaknya dari atas!” kak intan berseru, kami pun segera naik. Diatas hanya ada hana yang menangis didepan.
“Hana, kenapa kamu nangis?” kak anis langsung menghampiri hana dan memeluk hana.
“Ka…kamar kak rina, tadi aku mendengar suara kencang dan teriakan” hana tampak terguncang, aku juga sebenarnya kaget.
“Rin…rina!!! Jawab aku!!” kak intan menggedor pintu kamar kak rina, bisa dibilang setengah mendobrak. Beberapa kali dipanggil bahkan di gedor, namun tak ada jawaban, terpaksa kak intan mendobrak pintu nya. Dan sungguh apa yang kami lihat… Membuat ku tak percaya….