Bissmillah
Assalamualaikum Wr Wb
Salam ganteng,

Oke ini pos pertama saya disini mohon maaf bila banyak typo. Karena ngetik pake hengpon nukie 3300.

Kisah ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Tentu saja ini adalah kisah nyata. Untuk yang ga percaya akan tulisan ini, silahkan saja saya tidak akan memaksa pembaca untuk percaya. Dan cerita ini dibuat sudah di setujui oleh pihak pihak yang terkait. Semua nama dan tempat di samarkan agar tidak terjadi rasa penasaran yang tinggi terhadap pembaca.

Cerita ini terjadi karna hal sepele yang nenek saya lakukan. Bermula saat kakek saya senang keluar malam hari untuk bermain kartu atau domino bersama teman temannya. Maklum saja kakek saya memang terkenal ‘anak gaul’ pada masanya.

Kakek saya main kartu itu tidak jauh dari rumah nya. Ya, hanya berbeda beberapa gang dari rumahnya. Sangat dekat menurut ku tapi bukan itu permasalahannya. Kalian tahu? Mungkin ada beberapa yang berfikir kakek saya bermain kartu menggunakan uang sebagai alat taruhan. Dan yang berfikir seperti itu memang benar apa yang kalian fikirkan. Itulah alasan utama nenek saya melarang mati matian kakek saya untuk tidak bermain kartu lagi. Walaupun uang yang di pertaruhkan hanya seribu dan paling banyak 5rb tetap saja taruhan tetaplah taruhan, salah tetaplah salah.

Nenek saya yang mulai gerah dengan kelakuan kakek saya menghampiri rumah yang halamannya di jadikan arena judi kecil kecilan. Namun sayang seribu sayang, apa yang nenek saya lakukan adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan semasa hidup nya.

Dan inilah awal kisah nenek saya.

***

“Bleduuugggggggg”

Bunyi benda yang menghantam atap rumah. Saya yang saat itu kebetulan sedang menginap terbangun.

“Apaan itu” pikirku.

Saya pun memberanikan diri untuk mengecek keatap rumah nenek dan kakek saya. Namun, saya tidak menemukan apapun disana. Dan tentu saja karna rasa kantuk yang lebih kuat dari apapun saya kembali kekamar untuk melanjutkan tidur.

Pagi pagi sekitar pukul 05.00 saya terbangun kali ini dengan suara nenek saya yang berteriak.

“Aa tolongin mbah” teriak nenek ku berulang kali.

Saya pun beranjak dari tempat tidur dan menghampiri nenek ku secepat mungkin. Disana sudah berada kakek ku sedang duduk diam di samping nenek ku yang sedang tertidur.

“Mbah laki, tadi mbah cewek teriak ada apa? ” Tanyaku dengan heran.

“Ga tau a, mbah juga tadi denger makanya langsung nyamperin eh tau nya lagi tidur.” jawab mbah ku dengan muka bingung.

“Tapi tadi barusan loh mbah cewe teriak nya”

Perlu diketahui, nenek ku suka tidur di ruang tengah. Biasanya setelah solat malam nenek ku tidur diruang tengah alaaannya agar terdengar suara adzan subuh.

“Aduh pak, kaki saya kok ga bisa di gerakin ya pak” nenek saya panik sambil memegang tangan kakek saya.

“emangnya tadi ibu ngapain aja sampe kaki gak bisa di gerakin?” terlihat raut wajah bingung tergambar jelas sekali.

 

***

 

Hingga akhir nya seminggu kemudian nenek saya gak benar benar gak bisa jalan. Sudah berobat kesana kesini hasil sama saja. Sampai pada akhirnya di kumpulkan lah seluruh keluarga nenek ku. Tentu saja para cucu cucu yang imut dan ganteng (walaupun cuma saya yang ganteng) hadir meramaikan.

 

“bu coba geh cari alternatif lain” ajak tante saya yang sepertinya mulai merasakan keanehan.

“iya bu coba aja” ibu saya pun mengamini perkataan tante saya.

 

semua orang saling pandang hingga akhirnya tante saya (sebut saja nanda) hadir dan membuat seisi rumah panik.

 

“ya Allah bu. ibu ada salah apa sama orang lain?”

 

‘daaaaaaaaaaarrrrr’

 

semua orang mulai berbicara entah apa itu bahkan saya pun tidak menangkap semua perkataan orang yang ada di sana saat itu.

 

“ibu ini di santet, emang ibu ada salah sama siapa?”

“gak ada kok nan” nenek saya pun bingung

“nanda mah ga bisa angkat bu tapi nanda punya kenalan orang pinter yang ngerti kaya gini”

 

akhirnya merekapun berembuk dan di setujui lah usulan tante nanda ini.

 

***

 

ke esokan harinya orang yang di tunggu pun hadir. semua kumpul hanya anak kecil saya yang tidak di ijinkan masuk kerumah.

 

“wah ini sih berat tapi saya usahakan. doakan saja bisa langsung di cabut” kata orang pintar itu sambil mempersiapkan segalanya.

“ibu ibu nya di bagi dua yang nomer 1-2 kekamar belakang sisanya kekamar depan kecuali neng nanda di sini aja soalnya si eneng buyut nya kuat tapu si eneng ga tau aja” lanjut nya.

“itu si aa yang badannya gede” sambil menunjuk ke arah ku. “jaga di depan pintu kamar belakang sama bapak yang itu” sambil nunjuk om saya.

“kalo si aa yang kecil ini jaga pintu kamar depan berdua sama bapak yang itu” sambungnya dengan gesit seperti benar benar sudah paham apa yang akan dia lakukan.

“sisanya ajak anak anak di luar maen dulu dan yang jaga pintu depan baca surah “sensor” jangan putus apapun yang terjadi sampai semuanya selesai”

“terus cara kita tahu kapan selesainya gimana?” tanya saya dengan di selumuti rasa khawatir.

“udah nanti juga kamu tahu kapan harus selesai” jawabnya singkat namun seperti sebuah sugesti besar buat saya.

 

kami pun bersiap di pos masing masing dengan mengambil wudhu dahulu. saya yang kebagian di pintu belakang langsung berhadapan dengan ruang tengah yang di jadikan tempat untuk pengobatan. orang itu mulai mengurut kaki nenek saya dengan minyak bawaanya. saya pun bergegas membaca surah “sensor” sesuai petunjuk orang itu.

 

“ampuuuunnn udaaaahhhh gak kuat” teriak nenek ku.

 

saya yang berhadapan langsung pun tidak berani menoleh saya hanya fokus dengan apa yang saya lakukan. segala macam bisikan mulai dari suara nenek saya atau apapun itu bentuknya saya hiraukan saya hanya fokus dengan apa yan saya lakukan.

 

“BLAAAAAARRRRRRRRRRR”

 

karena terkaget saya pun menjadi tidak konsen dan tidak sengaha menoleh ke arah orang itu. terlihat orang itu sudah berpindah tempat seperti terlepar seiring dengan bunyi itu, begitupun saya yang sudah berada jauh dari pintu. seperti ada dororang untuk terus melakukan apa yang orang itu suruh saya pun melanjutkan apa yang di tugaskan kepada saya.

 

“JDAAAAAAARRRRRRRR”

“aaaaaaaa suara apa itu” ibu ibu mulai teriak.

 

entah respon atau apa, seperti ada dorongan untuk membukaan pintu kamar dan saat itu pula ibu ibu merangsek keluar dari kamar. orang itu pun memberi isyarat kalau pengobatan telah selsai. ada sebuah baskom bersisi air berwarna merah yang kini saya tau itu adalah darah dan beberapa keris kecil karata, beberapa rambut putih, silet karatan dan benda benda karatan. percaya tidak percaya hal ini memang benar terjadi dan saat itu pula saya percaya bahwa santet itu masih ada di jaman yang serba teknologi.

 

gak tau kapan saya mengambilnya di tangan saya sudah ada kain putih lusuh kotor dan sedikit bau. begitu saja tangan saya menyodorkan kepada orang itu seperti sudah di suruh atau apalah saya pun gak ngerti., dengan cekatan orang itu membungkus semua yang ada di baskom itu dengan kain lusuh yang saya berikan.

 

“nanti bapak yang ini sama bapak yang itu bawa ‘pocongan’ ini ke sungai ya, pastikan sampai tenggelam atau hanyut. apapun yang terjadi tetap berdzikir sepanjang jalan dan hiraukan apapun yang membuat kalian gundah” kata orang itu.

 

***

 

[side story]

didalam perjalanan om om saya tak henti berdzikir dan dalam tengah perjalanan.

 

“ar ini kok makin deket ke kali makin berat sih” kata om adit (anggap aja itu namanya).

“udah a jangan di lepasin terus aja dizikir” om ardi (anggap aja itu namanya) mulai menunjukan ketidak nyamanannya.

 

akhirnya mereka pun sampai di kali dan om adit yang membawa pocongan itu membaca ayat ‘sensor’ sebanyak 3 kal sambil menghantamkannya ke air kali yang deras saat itu.

 

***

oke sekian dulu cerita dari saya dan kisah nenek saya gak berhenti sampai di situ saja. bahkan sampai sekarang pun beliau masih merasakan sakit di kaki. sampai di belikan tongkat untuk berjalan semua rumah sakit pun hanya mendiagnosis pengereposan tulang. asal kalian tahu, nenek saya rajin olah raga tiap pagi walaupun hanya di rumah. dan stok susu tulang pun tiap bulan di kasih oleh anak anak nya bahkan saya pun ikut menyetok susu tulang untuk nenek dan kakek saya. walaupun masih besar kemungkinan itu memang penyakit medis tapi dari kejadian yang barusan saya ceritakan pun dapat saya simpulkan bahwa orang tersebut maish menyimpan dendam kepada nenek saya.

 

[spoiler]

cerita selanjutnya akan menceritakan tentang :

  • kungjungan nenek ke rumah dan bertemu anak smp sakti
  • berbubah nya sikap seseorang di lingkungan nenek saya
  • tidak hadirnya nenek saya ke acara penentuan hari pernikahan saya.

 

salam ganteng,

wassalamualaikum Wr Wb

Alhamdulillah