Assalamu’alaikum dan salam sejahtera bagi teman-teman pembaca sekalian. Balik lagi sama Mahes, moga aja gak bosen ya hehehehe. Selamat weekend juga (nulisnya pas hari minggu nih). Cerita kali ini di dedikasikan untuk seluruh ayah dan calon ayah di Nusantara *beut bahasanya*.

Cerita kali ini didapat dari sepupu Mahes sendiri, panggil aja dia Sam. Sekarang umurnya udah menginjak kepala 3 (gak tua-tua banget lah)dan kejadian ini terjadi saat istrinya bang Sam, panggil aja mbak Ayu sedang hamil tua anak pertama.

“Kalo sepupu Mahes udah kepala 3, Mahes sendiri umurnya berapa?” Reader bertanya.

“Ya Mahes mah masih muda, ganteng dan selalu terlihat unyu-unyu *pasang muka semanis mungkin*” Mahes menjawab.

Expresi readers: *Muntah darah*

Lagi males nulis Mbak Cut ah kali ini, lagian orangnya juga gak pernah komen (sakit hati). Kalo penulis lain? Masih sibuk dan masih cukup sulit mungkin untuk menyempatkan waktunya. Atau bisa jadi mereka belum dapet inspirasi buat nulis cerita mistis lagi. Hahahahaha. Oke biarkan Mahes sang penulis yang punya inspirasi tanpa batas ini bercerita.

*ditimpuk sandal swaloow*

*maaf bukan sponsor*

Cukup basa-basi nya, siapkan kopi dan jangan lupa makan makanan yang bergizi tinggi, karena pura-pura bahagia butuh banyak tenaga.

oOo

Pertengahan tahun 2010 aku dan istriku mengontrak sebuah kos-kosan di daerah Setiabudhi. Hal ini ku lakukan karena istriku sedang hamil 7 bulan. Ingin rasanya kembali dan menetap di Subang, tapi melihat ibu yang sudah mulai renta untuk mengurus hal ini, maka pikiran itu ku hilangkan.

Sejujurnya aku bukanlah asli dari Bandung, aku berasal dari Subang dan menetap di bandung sejak 2009 karena alasan pekerjaan, setelah menikah pun demikian, apalagi kali ini istriku sedang hamil besar, butuh perhatian ekstra dari aku, suaminya.

“Mas, kalo pulang tolong bawain rujak mangga ya.” Pinta istriku saat aku baru saja akan berangkat kerja.

“Iya sayang, mau minta apalagi?” tanyaku.

“Udah itu aja, tapi kalo bisa mangga muda.” Lanjutnya.

“Eh….?  Yaudah ntar coba mas cari ke tukang rujak ya?” ujarku membalasnya.

“Usahain dong mas.” Istriku malah pasang muka imut. Duuuh makin gak tega kalo gak kesampean.

“Iya sayang iya, mas usahain.” Jawabku padanya sekalian pamit.

Sepanjang jalan aku mencoba mencari tukang rujak sambil menuju kantor, agar nanti pulang aku sendiri tak kewalahan. Ya seperti inilah kira-kira gambaran suami yang mencari buah mangga muda untuk istrinya yang sedang hamil tua.

Aku tak ingin menceritakan bagaimana kehidupanku di kantor, seperti pada umumnya, berangkat pagi pulang sore. Beberapa deadline, laporan, dan lain sebagainya.

Hari ini aku pulang sekitar magrib, langsung menuju kosan dimana istri menunggu. Sudah berapa kali dia mencoba menelponku dari tadi, mungkin gak tahan ingin mangga muda.

“Sayang, aku pulang.” Ucapku saat membuka pintu kosan.

Aku disambut hangat oleh istriku dan langsung menyerahkan pesanan dia tadi pagi.

“Mas, sekarang kan malam jum’at, bisa tolong gak tidur gak?” Istriku meminta tak lama setelah ia membuka rujaknya.

“Kenapa? Kamu takut kenapa-napa?” selidikku kemudian.

“Iya, serem soalnya, apalagi kamar ini pas banget di depan kuburan.” Jelasnya padaku.

Aku terdiam, mengangguk dan menyanggupi permintaannya. Karena mungkin saja insting seorang ibu lebih kuat dari seorang ayah terhadap keselamatan anaknya.

Malam pun berlalu.

Sesuai dengan janjiku, aku berusaha untuk tetep terjaga meskipun mata ini sangat mengantuk karena kelelahan bekerja seharian. Apalagi besoknya akupun harus tetap masuk kerja.

Saat tengah berusaha untuk tetap membuka mata, ku dengar suara sapu lidi di depan kosan. Sebagai gambaran, kamarku terletak di lantai 2. Mengahadap langsung kuburan warga sekitar, untuk kamar dibawahku depannya dihalangi oleh tembok agar tak langsung melihat ke arah sana.

Suara sapu lidi itu begitu jelas.

‘Srek…srek…srek…’

Seperti sedang ada seseorang yang sedang menyapu halaman. Mungkinkah? Padahal jam menunjukkan pkl 23.15, hampir tengah malam. Aku mencoba mengacuhkannya dan terus menjaga istri dan bayiku. Beberapa ayat suci ku lafalkan, memenuhi kamar ini dengan lantunannya. Setidaknya itu sedikit mengurangi rasa takutku.

23.30 terdengar suara seperti memukul tembok yang ada di bawah, tembok yang menghalangi kamar yang berada tepat dibawahku. Antara rasa takut dan tanggung jawabku sebagai suami dan seorang ayah berkecamuk. Aku kembali mencoba mengabaikan hal itu.

Sialnya aku tertidur  sekitar pkl 23.40 karena mata berat dan kelelahan yang menimpa. Dari sini sebenarnya terror dimulai.

Aku kembali terbangun dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, kembali berusaha menepati janji sebgai seorang suami dan calon ayah. Diluar aku mendengar suara jendela diketuk keras oleh sesuatu. Aku tak dapat melihat karena lampu luar tiba-tiba mati dan lagipun jendela ku pasangi gorden. Tiba-tiba pintu kosan terbuka sendiri padahal jelas sebelumnya aku menguncinya.

Sesosok nenek-nenek dengan rambut putih dan kebaya abu yang lusuh terlihat sedang merangkak pelan ke arahku. Wajah keriput, bola mata tanpa warna hitam, dan rambut yang acak-acakan membuatku terpaku. Segala tenaga yang ku kerahkan untuk mengusirnya tak berguna. Saat itu, aku hanya berfikir untuk bisa mengusir makhluk itu keluar dan menjauhi istri dan anakku.

Secara tiba-tiba nenek itu merangkak cepat, dan berhenti tepat di depan istriku yang sedang tidur kemudian mengelus perut istriku dengan kukunya yang kotor. Aku bisa melihat bagimana rupa keriput di tangannya, wajahnya yang tersenyum menampilkan giginya yang kuning jorok, membuatku bertekad untuk mengusirnya.

Saat aku sudah mulai bisa bergerak kembali dengan tak lepas melafalkan ayat suci, nenek itu mulai masuk ke dalam perut istriku, persis seperti masuk ke dalam air dengan posisi kepala terlebih dahulu. Aku meloncat, mencoba menarik rambutnya.

“Apa yang kamu lakukan? Dasar setan alas! Pergilah atau ku musnahkan kau!” ancamku sambil terus menarik rambutnya dan tetap melafalkan ayat suci.

Nenek itu malah melawan, sehingga aku harus melamparkannya tepat ke arah pintu, rasanya seperti membanting sekarung batu, berat. Padahal dapat kulihat sosok itu seperti ringkih.

Sosok nenek itu kembali merangkak cepat dan langsung masuk kembali ke dalam perut istriku seperti tadi.

Aku kembali menarik rambutnya, tanpa berkata apa-apalagi, aku terus melafalkan ayat suci untuk memusnahkan makhluk itu. Ku dengar raungannya yang serak serta matanya yang terus melotot ke arahku, ada rasa takut, tapi mengingat peranku sabagai kepala keluarga, aku memberanikan diri.

Selang tak lama kemudian ku dengar adzan subuh bersahut-sahutan dari masjid yang tak jauh dari tempatku tinggal.

“Mas, bangun, udah subuh.” Istriku membangunkanku.

Sementara tanganku masih mengepal, seperti memegang sesuatu tepat diatas perut istriku. Rasanya seperti mimpi, tapi rasa pegal tanganku, sendi pergelangan dan bahu seperti habis melempar sesuatu begitu nyata terasa. Keringat dingin yang membanjiri tubuhku serta pintu kosan yang terbuka tak dapat lagi ku jelaskan, apakah yang terjadi itu mimpi atau memang kenyataan.

Tak butuh waktu lama, aku memutuskan kembali ke Subang, menitipkan istriku pada ibu dan mencoba memintanya untuk tidak terlalu merepotkan beliau.  Dengan janji, aku akan pulang setiap 3 hari sekali apalagi di malam jumat.

TAMAT