Assalamu’alaikum dan salam sejahtera bagi teman-teman pembaca sekalian. Mahes punya cerita lama yang beredar ketika mahes sendiri masih muda, ganteng dan unyu-unyunya [meskipun sekarang juga belum tua sih]. Yap! Kali ini Mahes bawa cerita mistis dari kota tercinta, subang! *SFX: tepuk tangan*

“Bang, Subang itu dimana ya? Sebelah mananya Tokyo?” Readers bertanya.

“Kalo dari sini belok ke arah Ciumbuleuit, ambil jalan masuk dari Cicaheum dan nyampe ke Padalarang.” Mahes menjawab.

“Woi! Jangan ngawur! Yang bener kalo jelasin arah!” Mbak Cut ngamuk.

“Ta..tapi mbak, Readers duluan yang …”

“Pokoknya mbak gak mau tahu, maunya tempe goreng dadakan limaratusan, eh … maksudnya di edit lagi yang bener.” Ujar Mbak cut sambil makan tahu  bulat.

Ekpresi Readers & Mahes  -_-

Oke back to topic!

Subang adalah kota sederhana nan asri sebelah utara Bandung, sekitar 2 jam dari Kota Bandung.  Subang sendiri berdiri tanggal 5 April 1948  (dasar hukum UUD No.4 tahun 1968). Subang mempunyai beberapa destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh warga Jawa Barat khususnya. Gunung Tangkuban Perahu yang menjadi saksi bisu legenda Sangkuriang dan Pemandian Air Panas Alami Ciater merupakan 2 dari segudang destinasi wisata yang Subang tawarkan. Mengingat kedua tempat ini yang banyak dikunjungi, jadi Mahes tulis aja disini. Sekalian promosi hehehe…

Nah, udah tahu Subang dimana? Silahkan kunjungi  dan jangan lupa ajak Mahes juga.

Sekarang, kita langsung meluncur ke cerita… cuss……

 

Menurut beberapa sumber yang beredar dari mulut ke mulut masyarakat Subang, kejadian ini berlangsung tak lama setelah kota Subang berdiri. Dengan latar yang demikian, kantor bupati Subang pun masih terbilang sederhana, berdekatan dengan alun-alun dan Masjid Agung Subang. Mungkin dari sinilah awal mula cerita ini dimulai. Jangan lupa juga kalo Belanda sempat datang ke subang dan melakukan Perjanjian Linggarjati di daerah Kalijati-Subang. Seolah mengingat kembali bekas penjajahan jaman dulu yang menyayat hati, cerita ini bisa dibilang dampak dari hal tersebut.

Sebut saja kang Maman, seorang pemuda yang bekerja serabutan pulang larut malam. Mengendarai sepeda ontel tuanya menyusuri jalan utama sendirian. Purnama sempurna menggantung di langit malam, menawarkan cahaya temaram bagi kang Maman dan sepeda ontelnya. Diceritakan saat itu kang Maman berhenti sejenak karena rantai sepedanya lepas, saat itu dia berhenti tepat yang kini menjadi daerah Pasir Kareumbi.

“Kenapa harus lepas disini sih? Kenapa gak lepasnya pas daerah yang agak ramai?” kang Maman menggerutu sambil membetulkan sepeda ontelnya.

Saat dia  tengah asik dengan sepeda ontel tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mengahmpirinya, katanya di sendiri memakai baju kemeja lusuh dan celana pangsit hitam.

“Kenapa kang?” Tanya pemuda itu.

Sontak kang Maman menoleh dan melihat ke arah pemuda itu, karena kang Maman jongkok dan hanya cahaya dari purnama yang menerpa, alhasil wajah pemuda itui samar terlihat olehnya.

“Ini kang, biasa, rantai sepeda saya lepas.” Jawab kang Maman seperti biasa.

“Boleh saya bantu kang?” tawar pemuda itu

“Boleh kang, kalo tidak keberatan ….” Jawab Kang Maman yang melihat wajah pemuda itu saat mereka berdua beratatap muka kala jongkok.

Kang Maman terpaku, pemuda yang ia lihat tak memiliki mata, hidung atau mulut, semuanya rata. Hanya kulit polos di wajahnya. Refleks kang Maman loncat dan lari terbirit-birit meninggalkan sepeda ontelnya karena ketakutan.

Selang bberapa ratus meter, ia berhenti mengatur nafas.

“Dasar jurig siah!” umpat kang Maman.

“Kenapa mang? Kok ngos-ngosan gitu?” ternyata ada pedagang sate (ada juga yang bilang pedagang nasi goreng) lewat dan menyapa kang Maman.

Belum sempat ia menjawab, ia melihat wajah pedagang tersebut juga sama ratanya dengan pemuda yang tadi. Tak ingin ambil pusing, kang Maman kembali lari sambil berteriak.

“Tolong, ada jurig!!”

Merasa kembali aman, kang Maman berhenti tepat di depan kantor bupati Subang yang sekarang. Ia masuk ke aderah itu karena disana sudah banyak bangunan pemerintahan. Ia kembali mengatur nafas dan berusaha menenangkan pikirannya.

“Sial, dua kali ketemu hantu gituan. Nyesel dah pulang jam segini.” Kang Maman menggerutu tak tentu arah.

Sepeda ontel yang ia tinggalkan tak ia hiraukan, bisa diambil lagi setelah hari agak terang. Tak jauh dari tempatnya, ada sebuah becak lengkap dengan sang empunya yang sedang istirahat disana. Karena ada orang, kang Maman berfikir untuk meminta bantuan kang becak tersebut untuk mengantarnya mengambil sepeda ontel yang tertinggal.

“Mang, *punten.” Ujar kang Maman sop[an membangunkian kang becak tersebut.

“Iya **den, ada apa?” Tanya kang becak dengan suara setengah mengantuk.

“Bisa minta tolong mang? Sepeda saya ketinggalan, minta anter mang, saya bayar deh.” Kata kang Maman.

“Boleh den, boleh.” Jawab Kang becak yang mulai meluruskan punggungnya.

“Emang dimana den sepedanya? Terus kenapa bisa ketinggalan?” selidik kang becak

“Saya ketemu hantu muka rata mang, daerah Pasir Kareumbi.” Jawab kang Maman.

“Mukanya kayak gini bukan den?” kang becak membuka topinya dan memeperlihatkan wajah yang dari tadi ia lihat, wajah polos tanpa ada mata, hidung dan mulut.

Di ceritakan kalo kang Maman pingsan atau dibawa oleh hantu tersebut, kabar terakhir simpang siur. Namun seiring perkembangan zaman, cerita ini mulai pudar dan hanya diceritakan oleh para sesepuh yang berusia lebih dari 70 tahun.

Salam mistis dan smpai jumpa kembali!

 

Tambahan terjemahan:

*punten: permisi

**den/aden: panggilan sopan yang merujuk kata ‘raden’ yang berarti orang yang lebih muda yang ia hormati.