Assalamu’alaikum & salam sejahtera bagi teman-teman pembaca sekalian. Bertemu lagi sama Mahes yang siap memberikan rasa horror (lagi) hahahahaha *ketawa jahat*

Kamu lagi KKN? Apa baru mau KKN? Kayaknya setelah kamu baca cerita ini, kamu harus hati-hati deh. Kenapa? Simak aja ceritanya.

Mahes dapat cerita ini dari seorang teman, asli baru aja diceritain langsung ditulis (maklum hobi ya gini). Namanya Cladinea seorang Mahasiswi tingkat 7 dari Jurusan pendidikan IPA, dia berasal dari Universitas negeri dibilangan Setiabudhi.

oOo

Kejadian ini baru saja terjadi sekitar bulan juli 2016, aku dan teman-teman yang lain berjumlah 12 orang dari jurusan yang berbeda mengikuti kegiatan KKN di daerah Cisarua-Bandung, daerah dengan mayoritas petani itu menjadi tujuan kami melakukan KKN selama 38 hari ke depan. Kami dating sekitar pkl 10.00 pagi, disambut oleh Kepala desa dan menunjukkan kami sebuah rumah yang akan kami tempati selama KKN disana.

“Silahkan akang, teteh semua. Ini rumah yang akan kalian tempati selama mengadakan kegiatan disini. Rumah ini cukup besar untuk kalian semua. Memang agak kotor, jadi ya silahkan dibersihkan dulu. Kalau ada apa-apa, silahkan datang ke kantor desa yang tidak jauh dari sini. Jangan lupa nanti magrib untuk dating ke balai desa, kita lakukan pembukaan kegiatan KKN ini supaya warga sekitar tahu tentang kalian ya.” Jelas pak kepala desa panjang lebar

Setelah kunci diserahkan dan diterima oleh ketua KKN kami, pak kepala desa pamit. Terhampar dihadapan kami sebuah rumah megah namun tak terawat.  Banyak sekali tembok yang kusam, rumput ilalang yang mencapai tinggi satu meter. Kami mencoba memperhatikan rumah ini dengan seksama. Sedangkan aku mencoba menenangkan diriku tentang rumah ini, karena sejujurnya aku sangat penakut.

oOo

kami mencoba beradaptasi dengan rumah ini berikut dengan segala keganjilannya. Sedikit gambaran rumah ini berbentuk U dengan dengan sebelah kanan rumah utama, sebelah kiri garasi dan ditengah hanyalah teras biasa dengan satu sofa baru, yang sepertinya sengaja disimpan untuk kami. Total ruangan disini ada sekitar 10 ruangan dengan tapi yang dipakai hanya 4 kamar, dapur, garasi dan toilet yang luasnya cukup untuk menampung 5 orang. 6 ruangan yang lain kami biarkan kosong.

  1. Kejadian pertama

Ini terjadi saat malam sekitar pkl 22.00, kami sedang berkumpul di ruang tengah yang langsung menghadap dapur. Kami bercanda ria hingga menimbulkan suara berisik yang menggema ke ruangan lain, bahkan terdengar hingga ke luar. Tiba-tiba seorang temanku mencium bau sesuatu.

“Eh, kalian cium bau bangkai gak sih?” Tanya Kaka Ani

“Ngga ah teh, mungkin dari belakang kali, kan ada bekas kandang ayam tuh disana , kebawa angin sampe masuk.” Ujar temanku yang lain.

Tapi yang membuatku cukup merinding, salahsatu temanku yang (maaf) tunanetra mengatakan.

“tapi kok disini mah wangi bunga ya?”

Kami terdiam menatap padanya yang duduk membelakangi dapur, disusul mati lampu yang secara mendadak. Seperti terkena pemadaman bergilir. Alhasil kami semakin takut, aku menempel pada salahsatu temanku disebelah berusaha menenangkan diri.

“coba kalian jangan berisik dulu!” terdengar suara ketua KKN kami.

Dan benar saja tak samapi 5 menit, lampu kembali menyala

  1. Kejadian kedua

Di salahsatu ruangan yang tak terpakai ada sebuah mesin cuci tua yang sudah rusak. Didalamnya ada 5 tikus mati, kecoa yang berhamburan serta semut yang sedang mengurubungi bangkai tikus tersebut. Entah kami membersihkannya berapa kali, esoknya bangkai tikus disana akan selalu ada, dengan jumlah yang sama,s eperti telah mati lewat 2 hari, dagingnya yang setengah hancur, tengkoraknya yang sudah mulai terlihat dan semut yang mengerubunginya. Padahal baru kemarin sore kami membersihkannya.

  1. Kejadian ketiga

Saat sore hari menjelang magrib aku baru saja menyelesaikan tugas KKN ku dan pulang ke ruamh itu, disana ada seorang teman sebut saja kang Azim yang sedang mengobrol dengan Kang Deden melihat dari posisinya yang saling berhadapan.

Tapi saat aku masuk, aku hanya melihat Kang Azmi sendirian sedang sibuk memainkan ponselnya.

“Kang Azmi? Kang Deden kemana?” tanyaku

“Dia pergi belanja sama teh Ani, kenapa emang?” sahut Kang Azmi.

“Terus, akang sendirian disini?” lanjutku kemudian.

“iya, kenapa sih?” jawab kang Azmi risih.

“ng..ngga apa-apa kok kang.” Jawabku yang langsung masuk kamar.

Jujur saja aku takut, tapi aku tak ingin menceritakan hal yang aku lihat barusan. Aku tak ingin jika ‘dia’ menggangguku karena aku membahas tentang kejadian itu.

  1. Kejadian ke empat

Desi, temanku yang cukup berani dia tidur sendirian di kamar yang awalnya ditempati sama anak laki-laki. Kata mereka, kamar itu kurang gede, kurang muat buat menampung mereka. Akhirnya mereka pindah. Tapi dari cerita Desi aku tahu sesuatu, mereka pindah bukan karena alasan itu.

Malam itu, saat Desi tidur disana. Ia perlahan merasakan tangan yang menggerayangi wajah hingga ke pinggang. Merasakan hembusan nafas yang hangat di sekitar pundak dan mendengar suara ketawa pelan. Masalahnya adalah kejadian itu terjadi sekitar pkl 02.30 dimana semua orang sedang tertidur lelap.

  1. Kejadian kelima

Ini kejadian terakhir saat malam dimana kami tinggal 1 minggu lagi selesai. Saat itu ketua KKN kami sedang main gitar di ruang tengah yang menghubungkan dapur dan toilet. Mbak Yuni baru saja selesai menggunakan kamar mandi yang langsung bertatap muka dengan Ketua KKN yang sedang main gitar. Ia langsung berlai tanpa mengucap sepatah katapun menuju kamar dan langsung menghampiriku.

“Kenapa teh lari-lari?” tanyaku

“Aku lihat Pocong lagi duduk sama Ketua KKN kita, pas banget di sampingnya.” Jawabnya sambil gemetaran.

Aku tak tahu lagi harus berkata apa, seluruh tubuhku merinding, bahkan saat aku menceritakan ini.

  1. Kejadian terakhir

Kejadian ini terjadi saat aku memasuaki hari terakhir KKN. Saat tengah membereskan semua bajuku untuk pulang esok harinya. Aku menemukan sebuah tas tangan tua bertumpuk dengan beberapa tasku milikku. Aku mencoba menanyakan ke semua orang tapi terrnyata mereka bilang tidak mengetahuinya. Saat dibuka tersebar bau melati, dan berisi sebuah gaun hitam dan tanah merah yang bercecer di lantai saat aku mencoba mengangkat gaun itu.

Sampai hari ini, kejadian-kejadian inilah yang makin membuatku takut. Siapa kira kalau KKN dibalik tugasnya yang membantu masyarakat terselip cerita menakutkan. Sampai hari ini, siapapun yang akan menjalani KKN  aku selalu mengingatkan untuk berhat-hati dan tetap sopan dimanapun berada.

Kabar terakhir yang kudengar dari rumah itu, kucing yang biasanya tinggal di belakang , tepatnya di bekas kandang ayam mati dengan wajah penuh cakaran hingga merobek wajah itu memperlihatkan tulangnya. Padahal kami semua tahu, rumah itu selalu kosong.  Dia mati tepat di dalam dapur. Bukan hanya itu, tidak ada jalan masuk untuk ke rumah itu karena semua jendela terdapat teralis besi. Satu-satunya jalan masuk hanyalah dari pintu depan karena pintu belakang tak lagi dapat dibuka.

Menurut pengakuan Mbak Reni, salahsatu temanku, dia sempat mengagendong kucing itu keluar menjauhi rumah itu hingga ke kantor kepala desa, ia tak ingin kucing itu merasakan kengerian yang kami rasakan.

 

TAMAT