Tak ingin berfikir lagi, aku lari sekencang-kencangnya sambil menarik Imam dan meninggalkan motor. Entah kenapa sosok kunti itu masih mengejar kami sampai sejauh ini. Padahal Tamansari sudah terlewat jauh. Sekitar 100 Meter dari sana, kami berhenti.

“Bang, motor gimana?” Tanya Imam

“Tenang aja, gua bawa kuncinya kok, gak mungkin ada yang ngambil lah.” Jawabku sambil mengatur nafas.

“Trus sekarang kita gimana?” Imam kembali bertanya dengan muka penuh ketakutan.

“Coba berdoa aja, baca-baca ayat suci, kali aja tu setan kabur.” Aku mencoba untuk menawarkan solusi logis

“Ayo deh bang, kita musti berani sekali-kali mah!” Ajak Imam

“Yaudah ayo!” Aku menjawab ajakan itu.

Kami kembali ke tempat dimana motor kami tinggalkan. Mulut kami berdua tak henti-hentinya membaca doa dan ayat suci sambil berharap semoga kunti itu telah pergi.

Dan ternyata……….

Memang benar bahwa sosok itu telah pergi. Ada sedikit rasa lega karena telah lepas dari kejaran kunti itu. Setidaknya itulah yang kami pikirkan.

Motor kembali menyala dengan sedikit paksaan, kami pulang ke kosan dan istirahat, berusaha untuk melupakan kejadian malam ini.

Esoknya Imam sakit demam, setelah dibawa ke dokter, dokter Cuma bilang gara-gara kecapean. Tapi anehnya sudah 3 malam, Imam ini kejang-kejang. Inisiatif mau dibawa ke RS bingung siapa yang mau bayarin. Akhirnya kita putuskan untuk pulang ke Subang, karena setidaknya di subang ada mbak Ayu, kakaknya yang siap untuk ngurus. Secara kalau dibiarkan di Bandung, bingung juga, masalahnya Mahes kan kerja dari pagi sampe malem. Di kosan juga Cuma tinggal berdua. Atas alas an itulah kami memtuskan untuk pulang ke Subang dan biarkan Imam dirawat disana.

Hari sabtu tiba, sudah seminggu lebih Imam masih sakit demam dan kejang-kejang. Jam 17.00 kita berangkat ke Subang pake motor. Bener-bener perjuangan dah, Imam pake jaket 2 lapis dan selimut yang dilingkarkan di seluruh badan. Motorpun hanya berani melaju 60KM/jam kecepatan maksimal, khawatir terjadi apa-apa jika terlalu ngebut.

Jam 21.00 kita baru sampai, karena Mbaknya gak bisa dihubungi, akhirnya untuk malam itu Imam tidur di rumah Mahes. Sedangkan di rumah hanya ada Mahes, Adik yang baru berumur 4 tahun dan Ayah. Imam tidur di kamar Mahes, sedangkan Mahes tidur di ruang tamu menghadap TV.

Lagi asik-asik nonton, sekitar jam 02.30 dini hari Imam teriak-teriak gak jelas, suaranya kayak tersendat, pas dicek ternyata dia lagi megangin lehernya sendiri sambil terus berteriak gak jelas. Wajahnya udah makin pucat, Mahes coba bantu ngelepasin tangannya tapi dia masih seperti tersendat sesuatu. Akhirnya karena berisik dan panic, ayah bangun.

“Ada apa?” Tanya Ayah dengan wajah masih mengantuk.

“Gak tahu nih yah, Imam tiba-tiba kayak gini.” Jawabku masih panic.

“udah sini sama Ayah, kamu dzikir aja sebisanya.” Ujar ayah yang langsung megang leher Imam sambil baca ayat-ayat suci.

Mahes cuma bisa dzikir sebisanya, sambil melihat Imam yang entah kenapa. Sekitar pukul 03.00 hal itu berangsur hilang. Menyisakan suasana mencekam di dalam kamar dan diiringi suara tangisan samar-samar yang menghilang menuju belakang rumah.

“udah darimana kemaren?” Tanya ayah setelah semuanya selesai.

“pulang rapat Yah, lewat Tamansari.” Jawabku.

“disana emang banyak, ini salahsatunya. Terus kenapa Imam jadi kayak gini? Katanya bener dia kencing sembarangan?” Selidik Ayah lebih lanjut.

Aku hanya bisa mengangguk.

“Gak heran kalo dia samape kayak gini, tadi tuh dicekik, makanya ntar mah hati-hati. Makhluk ghaib itu ada. Berbagi dunia dan tempat dengan kita. Hanya dimensi alam yang membedakan.” Nasihat Ayah yang langsung siap-siap untuk menunaikan ibadah subuh.

Selang 3 hari setelah itu, Imam bisa kembali bekerja seperti biasa.

-Tamat-