hai…hai…hai…ketemu lagi sama Mahes di cerita lain lagi neh…hehehehehe. Masih cerita dari Kota Kembang, yapp Bandung!!! angkat tangan siapa yang tinggal di Bandung?

“Cerita sendiri bang?” Readers bertanya

“Bukan, dapet dari temen, lumayanlah buat ngusir bosen & kenangan mantan.” Mahes menjawab (duduk dipojokan, sambil bayangin kenangan masa lalu)

*ditimpuk rame-rame*

“Woi! Jangan gagal move-on disini, jadi gak bikin cerita?” Mbak Cut teriak dari sebrang sana pake kepslok.

Oke, next question!

“Kok Bandung mulu, bang?” Readers bertanya.

“Karena Mahes tinggal di Bandung :) ” Mahes menjawab.

Alasannya simpel aja sih, Bandung? Apa kota ini sedamai namanya? Atau …. ??

udah aja basa basi nya langsung check this out…

Panggil saja namaku Anton, seorang pekerja freelance yang bekerja tak tentu tempat. Bisa saja hari ini aku bekerja sebagai tukang cuci mobil, besok sebagai marketting Donat. Ini ku lakukan untuk menambah uang saku sebagai mahasiswa di perantauan. Aku bukanlah dari Bandung, tapi cukup lama disini untuk bisa mengetahui beberapa tempat rawan yang tidak dianjurkan dilewati saat malam hari khususnya.

ada cerita menarik yang ku dapat saat kuliah dulu.

Siang itu, Kamis dimana semua orang begitu sibuk dengan beberapa tugas dari dosen. Tak terkecuali aku yang tengah berfikir keras dibawah pohon di taman kampus, dihadapanku sebuah laptop, earphone yang terpasang, makanan ringan, minuman soda serta sebungkus rokok.

“..Sial, tugas ini cukup sulit untuk dikerjakan tanpa minta bantuan…” geramku sambil menatap makalah setengah jadi yang terhampar enggan di layar.

Aku masih asyik mencoba mengupas beberapa pembahasan yang malah isinya tak tentu arah.

“Woyy!!!” Suara teriakan keras tak tahu sopan dari sahabatku, Yudi.

“kuamprett!! Gua lagi ngerjain tugas ini…ah elaaah…yuuud.” Kesalku sambil save tugas yang entah kapan selesainya.

“hehehehe..sorry bro, abisnya gua panggil dari tadi juga elu malah asik pake earphone baru.” Ujarnya cuek sambil makan kripik.

“yaaa gitu deh kalo lagi asik ngerjain tugas. Ehh…hutang lo kapan mau dibayar?” Tanyaku.

“ah elaah…malam ini gua bayar, plus ada kerjaan juga buat elu.” jawab Yudi sambil menatap genit padaku.

“setan!! gua normal!!!” Tamparanku jelas mengenai pipinya yang hanya tinggal tulang.

“keras amat! yaudah mau gak kerjaannya?” Tanya dia lagi soal kerjaan.

“kerja apa? asal jangan jadi banci Mc aja kayak malam minggu kemaren -_- ” jawabku setengah kesal.

“jiiiah..tetep aja lo suka bayarannya kan gede waktu itu. jadi gini bro, kita bakal pasang spanduk iklan di pinggir-pinggir jalan. Karena kalo siang bikin macet, kita disuruh pasangnya malem. Surat izin pemasangan ada, bahkan ada polisi yang jaga-jaga di post kalo kita kenapa-napa. Ini kerjaan freelance cuma malem ini doang. Gimana?” jelas dia panjang lebar sambil ngemil krupuk udang yang gue gatau dia beli dimana.

“Oke!” Jawabku singkat.

“Jam 9 malem siap-siap ya? Ada rapat bentar dari pihak perusahaannya, biar tahu siapa aja yang kerja malem ini.” Jelas dia sambil siap-siap pergi.

“beres, kasih tau aja kalo mau jemput.” Ucapku menyanggupi.

“Siap!” Yudi pergi menjauh.

ahh.. sepertinya aku akan kembali dapat uang tambahan nih.
tugas? Biarkan dia istirahat dulu, kesian (kalo gue tulis males ntar orangnya ngamuk).

Tak terasa waktu sudah senja & malam pun kembali lagi.

Handphoneku berbunyi, sms dari Yudi biar siap-siap.

Jam setengah 10 malam kita mulai rapat, ada sekitar 10 orang dengan 5 tim. Masing-masing dari kami mengantongi surat izin, lalu penandaan wilayah buat pemasangan. Jam 10 malam semua personil berangkat.
Aku tentu saja satu tim bersama Yudi, kami menyisir daerah tengah, dimana banyak sekali tempat ramai, lalu diharuskan menuju beberapa taman serta beberapa Universitas yang disekitarnya akan kami pasangi spanduk suatu produk.

00.15 Bandung masih cukup ramai, karena jalan ini jalan utama, serta beberapa warung kaki lima yang buka pada malam hari membuat kami tak terlalu takut pada awalnya.

01.55 Dini hari, mulai sudah terasa berat atmosfer disekitar kami. Apalagi jika melalui jalan ini, jalan alternatif yang menghubungkan 2 Kampus besar di Kota Bandung. Namun, banyak sekali cerita yang beredar tak jelas sumber tentang beberapa penampakan disini. Cukup mengganggu katanya.

Entah aku memang percaya atau memang malam ini karena malam jum’at.
Saat aku sibuk memasang spanduk, aku melihat sesuatu berkelebatan di pohon.
Merinding juga, tapi Yudi tak merasakan apapun, bahkan saat kain putih itu terbang rendah dibawahnya.
Lalu perlahan kain itu terbang ke salahsatu dahan yang agak besar, rambutpun mulai terlihat menjuntai ke bawah bahkan hampir menyentuh badan jalan.
Aku takut, tapi juga terpaku, seolah aku dipaksa melihatnya, bergelantungan di dahan itu, kakinya terayun, sambil sesekali tertawa cekikin.

“…Hihihihihihhhiiiihii…”

Aku coba melafalkan ayat-ayat suci, hasilnya malah gagal.

“Wuuua kuntiiii…!!!!” Aku berteriak menjauh dari tempat itu, setelah sebelumnya dapat bergerak kembali, berusaha keluar dari jalan ini. Yudi juga kaget ia bahkan langsung meninggalkan pekerjaannya & lari menuju motor yang membawa beberapa spanduk.
Aku lari mendahului Yudi yang sibuk menyalakan mesin motor.
Tapi naas, aku tersandung sesuatu.

Sesuatu yang berwarna putih kusam berbentuk panjang.
Sesuatu itu bergerak-gerak, ia menampakkan wajahnya yang hancur.
Diatas kepalanya tersimpul tali yang khas.
Bau busuk menusuk hidung, ketakutan yang luar biasa, sukses membuatku tak sadar diri sebelum bisa berteriak apapun.

Saat sadar, aku tengah berada di mushola. Lalu beberapa orang yang tidak ku kenal mengelilingiku.

“Syukurlah dia sudah sadar.” Ucap salahsatu dari mereka.

tapi aku sepertinya tidak bersyukur, karena makhluk itu sedang tertawa cekikin diluar sana.
tepat disana.
di tempat gelap.
di sudut itu.

“hihihihihihihihi..hhiiii…hhiii….”