Assalamu’alaikum & salam sejahtera bagi teman-teman pembaca semua. Yap! Masih sama Mahes yang menyuguhkan beberapa cerita, soalnya banyak stok cerita, dibuang sayang mending ditulis aja disini. Yaudah selamat berseram ria!

Kamarku, separuh kehidupanku disana. Hampir setiap hari kuhabiskan banyak waktu didalamnya.
Apapun itu, bermain gitar, game, belajar. & yaa aku menikmatinya.

Sedikit tentang kamarku, ukurannya 4×4 M juga ada kamar mandi yang hanya cukup untuk 1 orang, untukku sendiri tentunya.
Kasurku menghadap jendela, jadi saat pagi tiba sinar hangat mentari akan memaksaku bangun.
Disisi lain ada lemari bajuku, terbuat dari kayu jati, warnanya coklat tua, juga ada cermin yang bisa memantulkan seluruh bayangan badan, dengan ukiran indah dipinggirannya.

Malam itu mungkin sekitar pukul 22.00 aku baru selesai berselancar di dunia maya, menikmati beberapa cerita atau hanya sekedar ‘say hi’ dengan teman lama.
Aku rebahkan tubuhku diatas kasur, menatap langit-langit. Memikirkan sesuatu yang sama sekali tak penting.
Aku balikkan tubuhku kearah kiri, menatap lemari baju disana.
Tua tapi kokoh, antik tapi sedikit menyeramkan juga.
Ahh sudahlah… Aku seharusnya sudah bermimpi.

Mungkin baru 10 menit ku pejamkan mata yang lelah. Tapi seperti rambut yang jatuh diatas tubuhku membuatku sedikit terhenyak tapi tak ingin membuka mata. Aku harus tidur, apapun yang terjadi.
Rambut itu bergerak dari perut hingga ke leherku, seketika rasa takut menjalar.
Keringat dingin semakin mengucur deras, aku mulai tak bisa lagi menenangkan tubuhku.
Saat ku buka mata secepat mungkin, sesosok makhluk tengah melayang-layang diatasku, rambutnya seperti mengelus tubuhku yang terbalut piyama.
Lalu sekejap kemudian dia menindihku, sesak, lalu aku tak bisa bergerak.
Dia menatapku, matanya besar, menatapku tajam. Terlintas seperti dendam & mengejek puas melihat ekspresiku.
Aku sangat ingin berteriak tapi seolah suaraku tertahan di ujung tenggorokanku.

Aku berhasil bergerak lalu melompat kearah lemari, duduk didepannya. Mencoba mengatur nafas.
Lalu makhluk itu menghilang entah kemana.
Aku pandang ke atas melihat langit-langit, kosong.
Dia pergi.
Lega aku meyakini bahwa ia telah pergi.
Setidaknya itulah yang aku yakini, sebelum lemariku terbuka & menjulurkan sebuah tangan yang memegang kaki kiriku.
Belum selesai rasa kagetku, makhluk itu muncul perlahan dari langit-langit, aku baru menyadari sesuatu.
Dia tak punya tangan.

“…. Sekarang, aku bisa mengelusmu lagi, bukan dengan rambut seperti tadi….terima kasih.. Kau menemukannya……”

Aku tak bisa bicara apapun, rasanya aku membeku didepannya.

Samar ku dengar suara tawa dan kata-kata terimakasih darinya secara berulang,
sisanya??

Aku tak tahu, tak ingin tahu. Esoknya aku mengunci kamarku sendiri.
Setidaknya dulu itu pernah jadi kamarku.

Jangan bingung, mungkin kau bisa menemukanku di bawah tempat tidurmu.
Atau potonganku yang lain di lemari dan langit-langit kamarmu.