Assalamu’alaikum dan salam sejahtera bagi temen-temen pembaca. Kenalin dulu deh, saya Mahesa boleh panggil Mahes seorang pemuda matang yang udah laku (baca: nikah). Dulu tinggal di Subang & sekarang pindah ke Bandung sejak 3 tahun lalu. Penulis lama (sejak SMA sih; waduh ketahuan umurnya nih) dan hobi cari-cari urban legend di daerah tempat dimana Mahes tinggal.

Oke, cukup segitu aja basa-basi perkenalannya.

Siapa yang gak tahu Jalan Tamansari? Jalan yang membelah antara Kampus besar dan Kebun Binatang ini cukup terkenal di Bandung. Selain karena disana ada salahsatu kampus terkenal, juga karena udaranya yang sejuk tak pelak membuat jalanan ini cukup ramai  jika dilalui siang hari. Di kanan-kirinya berjajar pohon besar membuat kesannya  berubah kala memasuki malam.

Cerita tentang seramnya jalan ini telah menyebar dari mulut ke mulut, mulai dari tukang becak yang dikunjungi wanita cantik berambut panjang, hingga wangi pandan yang menyebar di sekitar jalan ini dan ada sesosok pria yang terbungkus kain kafan tengah berdiri diantara pepohonan membuat jalan ini semakin jarang dilewati saat malam hari.

Tapi penulis sendiri punya cerita. Kejadian ini terjadi di awal September 2014, saat itu Mahes tinggal di Jl. Setiabudhi-Bandung. Tepatnya ketika ada rapat yang mengharuskan seluruh staf cabang Bandung untuk berkumpul di salahsatu tempat daerah Gasibu membahas beberapa program kerja yang sudah berjalan maupun yang tersendat di tahun itu.

Bersama sang Presdir, kami rapat hingga hampir tengah malam. Ditambah divisi yang Mahes pegang adalah divisi yang paling banyak laporan serta beberapa program kerja yang banyaknya tersendat membuat kami benar-benar pulang ke kosan sekitar pkl 23.30 tentunya dengan membawa beberapa tugas revisi program yang nantinya  harus dibahas oleh seluruh staf divisi.

Sesaat setelah rapat selesai, mahes dan teman-teman yang lain memutuskan untuk nongkrong sekedar melepas penat yang sedari tadi berkutat dengan laporan dan program kerja. Kami nongkrong di salahsatu warung kopi belakang salah satu masjid terkenal di daerah jalan Tamansari.

Kami mengobrol dan bercanda bersama teman-teman dari divisi lain. Tak ada yang mau membahas hasil rapat tadi, menurut kami cukuplah untuk malam ini.

“bro, kita balik dulu ya? Udah jam 1 lebih nih.” Ujarku pada teman-teman yang lain.

“yaelah bro, besok juga libur, santai aja kali.” Timpal Anton

“malam jum’at nih bro, lagian cape juga sebenernya.” Keluhku sebagai jawaban

“wajar sih, divisi elu kan yang paling banyak.” Katanya sambil berpaling dan menyeruput segelas kopi.

Kami langsung terdiam sesaat, aku sendiri terbayang banyaknya revisi yang harus dikerjakan bersama staf divisiku. Mungkin teman-teman yang lain merasakan hal yang sama. Entahlah.

Setelah pamitan, mahes dan Imam pulang menuju kosan di daerah Setiabudhi, Karena malas harus putar arah ke arah Gasibu, akhirnya kami memutuskan untuk melewati Jalan Tamansari yang nantinya tembus kea rah jalan Siliwangi agar lebih dekat, tapi ini adalah keputusan yang salah.

“Yakin nih bang lewat sini? Kok perasaan saya mulai gak enak ya?” Imam tiba-tiba berkata seperti itu saat kami mulai melewati gerbang depan kebun Binatang.

“Udah sih, biar lebih deket. Mungkin tadi abis ujan, makanya jadi berasa makin sepi.” Jawabku.

Kira-kira baru saja 10 menit jalan, Imam merengek kembali.

“Bang, kebelet nih, berhenti sebentar dong.”

“Yaudah sono, belakang pohon tuh, biar gada yang liat.” Ujarku sambil menunjuk salah satu pohon besar disana.

Imam menuruti kata-kataku dan mulai menyelesaikan urusannya disana.

Sambil menunggu, aku menyalakan sebatang rokok demi mengusir rasa dingin, lamunku menerawang jauh, berfikir tentang beberapa solusi yang akan diterapkan sebagai revisi.

Dari sini mulai ada yang salah, seharusnya asap rokok menyebar dan hilang diterpa angin, tapi kepulan asap rokok yang aku hembuskan malah berputar pelan dan berkumpul di belakang pohon dimana Imam sedang menyelesaikan urusannya. Awalnya aku mengabaikan hal itu, mungkin kacamataku terkena embun, mengingat dinginnya malam ini atau aku sendiri sudah mulai mengantuk dan lelah hingga melihat hal-hal yang tidak masuk akal.

Sekali lagi, itu bukanlah hal yang aku pikirkan. Kepulan asap itu semakin tebal dan dari kepulan itu muncul sesosok wanita berambut panjang melayang. Wajahnya, benar-benar membuatku takut. Dengan mata besar merah yang melotot ke arah Imam, kukunya yang panjang dan rambutnya yang sangat acak-acakan membuat sosok itu sangat lekat dengan nama Kuntilanak!

Aku cepat menghidupkan motor dan langsung melesat meninggalkan Imam di belakang.

“Bang! Tungguin!” teriak Imam sambil membetulkan resleting celananya.

“Buruan! Ada itu!” aku tak berani menyebut namanya hanya telunjuk yang ku arahkan ke belakang Imam yang sedang berlari.

Seketika pula, Imam menoleh ke belakang, setelah itu dia berlari sambil berteriak.

“Ajig! Kunti!!!!” teriakannya keras begitupun larinya bahkan sampai meninggalkanku yang sedang duduk diatas motor.

Aku cepat menyusulnya.

“Buruan naek!” perintahku.

Imam menurut dan kami langsung tancap gas sekencang mungkin hingga tak ada yang bersuara karena takut.

Aku mengambil jalan kea rah Cipedes agar cepat sampai, itu juga keputusan yang salah yang kubuat malam itu. Motor yang baru seminggu di servis, tiba-tiba mati.

“kenapa bang? Bukannya bensin masih penuh?” Tanya Imam.

“Tahu nih, padahal udah di servis juga.” Aku turun mengecek bagian mesin motor.

Saat aku jongkok dan Imam di sampingku, samar-samar bau melati tercium. Tapi sepertinya Imam tidak menyadari hal itu. Aku terdiam, fokus pada motor dan tak ingin membuat keadaan semakin mencekam.

“Bang, tadi kunti kan? Kok mukanya gitu banget? Liat gak tadi ada taringnya?” Imam bertanya tapi masih fokus mengarahkan senter handphonenya ke mesin motor.

“jangan diomongin dulu!” bentakku padanya.

Imam terdiam sesaat, tapi kembali lagi dia berujar.

“Bang, cium wangi bunga melati gak?”

Aku terdiam, menolehnya dan mengangguk. Saat itu pula aku melihat sosok kunti itu duduk di jok paling belakang motorku sambil tersenyum seram.

 

Dan akhirnya aku pun ……………..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

~Bersambung~