Kembali lagi bareng Mahes, ya sambil nunggu kelanjutan cerita Urban Legend Bandung: Hantu Jalan Tamansari, ada baiknya diselingi sama cerita ini. Ini fiksi kok, tenang aja. Cukup terkenal gaya penulisan seperti ini katanya disebut Creepypasta. Ya nikmati saja!

namaku jack, 22 th pekerja. Aku masih tinggal bersama ibu, bukan karena manja, ibu juga seorang pekerja di sebuah restoran sebagai kasir. Sedangkan Lily, adikku baru berusia 5 tahun. Dia masih kecil untuk mengetahui apa yang terjadi pada ayah.

3 tahun lalu kecelakaan menimpaku & ayah. Mobil yang kami tumpangi dihantam keras hingga jatuh meluncur ke jurang. Ayah hanya mengkhawatirkanku, sehingga ketika sabuk pengamanku tak juga lepas padahal api mulai menjalar hebat hingga masuk ke dalam mobil. Ayah berusaha melepaskanku, sesaat setelah aku terlepas, ayah malah tersangkut kakinya karena menolongku.
Aku segera berbalik ingin kembali menolongnya, namun ledakan hebat menghantamku. Entah apa yang terjadi, namun ketika sadar aku telah terbaring di rumah sakit.

pagi di musim panas, aku harus bekerja pagi ini & ibu yang giliran menjaga Lily. Kami tak cukup uang untuk menyewa seorang pengasuh. Jadi, ini adalah jalan terbaik yang bisa kami ambil.

“Kau sudah sarapan Jack?” tanya ibu saat melihatku bersiap.

“aku akan sarapan di tempat kantor bu, aku telat. See you, Love you.” ucapku sambil mencium ibu & Lily kemudian mengendarai motor menuju tempat kerja.

aku tak ingin menceritakan bagaimana kehidupanku di kantor.
yaa seperti yang lainnya, para gadis yang bergosip ria, atasan yang tak tahu diuntung, rekan kerja bermuka dua. Sungguh membosankan.

namun suatu hari, aku mendapat sesuatu yang cukup aneh.

kaset itu tergeletak begitu saja, entah milik siapa. warna hitam polos tanpa ada nama atau gambar apapun di covernya.
sesaat penasaran, oh god milik siapa ini? kenapa ada di laci mejaku?
saat ku buka & melihat isinya, ada sekeping CD polos.
okelah, mungkin setelah pulang kerja aku akan mengeceknya di rumah.

“Aku pulang!!” teriakku yang langsung disambut pelukan Lily & kecupan ibu.

“apa kabarmu hari ini nak?” tanya ibu sambil menyiapkan makan malam.

“yah seperti biasa, sama sekali tak ada yang berubah atau istimewa.” jawabku sekenanya.

“aku perlu crayon baru!!” rengek Lily.

“baiklah, bagaimana jika weekend kita akan membeli crayon baru untukmu?” tanyaku padanya.

“yeeeay…!!” teriaknya senang sambil melompat.

usai makan malam, aku naik ke kamar & masih penasaran tentang kaset yang aku temukan tiba-tiba.

aku mulai ambil laptop & memasukannya ke CD room.
sesaat loading.
lalu ada tulisan yang jelas membuatku kaget.

‘ ADAKAH SESEORANG YANG KAU BUNUH MALAM INI, JACK? ‘
YA/TIDAK

apa ini? sekedar leluconkah? bagaimana kaset ini mengetahui namaku?

aku tekan ‘TIDAK’

lalu ada tulisan lagi yang muncul.

‘ BAIKLAH JACK, SELAMAT MENONTON! ‘

aku sedikit tertawa ternyata ada musik khas opening dari acara masa kecilku, teletubies.
Tinky Winky dengan warna ungu yang khas lalu badannya yang paling besar, tapi menyukai tas & rok balet seperti perempuan.
Dipsy si hijau & topi panjangnya.
Lala, si kuning yang menurutku paling manja diantara tubies yang lain.
Po si kecil merah dengan skuter kesayangannya.
seperti bernostalgia.
tapi lama kelamaan ada hal yang semakin aneh dari ini.

layar semakin zoom pada masing-masing tubbies, wajah mereka mulai berubah secara perlahan.
Po tanpa mata & hidung, hanya mulut menyeringai,
Dipsy, antena yang berubah menjadi sabit,
Lala, wajahnya seperti dijahit,
lalu terakhir, Tinky Winky, ia berubah menjadi tengkorak.

mereka berkata, “BERPELUKAN…!!” lalu layar berubah menjadi statis.
kau tahu matahari dengan wajah bayi di teletubies?
disini mereka mencabiknya.
masing-masing memotong anggota tubuh bayi itu & memeluknya erat.
tangan, kaki, dipeluk dipsy.
badan, dipeluk Po
kepala dipeluk Tinky Winky
& Lala yang tengah merobek kulit bayi itu.

seketika aku ingin muntah.
namun semuanya mulai seram saat ku dengar suara nyaring dari luar kamar ku.
tepatnya suaranya dari dapur.

“BERPELUKAN!”

~END~