Penulis : MZ

Menceritakan kisah ini seperti memanggil mereka kembali dalam keidupanku.
November 2015 aku resign dari kantor tempatku bekerja selama hampir 8 tahun dan pindah ke kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Karena hendak mengurus surat-surat untuk pernikahanku, juga karena orangtuaku pindah ke kota minyak itu.
Tibalah hari aku datang ke rumah itu, rumah yang kini ditinggali orangtua dan adik kecilku yang duduk di kelas 5 SD. Rumah itu terdiri dari 2 lantai yang posisinya tepat berada di samping tanjakan letter L. Lantai 1nya tepat berada disamping turunan, dan balkon lantai 2 berada lurus dengan tanjakan karena balkon itu dipanjangkan melewati samping rumah.
Tidak ada yang terlalu menarik dari rumah itu, tampak seperti rumah lain pada umumnya. Yang aneh hanya lantai bawah itu tidak pernah dihuni bertahun tahun lamanya. Padahal di lantai itu ada ruang tamu, kamar, dapur bahkan kamar mandi. Tapi orangtuaku tak pernah menempatinya, kecuali ada acara atau bila air pam tidak kuat naik ke lantai 2. Aku pun baru tau juga, selama ini setiap masuk rumah biasanya langsung lewat balkon lantai 2. Hanya abi saja yang sering lewat bawah setelah memarkir kendaraan.
Ada apa sebenarnya…
Kita flash back sejenak mengenang hal-hal yang pernah dialami keluargaku di lantai 1 itu.
Fari, sepupuku yang tomboy dulu sering tidur di kamar yang berada di lantai bawah itu. Awalnya biasa saja tanpa ada gangguan, hingga suatu hari ketika semua orang di rumah sedang pergi. Fari yang saat itu ada di dalam kamar tiba-tiba tidak bisa keluar kamar karena kamar terkunci dari luar. Dengan suara seperti hendak menangis dia menelpon baby sitter yang kebetulan tetangga, untuk membukakan pintu. Sejak itu dia tidak pernah lagi tidur di kamar itu.
Najwa, adik perempuan Fari pun sering bermain di lantai bawah, tapi kemudian ia pun jarang bermain lagi disana. Dia bercerita pernah sekali melihat potongan tangan di pintu kamar lantai bawah.
Ummiku, suatu malam ketakutan karena melihat tangga yang menghubungkan lantai 1 dan 2 bergerak-gerak seperti ada yang menggoyang-goyangkannya. Saat itu ummi berdua saja dengan adik, karena abi pergi ke India dan Pakistan selama 4bulan. Alhasil beliau ketakutan setiap malam dan tidak mau lagi ke lantai bawah tanpa ditemani.
Tanteku, Ibu dari Fari dan Najwa dahulu sering menemukan ada ular kecil ditangga.
Tetanggaku mengaku pernah melihat monyet hitam di depan rumah (lantai bawah)
Begitulah yang pernah mereka alami.. Selebihnya biarlah jadi masa lalu.

Menceritakan kisah ini seperti memanggil mereka kembali dalam kehidupanku.
Hari-hari pertama kulalui dengan perkenalan-perkenalan dengan mereka. Sejak dulu, setiap aku tidur pertama kali di bangunan baru, aku selalu saja berkenalan dengan mereka. Perkenalan yang kadang sedikit canggung dan mengagetkan. Begitupun dalam kisah ini, canggung, mengagetkan, juga penuh teka teki.
Sudah kulewati perkenalan malam pertama. Tapi bila hanya itu saja, maka dugaanku salah, karena banyak perkenalan yang menanti di balik tirai tidurku. Suatu sore aku sedang memasak di dapur lantai dua yang bersebelahan dengan gudang. Ummi berkata padaku, hendak ke depan mencari adik untuk menyuruhnya mandi. Sementara abi sudah pergi ke masjid sejak ashar. Sedang asik memasak aku melihat seseorang melintas masuk ke gudang. Pasti itu ummi, pikirku. Dengan polosnya aku masuk ke gudang, dan memanggil ummiii… Hanya udara kosong yang menyambut kehadiranku, dan ruangan gelap. Deg.. aku terpaku sekian detik hingga akhirnya ke luar gudang dan menemukan ummi baru masuk ke dapur. Berceritalah aku kepada ummi tentang yang baru saja terjadi. Ummi pun berkata “ Kenapa sore-sore sudah pada keluar. Tuman” (Tuman bahasa jawa yang mungkin artinya seperti nakal, kebangetan, kebiasaan, dsb). Beberapa saat setelah itu ummi mengeluh pening dan sakit kepala.
Malam harinya, ummi menemani adik tidur di depan tv di ruang keluarga, aku pun ikut tidur tiduran di sampingnya. Sementara abi sudah tidur di kamar. Kadang aku lebih suka terjaga daripada memejamkan mata ini, karena kadang aku lebih takut dengan apa yang kulihat saat memejamkan mataku. Beberapa saat setelah menutup mata, aku melihat sesosok wanita tua, dengan rambut putih yang menghiasi kepalanya menyeringai marah kepadaku, dan melotot. Tatapan matanya seolah membuat tubuhku kaku tak bergerak, dari mulutnya ada leleran berwarna merah diantara giginya yang kuning kehitaman. Masih dengan bodoh aku mengira ia sedang menginang. Tapi yang membuatku naik pitam adalah posisi nenek itu. Ia berada di kepala ummi, sambil kedua tangannya menyengkram erat kepala ummi dan kakinya bergelantung di leher ummi. Rasany a ingin ku tusuk-tusuk wajah tua makhluk yang tak sopan itu . Dia terus saja menatapku dengan pandangan marah dan tidak senang. Dengan gerakan berat aku mengucakan Laaillahailallah. Dan tangan kiriku memukul lantai dengan keras sambil berteriak Metuuuu!!! (artinya keluar) sosok itupun menghilang.
Berganti wajah ummi yang keheranan, dan Suara abi dari dalam kamar. Kenapa nduk? Seru abi.
“ndak papa, ndak papa” jawabku singkat. Dan segera bertanya kepada ummi bagaimana sakit kepalanya. Ummi pun berkata bahwa kepalanya sudah terasa ringan dan tidak pening lagi.
Alhamdulillah, syukurlah..
Esok harinya perkenalan itu sudah melewati batas, bahkan cukup mengganggu menurutku.
Kala itu sekitar pukul 3 dini hari aku terbangun dan hendak buang air kecil. Ku liat sebentar ummi dan adik yang sudah tertidur pulas. Segeralah aku menuju kamar mandi, tidak ada yang aneh selama aku di kamar mandi. Tetapi ketika membuka pintu kamar mandi hatiku mencelos, dan terpaku.. di pintu luar kamar mandi aku melihat sepotong tangan berwarna gelap ke abu abuan dengan cakarnya yang hitam, sedang mencakar pintu luar, lantas terus mencakar hingga berpindah ke dinding dan bergerak turun di dinding sebelah tangga ke lantai 1. Tangan itu hanya sampai pergelangan saja, aku sendiri karena kaget tak bisa memastikan sebelah kanan atau kiri. Tetapi setelah aku mengingat gerakannya aku yakin itu sebelah kiri.
Aku masih mematung di atas tangga yg menurun itu, sekoyong koyong kupukulkan tangan kananku ke dinding dengan keras berkali kali, dan potongan tangan itu menghilang. Lalu terdengar suara ummi dan abi terbangun . “Kenapa malam malam mukulin dinding nduk?” teriak abi dari dalam kamar.
“Ada tangan di kamar mandi” jawabku tak kalah kerasnya..
Aku pun melanjutkan tidur dengan susah payah karena teringat kejadian tadi , tangan itu bukanlah tangan sosok nenek yg pernah mengganggu ummi. Ini sosok yang berbeda. Aku masih Terus berfikir hingga akhirnya tertidur, tapi setelah tertidur aku justru bermimpi aneh. Aku melihat tempat yang tergenang air, tumbuhan-tumbuhan, lantas sebuah pohon besar yang dirambati tanaman parasit. Lantas ada suara yg tak kulihat wujudnya berkata yg intinya tolong carikan gelondongan kayu itu. Mimpi apa ini aneh sekali, untuk apa aku mencari kayu gelondongan, pikirku setelah terbangun..
Dan Malamnya om dan tante berkumpul dirumah, mendengarkan cerita ummi dan abi. Kebetulan om dan tante lebih dulu tinggal di perumahan itu. Aku pun ikut duduk di ruang keluarga, setelah bercerita panjang lebar aku pun menyempatkan berkata. “Aku tadi subuh disuruh nyariin kayu gelondongan kenapa ya?” padahal aku hanya menyampaikan mimpi yang aneh saja.
Tapi tanteku tiba-tiba menjawab “ Oiya, dulu… sebelum rumah ini dibangun, ada pohon besar dibawah. Ditebang dan dijadiin ruang tamu lantai bawah itu. Ada bapak bapak bilang ke tante gini ada pohon besar ya yang ditebang disitu, ada sesuatu nya”
Aku pun terdiam mendengar cerita tante.
Tak lama kemudian om dan tante pun pulang. Tinggalah aku, ummi dan adik di ruang tamu. Dari ruang tamu aku bisa melihat pintu kamar mandi dan anak tangga ke bawah. Saat itu pintu kamar mandi setengah terbuka. Masih sekitar pukul 11 malam saat aku alihkan pandanganku ke pintu kamar mandi.
Hah… apa itu?!
Lagi lagi aku melihat potongan tangan yang kemarin , tapi kali ini dia merayap di lantai dan masuk ke kamar mandi. Aku berteriak kepada sosok itu. Heyyyy!!!
Yang otomatis membangunkan abi di kamar dan mengagetkan ummi. Sementara adikku sudah pulas.
Abi bertanya ada apa lagi. Yang segera ku jawab “ itu tangan yang kemarin masuk ke kamar mandi”
Mendengar perkataanku abi segera mengecek ke kamar mandi, nihil beliau tak melihat tangan itu. Lantas abi membuat kopi dan duduk lesehan di depan kamar mandi, berencana menunggu tangan jahil itu keluar. Tapi hingga hampir jam 3pagi potongan tangan itu tak menunjukkan dirinya. Aku pun juga ikut tiduran di lantai yang tepat dimana tangga berada. Rupanya abi sudah ngantuk dan pindah tidur di kamar. Tinggalah aku sendirian tiduran sambil memegang sapu lidi yg biasa ummi pakai untuk membersihkan tempat tidur. Menunggu menunggu taka da apa apa disini.
Beberapa menit barulah aku sadar, ada kehadiran tapi di ruang tamu. Aku tau ia berada di atas lemari. Aku pun bergegas ke ruang tamu, tapi sesampainya diruang tamu aku tidak merasakan kehadirannya lagi. Aneh sekali.. sungguh aneh. Begitu cepat dia menghilang. ah mungkin perasaanku saja. Ku lihat ummi masih terbaring nyenyak. Aku pun kembali ke kamarku. Ternyata apa yang aku lakukan ini salah besar. Karena beberapa menit kemudian ummi berteriak-teriak “Allahu akbar, Allahu akbar, Lailaha Illallah” Aku berlari ke ruang tamu sambil berteriak ummi! Ummi! Ummi! Teriakanku sampai didengar tetangga sebelah. Ku lihat ummi memegang lehernya sendiri, dan kepalanya bergerak ke kanan ke kiri. Ku goyang goyangkan tubuh ummi, sambil memanggil namanya dengan marah. UMMI!!! Barulah ummi tersadar dan kembali menjadi dirinya sendiri, dan melihat aku sudah disampingnya. Abi juga menyusul dengan terkaget kaget.
Segera ku ambilkan segelas air dan memberikannya kepada ummi. Dengan terbata bata beliau bercerita ada tangan yang mencekiknya sampai ummi tak bisa bernafas. Aku dan abi berpandangan,, seakan kami sepakat bahwa ini tak bisa dibiarkan lagi. Kami pun tak tidur sampai pagi. Bahkan paginya tetanggaku bertanya kenapa kamu tadi malam teriak teriak. Aku hanya menjawab ada yang menganggu ummiku.
Ayah pun meminta bantuan om untuk dicarikan ustadz yang bisa membersihkan rumah. Hari itu om ke tempat ustadz tersebut tapi beliau tak bisa datang hanya memberinya garam untuk ditaburkan ke sekeliling dan ruangan ruangan di rumah. Dan menyuruh menbaca surat tertentu, sebanyak hitungan tertentu juga. Sorenya ayah menaburkan garam itu ke sekeliling rumah, ke setiap sudut, juga ke ruangan ruangan. Om dan tante juga membaca surat-surat.
Setelah proses pembersihan aku merasa energi dirumah menjadi lebih ringan. Kamar dilantai bawah yang tidak pernah ditiduri pun sekarang aku tiduri bersama sepupuku. Yang membuatku tersenyum ketika esoknya abi bercerita bahwa malam itu ia bermimpi seseorang berpamitan kepadanya , orang bertubuh sangat gelap, dan setelah abi lihat tangannya, tanganya hilang sebelah. Begitu juga tante, ketika selesai sholat beliau melihat seorang nenek terduduk bersandar di dinding dengan muka tertunduk sedih. Ah rupanya mereka berpamitan. Tapi kenapa mereka tak berpamitan kepadaku.. mungkin aku terlalu galak hhhaaa..

Begitulah, menceritakan kisah ini, seperti memanggil mereka kembali dalam kehidupanku.