Hai, kawan! Sudah lama aku tak menyapa kalian. Sudah lama pula aku tak menuliskan cerita seperti dulu. Itu semua karena aku lakukan karena kesal kepada orang-orang yang menyalin tulisanku tanpa menyertakan namaku sebagai penulis. Ingin sekali aku melabrak mereka tapi apa daya aku tak bisa melakukannya. Nah, sekarang aku ingin kembali menuliskan cerita. Tuliskanku mungkin tak bagus, jadi mohon dimaklumi ya…

Setelah lulus kuliah, aku bekerja di sebuah lembaga bimbel yang mengusung tema islami di wilayah kota Bandung. Aku bekerja di sana sebagai seorang pengajar matematika karena memang basic-ku adalah matematika. Sekitar 1,5 tahun aku bekerja. Selama itu pula ada beberapa pengalaman mistis yang dialami olehku, pengajar lain, ataupun staf di tempatku bekerja.

Sebuah rumah bermodel kuno -mungkin peninggalan belanda sebagaimana penuturan orang-orang disekitar- disewa untuk dijadikan sebuah kantor sekaligus tempat mengajar anak-anak. Saat proses renovasi, aku berkesempatan untuk melihatnya. Ternyata suasananya lumayan membuat bulu kuduk berdiri bagi mereka yang memiliki jiwa penakut. Namun setelah renovasi selesai dan telah dijadikan tempat bekerja, kesan angker itu lama-lama menghilang. Terlebih lagi, mungkin karena para pegawai yang berdedikasi islam. Hampir setiap hari aku mendengar mereka melantunkan ayat suci Al-Qur’an di kelas masing-masing saat tidak ada KBM. Jadi, setan mana yang berani menampakkan diri?! Padahal orang-orang sekitar mengenal rumah itu angker bahkan pemilik rumah pun berkata demikian.

Setan tetaplah setan. Mereka mencuri-curi waktu. Menyelidiki kapan manusia lengah, baru mereka beraksi. Adalah Ucup, seorang OB yang sering menginap di kantor. Ia bercerita padaku bahwa suatu pagi sekitar jam 8-an di hari Ahad, ia bersantai di sebuah kursi sambil menatap kaca jendela yang berhadapan dengan gerbang masuk rumah. Di tengah kesibukannya memainkan smartphone, sudut matanya menangkap sesosok bayangan yang menyelinap masuk melalui gerbang yang sedikit terbuka itu. Dengan sigap, ia pun segera menatap bayangan tersebut. Ia menyangka bahwa itu adalah orang yang berniat tidak baik. Bayangan itu hitam legam sebesar anak kecil berumur 10 tahunan. Bayangan itu menyelinap masuk dari celah sempit gerbang lalu berlari dengan kecepatan tinggi ke pinggir rumah. Ucup berlari. Bermaksud mengikuti bayangan itu. Tapi sayang, bayangan itu menghilang. Sirna.

Ucup memeriksa gerbang. Melihat seberapa besar celah yang ada di gerbang itu. Ternyata, celahnya sungguh sempit. Mustahil orang sebesar itu bisa masuk. Ucup pun sadar bahwa mungkin bayangan yang dilihatnya bukanlah manusia melainkan setan yang berusaha menakut-nakutinya.

Kisah lainnya ialah yang berasal dari bapak QC. Pada suatu senja di hari Sabtu, beliau datang ke kantor untuk mengambil beberapa berkas penting. Saat beliau tiba di pintu gerang, beliau bertanya pada penjaga warung di depan kantor apakah Syem –salahsatu OB selain Ucup- ada di kantor. Penjaga warung itu berkata, “Tadi saya lihat dia keluar, mas. Tapi coba periksa dulu saja, mungkin dia sudah pulang!”. Beliau pun masuk kantor dan mengetuk-ngetuk pintu tapi tak kunjung ada jawaban. Maka beliau pun mengintip dari jendela. Memeriksa apakah ada orang atau tidak. Tak dinyana, beliau melihat sepasang kaki sedang selonjoran di lantai dekat meja mushalla. Beliau kira itu adalah Syem. Pintu pun kembali diketuk supaya pintu dibukakan. Tapi, sepasang kaki itu tetap tidak beranjak. Tidak ada pilihan lain, beliau pun membuka pintu kantor dengan kunci cadangan. Saat dibuka dan masuk ke dalam, tidak ada orang. Sepi. Tiba-tiba Syem pun datang, beliau bertanya, “Kamu darimana? Tadi saya ketuk-ketuk nda’ dijawab”. “Saya tadi habis makan di luar, Pak. Maaf”, jawab Syem. “Lha, lalu tadi sepasang kaki yang selonjoran itu siapa?”.

Selanjutnya, kisahku. Aku sedang mengajar di malam hari sekitar jam 8-an di hari kamis. Tiba-tiba sudut mataku menangkap sesosok bayangan hitam sebesar kucing melesat masuk ke dalam kelas. Spontan aku pun berteriak pada siswa yang ku ajar, “Awas ada kucing! Itu kucing mau kemana, sih?”. Muridku itu membalas bahwa ia tidak melihat apapun. Aku memeriksa berkeliling. Ternyata benar. Lalu aku pun berkomentar, “Oh, I know…”. Muridku itu bertanya padaku, memangnya ada apa. Aku pun hanya menjawab tak ada apa-apa agar muridku itu tidak ketakutan.

Itulah sedikit kisah yang ingin aku ceritakan pada kesempatan ini. Yah, begitulah kisahnya, tak ada satu pun penampakkan yang menghebohkan. Aku sendiri pernah menginap beberapa malam di kantorku itu. Itu semua aku lakukan karena mandapatkan kabar bahwa salah seorang guru pernah diganggu saat menginap di kantor bersama OB. Rambut guru itu seperti ada yang memainkan serta telinganya seperti ada yang menjewer hingga guru itupun terbagun.

Aku menginap di sana. Aku begadang sendirian di tengah rumah sampai dini hari, sekitar jam 3-an. Sedang OB tertidur dengan pulas di mushalla. Untuk mengusir kebosanan, biasanya aku mengerjakan tugas dan bermain komputer. Aku tak melihat apapun yang aneh, apalagi menyeramkan. Paling, aku hanya mendengar seperti suara orang yang berbisik-bisik. Aku hiraukan saja itu. Mungkin benar apa yang aku baca di sebuah buku bahwa mereka (setan) hanya menampakkan diri pada orang yang menyimpan rasa takut terhadapnya. []