Penulis : Amalia Nurin

 

Kejadian ini dialami keluargaku di saat kami sedang bertempat tinggal di Padang, Sumatera Barat. Jadi di rumah kontrakan kami ini lumayan horor juga. Hampir setiap tengah malam, bibiku kebangun krn mendengar suara tangisan dari dalam kamarku dan adikku (saya dan adik masih sd jadi sekamar berdua). Setiap denger suara itu, bibiku pasti membangunkan mamaku, lalu mama dan bibi selalu mengecek ke dalam kamarku tetapi tidak ada yg menangis antara aku dan adikku. Hanya saja suara tangisan itu nanti akan muncul lagi dan lagi.

Nah, aku sempat tidak percaya dg cerita dari mamaku. Hingga suatu malam terjadi hujan badai, tiba2 lampu hampir sekota Padang padam. Di rumah hanya ada aku, adikku, dan mama (papa sedang di luar kota). Aku dan adikku memutuskan untuk bermain boneka, lalu karena kami mulai bosan dan lampu tak kunjung nyala, kami berduapun bertengkar krn berebut boneka. Mamaku marah karena lelah, lalu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar meninggalkan aku berdua adikku di ruang tengah.

Kami berdua langsung berhenti bertengkar. “Kak ade ngantuk, tidur yuk” kata adikku. “Iya de, kita solat dulu ya baru tidur” aku mengiyakan permintaannya.

Kami berdua langsung mengambil wudhu dan bersiap untuk solat isya. Aku menjadi imam untuk kami berdua. Saat takbir pertama, samar2 terdengar suara tangisan di sebelah kamarku yg mana bersebelahan dg kolam ikan. Suara tangisan itu semakin lama semakin jelas. Akupun mengeraskan bacaan solatku untuk menutupi suara tersebut. Suara tangisnya terdengar berbeda dan menyeramkan. “Huhuhu… Huhu… Huhuhuhu” suara itu terus terdengar makin kencang seiring dengan semakin kencangnya bacaan solatku dibacakan. Hingga akhirnya di salam pada rakaat terakhir, suara itupun menghilang.

Aku dan adikku ingin menangis saking takutnya, kami berdua berpelukkab dalam kamar. Tiba2 mamaku berlari ke kamar kami berdua. Memelukku erat serta adikku. Mamaku bilang, “makanya kalian jangan berantem lagi ya kalau lagi mati lampu begini.” Kamipun langsung menangis ketakutan dalam pelukan mama dan berjanji tidak ingin bertengkar lagi.

Setelah itu, kami memutuskan untuk tidur sekamar bersama. Tidak lama setelah kejadian itu, lampu pun menyala kembali. Kamipun bisa tidur dengan tenang.

Sampai saat ini aku tidak pernah lupa kejadian ini, sayangnya adikku karena waktu itu masih terlalu kecil jadi tidak begitu ingat betul dengan kejadian ini. Waktu itu kalau tidak salah dia masih sd kelas 1. Kami bersyukur sekali setelah pindah dari situ.