Penulis : Abdell Ridhlo

Sesuai judulnya, kejadian ini saya dan ke 2 saudara saya alami di P.Sempu kab. Malang. Sekitar 2 tahum yg lalu 2 saudara saya dari bandung datang ke kota malang dan ngebet banget mnta tlong saya untk mengntarkannya ke pulau sempu.
Pada malam harinya saat kami ber 3 camping di laguna pulau sempu terasa sangat normal dan tidak ada kejadian satu apapun, mungkin karena emang saat kami mendirikan tenda sudah meminta ijin dg tulus supaya dapat bermalam di tepi laguna tsb.
Buat teman” disini yg mungkin pernah trip ke p.sempu pasti tau kan segimana ekstranya perjalanan menuju lokasi laguna, sepanjang tracking perjalanan daerah hutan hujan tropis dg tanah yg lembab (cenderung berlumpur) dan chaya matahari yg susah menembus ke tanah.
Skip aja ketika kami selesai packing semua peralatan kami memutuskan berenang ria di laguna tsb smpai skitar pukul 14.00 kami berbegas kembali pulang menuju pintu keluar pulau yg berjarak skitar 3-4 jam dr laguna.
Di tengah perjalanan kami pulang skitar pkl 15.30 saudaraku ada yg kebelet buat buang hajat besar, tanpa pikir panjang dia lngsung menuju balik gundukan tanah yg tingginya skitar 3m dan minta kami menunggunya.
Perjalanan kami lanjutkan kembali, tapi belum lama stelah itu kami mulai mnyadari jln yg kita lewati terasa asing, dan tanah setapak di depan kami seperti perlahan menipis hilang bekas jejak kaki orang berjalan, kami mulai bingung meski kami mencoba tidak panik walaupun persediaan air minum tinggal stengah botol yg 1,5lt.
Kami berfikir kalau harus memutar balik pasti akan memakan waktu lagi dan tidak akan sempat sampai batas waktu penjemputan perahu.
Di saat itu tiba” ada 2 org laki” yg membawa tas carier layaknya org camping yg saya kira skitar umur 25-30an berjalan dari balik pohon besar t4 kami istirahat sejenak saat bingung.
Tanpa curiga kami langsung bertanya “Permisi mas, sampean tau jalan pulangnya kah?”.
“Iyo tau, ayok ikut saja wes” katanya dg santai.
Kami langsung bergegas mengikutinya, tapi karna posisiku yg paling belakang dr 5 org ini, jadi saya tidak begitu jelas melihat mereka dg seksama. Jarak antara saudaraku yg terdepan dg mereka skitar 7-10m.
Skitar 20mnt kami berjalan brsama mereka, saya baru mulai curiga kalau seingat saya orang ini tidak ada semalam saat kami camping di tepi laguna, ternyata kecurigaan ku terjawab ketika kami bertemu jln yg terasa sangat menanjak, saya melihat kaki saya dan 2 saudara saya hitam penuh dg lumpur, tapi dari kejauhan saya samar melihat kaki ke 2 org asing ini sangat bersih dan melewati tanjakan dg sangat mudah sperti org melayang.
Sesaat saya ucap istighfar tanpa kedua saudara saya sadari 2 org asing itu menoleh pada saya dan tersenyum lebar tanpa suara, dan dg samar saya melihat wajar 2 org ini sudah tidak beraturan.
Saya langsung mnarik lengan saudar saya yg di depanku, sampai” dia terpeleset jatuh dg duduk. Dg reflek saya lagsung bilang padanya
” jon capek ni, istirahat sbentar ya”
Dia malah menjawab “capek yo capek, tapi gak usah di tarik juga lah”.
Nah saudara ku yg paling depan berteriak pada 2 org asing itu kalo kami istirahat sbntar, mreka hanya menjawab “iya saya tunggu di atas” tanpa memalingkan wajahnya.
Sesaat langsung saya ceritakan kecurigaan ku pada saudaraku, dan mereka pun merasakan hal yang sama, tanpa pikir panjang kami berjalan dg sangat cepat (kayak emak” lg nyari anaknya di rental ps) memutar balik melawan arah 2 org asing td dengan komat-kamit mulut sebisa kami membaca doa, sampai skitar 10mnt dr situ kami mendengar ada org” yg ramai ketawa di kejauhan, kami coba beranikan mendekat pada suara itu siapa tau kami tertolong, setelah semakin dekat ternyata kelompok ini terdengar mengggunakan bahasa asing (mungkin hongkong), kami sadar kalau rombongan ini datang di laguna saat kami sedang masak sarapan pagi, setelah bertemu dg mereka kami lihat ada skitar 8org dan ditemai 1 guide yg berseragam di ujung depan barisan, tanpa berbicara apapun kami bertiga dg sangat antusias dan kompaknya melihat kaki semua turis ini, lalu kami saling merangkul dan mengucap hamdallah bersama, mereka hanya melongo dan tertawa lepas setelah kami bertiga duduk bersamaan dalam posisi saling merangkul.

Sekian, maaf ya kalau terlalu panjang, terimakasih.