Suara obrolan kedua orang tua saya dan tamunya terdengar sampai atas, malam ini saya terduduk di balkon rumah, sedikit menggigil karena hawa dingin Kota Bandung dimalam hari, tak ada bintang, bulan pun tidak penuh dan hanya berbentuk sabit.

 

Sesekali orang-orang berlalu-lalang melintas tepat dijalan depan rumah, hanya beberapa yang melirik melihat saya terduduk. Pandangan saya selain terhadap orang-orang yang berlalu lalang juga hanya sejauh sebatas sawah yang beberapa petak terhampar tepat di seberang jalan depan rumah.

 

Makasih ya.. udah bawa aku kesini.. aku bisa kenal teman-teman baru yang sama sepertiku disini..” ‘sambil melayang menembus jendela Lucy berkata ke arah saya.

Kalau kau senang disini, kau bisa tinggal..” ‘Balas saya sambil kembali meminum kopi susu.

 

Ahhh walau kau menyebalkan, aku lebih suka dekat dengan mu… Tapi aku lebih suka sosok adik mu hihihihi..” ‘Balas nya sambil duduk tepat di sebelah kanan saya.

 

Kami berdua terdiam, saya masih terus menatap sawah, jalan depan rumah dan atap-atap rumah tetangga. Sampai tidak berapa lama yang lainya bermunculan, Jaenal duduk di sebelah kiri saya, Kinanti berdiri tepat di belakang saya dan Bule agak jauh disebelah kanan saya sambil menyandar di sebuah tembok.

 

Besok, kembali ke aktifitas biasanya nak, kau seharusnya beristirahat… udara seperti ini tidak baik untuk tubuh hidupmu itu.” ‘Ucap bule.

 

Besok-besok suasana kaya sekarang ga bakal aku temui lagi, aku pingin berlama-lama sebelum tidur dan take off besok siang.” Jawab saya.

 

kamu tetap dengan rencana keluarga mu?” ‘Tanya kinanti.

 

Tentu saja kinan, setelah semua yang aku lihat disini, setelah melihat apa yang mereka siapkan, semua nya…” ‘Jawab saya singkat.

 

Jaenal tampak murung, tidak sepatah kata celotehan keluar dari mulutnya, cukup lama kami menikmati angin malam ini, hingga suasana berubah saat jaenal mulai berbicara.

 

Bang, saat raras memilih menetap di tempat kosan yang ada kucingnya itu… Kenapa abang membiarkan nya begitu saja..” ‘Tanya Jaenal pelan namun jelas.

 

Saya lama mencerna pertanyaan Jaenal, terdengar Bule, Kinan bahkan Lucy ikut menjawab pertanyaan jaenal tersebut. obrolan mereka seakan membuyarkan obrolan yang terjadi di ruang tamu bawah.

 

Jaenal masih tetap dengan pertanyaanya, kenapa, kenapa, kenapa tanpa mempedulikan setiap alasan dan pejelasan dari Lucy, Kinanti maupun Bule. Biasanya saya kembali menanyakan setiap pertanyaan mereka, kenapa bertanya seperti itu. Namun kali ini tidak. Dalam pikiran saya saat ini malah, kenapa saya membiarkan Raras tetap tinggal di kosan saya yang dulu.

 

Hey kalian… ssstttt….!!!” ‘Saya mencoba merespon.

 

Karena aku ga bisa memaksa raras untuk ikut, banyak pertimbangan membuat aku membiarkanya begitu saja. Lagipula kenapa kamu bertanya seperti itu ?” ‘Papar saya sambil kembali bertanya kepada Jaenal.

 

Kalau abang memilih untuk pulang kesini, mungkin aku akan tetap diam disana bang, aku ga bakal ikut.” ‘Ucap Jaenal dengan nada sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.

 

Kami semua terdiam dan langsung memperhatikan ke arah jaenal, berbagai respon dari kata “apa” “what” “kamu serius” bermunculan, sedangkan saya hanya terdiam cukup lama lalu menjawab.

 

Kau ingin seperti raras ??” ‘Balas saya.

 

Menurut abang ??” ‘Balas Jaenal singkat.

 

Ga ada kata menurut ku nal, ga ada..” ‘Saya menjawab seakan saya tidak tahu maksud dari kata-kata tersebut.

 

Bocah jelek, kenapa kamu kaya gitu… ??” ‘Lucy mencoba mencari tahu ada apa dengan Jaenal, kami semua memang sempat dibuat bingung malam ini oleh tingkah pola Jaenal.

 

Om bule, kak kinan, bintik… mau sampai kapan kaya gini terus, cepat atau lambat abang pasti melupakan kita atau mungkin kita yang bisa saja meninggalkan abang atau malah kita seperti ini sampai sampai abang sama seperti kita ?” ‘Kata-kata ngelantur dengan makna yang cukup jelas dari Jaenal cukup membuat Saya kaget dilanjutkan dengan bengong sesaat.

 

Ucapan bocah ini ada betulnya, mungkin seharusnya pertanyaan itu di ucap oleh sesuatu yang hidup bukan oleh sesuatu seperti mereka, entah karena apa hingga membuat Jaenal berpikir seperti itu, pertanyaanya kini membuat semua tertegun diam termasuk saya.

 

saya pun beranjak dari tempat saya duduk, berjalan meninggalkan mereka semua, mereka hanya terdiam melihat saya pergi, perasaan saya terhadap mereka seakan seperti sebuah kayak di tengah gelombang sungai yang besar.

 

Saya pun turun ke bawah, melihat orang rumah masih asik mengobrol dengan tamu yang sedang berkunjung, saya permisi lalu beranjak ke teras rumah, berjalan menyisiri jalanan komplek yang sepi, teteh penghuni rumah kuning besar melayang pelan mengikuti saya dari belakang.

 

Saya mengambil telpon genggam, mulai mencatat ini semua, teteh di belakang berbisik kalau kebiasaan saya mencatat masih tetap saya jaga. Saya hanya tersenyum sambil berpikir bahwa kedepanya akan ada babak baru diantara interaksi saya dengan mereka ber-empat

 

Babak seperti hal nya sebuah lembaran buku mengenai mereka yang siap menemui cover belakang buku tersebut.