Ada yang baik dan ada yang jahat, ada yang baik menjadi jahat begitupun sebaliknya. Dan yang sebaliknya itu adalah sosok yang sekarang-sekarang ini mulai sering menghampiri saya, sosok yang dahulu berniat untuk menjajah namun dengan kekuatan hati nurani dia malah melakukan hal sebaliknya, dan memiliki peran besar di masa lalu yang berpengaruh pada kehidupan saya. Sosok itu bernama Van Roelf.
________________________________________________________________________

Aku adalah seorang pria berkumis tebal berkebangsaan netherland yang dahulu sempat dikirim ke tanah surga yang di sebut Indonesia, sebelum memulai perjalanan aku sudah bersumpah untuk mengabdi kepada negeriku. Rasa penasaranku akan negeri yang seperti surga membuatku ingin sekali mendatanginya.

Sesampainya di Indonesia, aku merasa takjub akan keindahanya, aku datang dengan hasrat, hasrat yang sama seperti netherland lain yang menempatkan dirinya di bawah kata kompeni, hasrat untuk mendapatkan semua yang ada di negeri surga yang aku datangi ini.
________________________________________________________________________

“Netherland yang menempatkan diri di bawah kompeni ? Aku ga ngerti” ‘Tanya saya ditengah-tengah cerita.

“Kompeni itu sebenarnya sistem, yang di buat oleh swasta, itulah kenapa tidak semua orang-orang bangsa ku datang kemari untuk menjajah, sebagian malah datang untuk membantu tanpa menjajah baik dalam pembangunan, pendidikan atau pengobatan” ‘Jawab Van Roelf

“Lantas kenapa kau tidak bersama pihak yang membantu ?” ‘Tanya saya lagi.

“Hei pribumi, ada hal yang sebaiknya kau tak perlu tahu, sudah cukup banyak sejarah yang diubah dari aslinya” ‘Jawab Van Roelf singkat.

“Ahhh baiklah… ” ‘Jawab saya sedikit ketus karena sebutan pribumi yang sangat rasis sekali.
________________________________________________________________________

Sesampai disini aku langsung ditempatkan di sebuah kota yang sangat asri dan hijau, suhu nya selalu sejuk dikala siang dan hangat dikala malam. Pantas banyak negara-negara eropa datang ke tempat ini, karena disini ada hal yang tidak bisa di dapat di negara mereka sendiri.

Walau aku memiliki latar belakang sebagai seorang tentara, setelah sampai disini aku tidak pernah terjun langsung ke medan perang, tugasku hanya memantau dan mengawasi para pekerja pribumi baik dari segi pertanian atau pembangunan.

Saat itu bertepatan dengan pembangunan jalur akses jalan yang memotong gunung cadas, proyek arahan Daendels sangat luar biasa, banyak sekali hasil pembangunan di negeri ini darinya. Selama mengawasi berjalanya proyek tersebut, tidak sedikit hal-hal buruk yang aku lakukan terhadap bangsamu dev.

Dari menginjak-injak mereka yang lambat bekerja, memukul bahkan sampai menyeret bangkai mereka yang mati karena kelelahan seperti binatang, jujur aku sangat menikmati itu semua sama halnya aku menikmati jamuan makan di tempat berbintang.
________________________________________________________________________

“Menyeret…!!! Kejam sekali… Tidak manusiawi sekali kau pria kumis tebal, bersyukur sekali aku atas peluru yang tertanam di kening mu itu” ‘Potong saya kesal

“Kau rajin sekali memotong pembicaraan, dasar pribumi…!!” ‘Balas Van Roelf keras.

“Tapi sejujurnya di dalam hati aku sangat merasa bersalah atas apa yang aku lakukan dulu……………… aku… aku minta maaf” ‘Lanjut Van Roelf sambil gemetar disertai matanya yang mulai berkaca-kaca lalu ia menundukan wajahnya seakan dia sedang memikul rasa bersalah yang sangat luar biasa berat.

Suasana pun hening, Van Roelf hanya tertunduk diam, dia sangat merasa bersalah sekali, meskipun dibalik tubuhnya yang besar dan tegap, meskipun perawakanya yang sangar dan bisa menakutkan orang-orang yang mungkin melihatnya pada masanya atau hari ini setelah masanya. Dia masih ingin menunjukan bahwasanya dulu dia hanyalah manusia biasa.

“Hmmm baiklah kapten, maaf sudah memotong cerita mu, kau boleh melanjutkanya sekarang” ‘Ucap saya memecah keheningan malam itu.

Sang kapten masih saja tertunduk lesu, tangan nya semakin di kepal dengan keras, nafas nya begitu berat karena mencoba untuk menahan tangis dengan sekuat tenaga.

“Ayolah… Aku kan sudah minta maaf, seburuk apapun masa lalu, itu hanyalah bumbu untuk membuat masa depan menjadi lebih baik kan, lagi pula malu sama kumis mu yang tebal, kapten kok cengen…” ‘Lanjut saya mencoba menghangatkan suasana.

“Sialan kau…!!” ‘Balas Van Roelf sambil menunjukan senyumnya seakan beban yang dia pikul sudah kembali ringan.
________________________________________________________________________

Siang itu, aku kembali kepada aktifitas biasa, memantau kembali para pekerja di jalur proyek pembangunan jalan. Saat sedang asyik memantau, dari kejauhan aku melihat sosok seorang pemuda sedang duduk di bawah pohon, seorang pemuda berpakaian tradisional itu duduk memandangi para pekerja.

Aku berpikir mengapa ada pribumi yang masih bisa bersantai memperhatikan pribumi-pribumi lain yang sedang bekerja. Dengan sedikit geram aku menghampiri pemuda pribumi tersebut, aku sudah siap mengayunkan tongkat besi yang tergantung di ikat pinggang ku saat itu.

Namun belum aku mengayunkan tongkat tersebut, pribumi itu melihatku, tubuhnya tegap, walau sedikit pendek dibandingkan aku, badanya tidak kurus seperti pekerja lain yang sangat kelaparan. Raut wajahnya tenang, tidak terlihat sedikitpun rasa takut. Dia berdiri menghadap ke arahku, tidak mencoba untuk berlari, bahkan dia berani menyapaku dengan tenang.

“Selamat siang, tuan..” ‘Ucap pemuda tersebut.

“Hei kau pribumi, lancang sekali kau, enak-enak duduk disini, sudah ingin mati kau !!!” ‘Jawabku sambil berteriak keras ke arahnya.

Dia sama sekali tidak bergeming, ekspresinya masih saja tenang. Amarah ku dibalas oleh senyum hangat miliknya, aku pun terdiam meski masih memperlihatkan ekspresi marah kepadanya, tapi tanganku dengan sendirinya malah menaruh kembali tongkat besi yang sudah ku acung-acungkan ke udara.

Pemuda itu lantas menyuruhku untuk duduk dan menawariku sebuah makanan, dengan ramah dia menawarkan makanan kepadaku sambil membersihkan tempat yang akan dia sediakan untuku. Meski perwakan muka dan pikiran ku menolak namun hati kecil ku menerima tawaranya. Aku pun duduk tepat di sebelah pemuda tersebut.

Sungguh lucu apabila kau melihat nya langsung dev, coba kau bayangkan, kau duduk dengan seorang pemuda ramah yang penuh senyum, namun dengan mimik ingin sekali membunuh pemuda tersebut.
________________________________________________________________________

“Hahahahha….!!!!” ‘Saya langsung tertawa mendengar pernyataan Van Roelf yang terkahir, saya membayangkan memang betapa absurd nya situasi saat itu.

“Jadi kau merasa gengsi untuk membalas keramahan pemuda tersebut kapten ?” ‘Lanjut saya.

“Apa itu gengsi ???” ‘Van Roelf balik bertanya.

“Hmmmm… Apa ya ? Bingung buat jelasinya… Ahhhh Ego.. Ya Ego mu terlalu besar untuk menerima keramahan pemuda tersebut… Mungkin” ‘Saya mencoba menjelaskan.

“Iya kau benar pribumi, mungkin karena ego ku yang besar.” ‘Balas Van Roelf.
________________________________________________________________________

“Ayo makanlah tuan, saya tahu tuan pasti belum makan siang, saya jamin tuan akan suka dengan makanan buatan istri saya ini.” ‘Tawar pemuda tersebut kepadaku.

Aku merasa bingung dengan pemuda ini, bahkan aku sempat berpikir mungkin dia sudah menaruh racun di dalam makanan yang sudah dia siapkan untuku. Dengan nada tinggi aku menolak pemberianya.

“Tidak..!! Aku tidak sudi memakan makanan dari pribumi seperti mu !!!” ‘Ucapku disertai amarah.

Pemuda itu lalu terdiam, dia menyimpan makananya di tanah, aku mencoba meraih tongkat besi yang bergantung di pinggang untuk menjaga-jaga apabila dia mencoba melakukan hal-hal yang tak di duga.

Benar saja dia melakukan hal yang tidak aku duga, dia mengambil sendok yang belum terpakai lalu memakan sedikit makanan yang dia tawarkan kepadaku.

“Tuan lihat, tidak terjadi apa-apa kan, saya ikhlas menawarkan makanan ini, tidak ada maksud apa-apa, mengapa tuan begitu marah ?” ‘Ucap pemuda tersebut.

Aku terdiam, setelah itu amarah ku mulai mereda sedikit-demi sedikit, dan akhirnya aku mencoba meraih makanan tersebut lalu mulai memakanya. Jujur selama aku berada di negeri ini, ini merupakan makanan yang paling enak yang pernah ku makan. Di tengah makan siang yang tak terduga itu, si pemuda bercerita banyak hal, dia menceritakan istrinya, kedua anak lelakinya yang selalu membantu di kebun dan adik perempuanya yang terkenal cantik di desanya.

Tak ada sedikit pun cerita keluhan mengenai tindakan bangsa kami terhadap bangsa mu dev. Walau dia sempat bercerita satu hal yang sampai membuatnya menangis, saat dia bercerita bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan bangsa kami. Sejak itu perlahan rasa antipati ku terhadap pemuda itu hilang diringi dengan munculnya rasa empati dan simpatiku padanya.

“Hei pemuda pribumi, sebelumnya terima kasih atas tawaran makan siang yang enak ini, aku harus segera kembali karena apabila atasan ku tahu soal ini, kita berdua bisa di bunuh.” Ucapku seraya berdiri.

“Dan ingat, aku tidak ingin hal ini di dengar baik oleh bangsaku dan bangsamu, kalau sampai terjadi, aku tidak segan untuk membunuhmu, mengerti !!” ‘Lanjutku sembari meninggalkan tempat tersebut.

Aku pun berjalan meninggalkan pemuda tersebut, belum berapa jauh pemuda tersebut memanggil ku.

“Tuan…… Minggu depan saya akan berada disini lagi saat matahari tepat diatas kepala…” ‘Ucapnya sembari melambaikan tangan.

Setelah itu aku hanya berbalik seakan acuh sambil berlalu meninggalkanya.
________________________________________________________________________

“Jadi, semua hanya menceritakan soal makan siang mu saja dengan pria misterius tersebut.” ‘Ucap saya yang masih sibuk membereskan tempat untuk tidur malam itu.

“Itu kan baru awal pengenalan ku saja pribumi, cerita seperti apa yang ingin kau dengar ?” ‘Balas Van Roelf.

Saya berhenti membereskan tempat tidur lalu mendekati Van Roelf dan menunjuk ke arah kening nya.

“Sorry to say ya, aku ingin tahu bagaimana itu terjadi….??” ‘Tanya saya serius dengan telunjuk yang tertuju ke arah lubang peluru di kening Van Roelf.

Sang kapten tersebut lalu terdiam, wajahnya dia angkat keatas mencoba untuk berpikir dan mengingat kejadian tersebut. Meski saya tahu bahwa itu akan membuat luka lamanya kembali terbuka.

“Hmmm… Kenapa kau diam kapten, sebagian memorimu terpotongkah oleh alur peluru tersebut ?” ‘Lanjut saya namun tidak dengan telunjuk di keningnya.

“Aku keberatan untuk itu dev…” ‘Jawab Van Roelf singkat.

“Ok… Baiklah, aku tidak memaksa..” ‘Balas saya sambil kembali fokus membereskan tempat tidur.

“Hei pribumi, kalau kau ingin mencatat ini, dengar baik-baik, karena aku hanya ingin bercerita ini sekali saja” ‘Ucap Van Roelf dengan mantap.

“Aye-aye Captain” ‘Jawab saya dengan posisi hormat.
________________________________________________________________________

Setelah makan siang tersebut, setiap minggu aku selalu bertemu dengan pria pribumi tersebut secara sembunyi-sembunyi. Tidak dari bangsa ku atau bangsa mu yang tahu dev. Namun kebersamaan ku dengan pemuda tersebut tak berlangsung lama. Hanya berjalan beberapa bulan saja.

Saat itu saat menjelang fajar, ditengah beristirahat, aku di panggil para atasan ku untuk menghadap, aku pun diberikan perintah untuk pergi ke sebuah camp ditengah hutan. Disana sudah siap beberapa tentara netherland bersenjata lengkap yang sedang mengatur barisan warga pribumi yang menjadi tawanan.

“Ada apa ini ?” ‘Tanya ku kepada salah satu tentara

“Kami baru saja menangkap jaringan gerilyawan kapten, namun mereka bisu informasi meski sudah kami paksa” ‘Jawab salah satu prajurit.

“Kalau begitu, eksekusi mereka, tembak kepalanya satu persatu !!!” ‘Ucapku lantang diringi isak tangis keluarga tawanan.

Di tengah kekisruhan itu aku melihat pemuda itu menjadi salah satu tawanan, wajahnya penuh memar dan darah hasil siksaan tentara netherland. Kali ini aku melihat raut ketakutan di wajahnya, namun bukan terhadap manusia-manusia yang menjadikan dia tawanan, tapi terhadap sesuatu yang lain. Seperti takut akan ada sesuatu yang yang buruk menimpa orang-orang yang ia sayangi.

“Kapten, kami siap mengeksekusi mereka sekarang !!!” ‘Ucap salah satu tentara dengan lantang.

“Tunggu dulu…!!!” ‘Ucapku dengan berteriak.

“Kalian… Pribumi tak tau diuntung !!! Sudah baik kami memperkerjakan kalian, tapi apa balasan kalian, kalian malah melawan kami. Anjing saja masih bisa menuruti tuanya. apa kalian tidak kasihan melihat orang-orang yang kalian sayangi di belakang. Apa kalian tidak memikirkan apa yang mereka hadapi setelah kalian mati !!!!” ‘Ucapku lantang saat itu.

“Kami lebih baik mati merdeka” ‘Pemuda pribumi itu pun menjawab.

Suaranya berat, tidak terdengar ramah seperti biasanya. Tubuhku pun bergetar mendengar perkatanya. Sosok yang ku kenal baik dan sudah menjadi sahabat itu kini harus mati di tangan ku sendiri.

“Diam kau !!!” ‘Teriak salah satu tentara dilanjut dengan menghantamkan senjata ke kepala pemuda tersebut sampai tersungkur.

“Ka… Kami… Le..le…lebih… Baik… Ma…mati… Me…mer..deka….” ‘Ucap pemuda itu berulang-ulang dan semakin membuatku gemetar.

Akhirnya setiap tentara menyodorkan selongsong senjata ke arah kepala para tawanan. Terdengar sayup-sayup suara para tawanan menyebutkan Allahu Akbar.

“Tunggu dulu prajurit….!!!!” ‘Aku kembali berteriak.

Aku mendekati pemuda pribumi tersebut yang sudah tertelungkup lemah dilantai dengan wajah dan rambutnya yang tertutup darah. Aku pun mendekatkan wajahku dan berbisik.

“Maafkan aku sahabat…”

Setelah itu aku lantas berdiri dan berbalik membelakangi para tawanan. Suasana hening muncul di antara ketegangan, hingga akhirnya.

“………….Tembak Mereka…” ‘Ucapku singkat.

Suasana hening pun berubah menjadi riuh suara letusan senjata api satu persatu dengan diiringi suara tubuh yang jatuh di lantai disertai teriakan keluarga tawanan pagi itu.

Setelah insiden itu, para netherland termasuk aku pergi meninggalkan mayat-mayat pejuang bangsa mu beserta keluarganya di dalam camp, ruangan camp kami kunci dari luar dan kami semua kembali ke camp utama.
________________________________________________________________________

“Kau… Tega sekali, aku tidak habis pikir atas semua itu.” ‘Ucap saya sambil bengong memikirkan situasi kejadian yang diceritakan Van Roelf.

Apa yang dilakukan Van Roelf mungkin kejam, namun saya mencoba untuk mengerti dan merasakan apabila berada di posisi seorang kapten yang berdiri diantara sumpahnya kepada negara dan sahabat baiknya sendiri. Walau saya sendiri tahu bahwa hati nurani sudah pasti memiliki putusan meskipun masing-masing putusan tersebut memikul beban yang sangat berat.

Terlihat dari pancaran sinar wajah seorang kapten yang sekarang terduduk diantara cucian kotor milik saya sembari kembali mengingat luka-luka lamanya yang mungkin sudah ia kubur dalam-dalam.

Keheningan memenuhi ruangan kamar saya yang cukup berantakan. Aki dan Nancy pun terdiam mendengar itu semua. Kami semua seperti dirundung kedukaan mendalam seakan berada di dalam dimensi yang sama saat peristiwa itu terjadi.
________________________________________________________________________

Siangnya, saat matahari tepat di atas kepala, aku kembali ke tempat biasa kami bertemu untuk makan siang dan bercerita satu sama lain.

Di bawah pohon itu aku terduduk melihat lekukan rumput yang selalu menjadi tempat kita duduk sambil menikmati setiap obrolan dan makanan yang dibawa oleh pemuda tersebut.

Di tengah kesedihan yang sangat dalam, aku teringat bahwasanya para keluarga tawanan masih di dalam camp yang terkunci dari luar.

Sesegera mungkin aku menuju camp tersebut. Sesampainya disana, sangat terasa sekali bau busuk yang menyengat di hidung, bau itu semakin kuat setelah aku mencoba membuka pintu camp yang terkunci.

Terlihat para keluarga pejuang itu masih menangis di sebelah mayat-mayat yang sudah membiru dan membusuk dengan darah kering di sekujur tubuhnya. Aku pun menghampiri jasad sahabatku yang dikelilingi oleh istri, kedua putranya dan adik perempuanya yang masih menangis.

Aku terduduk lalu tertunduk lesu melihat pemandangan mengerikan dihadapanku saat itu, belum pernah aku merasakan perasaan bersalah seberat ini, air mataku pun tumpah diantara air mata para keluarga pejuang yang semuanya mati di bawah perintahku.

Ditengah duka mendalam dan pikiran yang kalut, akhirnya aku melakukan hal yang nekat dan berbahaya, aku memilih untuk membantu para keluarga tawanan itu untuk bebas dari camp, ditengah kebingungan, aku mencoba membuat strategi. Karena sekeliling area berupa hutan, akhirnya aku memutuskan untuk memanfaatkan hutan tersebut untuk membantu para keluarga tawanan melarikan diri.

Disaat tengah membantu para keluarga dari tawanan, tiba-tiba terdengar peluit dari pos penjaga yang jaraknya cukup dekat dengan kami. Dengan rasa ketakutan yang luar biasa, kamipun berlari tak tentu arah.

Aku bersama istri, kedua putra, dan adik dari sahabatku berlari semakin dalam ke dalam hutan, dari jauh terdengar suara berondong peluru menembus pepohonan. Sambil terus memapah keluarga dari sahabatku itu aku mencoba untuk membalas kembali serangan para tentara netherland tersebut. Meski yang ku punya hanyalah sebuah pistol laras pendek.

“Kalian cepat pergi, biar aku yang tahan mereka disini” ‘Ucapku sambil terus mengawasi arah belakang.

“Tapi tuan, kami tidak tahu musti kemana…” ‘Jawab istri dari sahabatku khawatir.

“Kalian terus saja ke arah sana, masih cukup jauh memang, tapi nanti kalian akan melihat sungai, ikuti arah hilir sungai, nanti kalian akan sampai di suatu desa.” ‘Paparku.

“Tapi tuan, bagaimana kalau disana ada orang-orang kompeni” ‘Tanya istri sahabatku lagi.

“Kalian jangan khawatir, disana mungkin ada netherland lain tapi mereka bukan kompeni, mereka siap membantu kalian, kalian jangan takut, cepat sebelum para tentara itu semakin dekat.” ‘Perintahku keras sembari meyakinkan mereka.

Setelah aku yakini bahwa disana aman, mereka lalu pergi ke arah yang sudah aku tunjukan. Aku merasa ketakutan sekali saat itu, rasa ketakutan yang sama seperti rasa ketakutan bangsamu dev saat kedatangan kami kemari, namun ketakutan itulah yang membuat aku berani membuat putusan yang menurut hatiku benar.

Keluarga sahabatku sudah semakin dalam masuk ke hutan, mereka aman sekarang, ditengah perasaan takut, muncul perasaan lega. Aku pun pasrah akan apa yang terjadi padaku setelah itu. Di tengah hutan aku berdiri diam, dikelilingi oleh para tentara yang dahulu adalah bawahanku namun kini sudah mengacungkan senjata ke arahku, dan seorang petinggi yang berada diantara mereka.

“Penghianat!!!”

Beberapa tentara berteriak ke arahku, menyebutku sebagai penghianat, pembelot negara. Namun bagiku ini bukan sesuatu yang diinginkan suatu negara. Para tentara itu menyuruhku untuk bersujud namun aku menolak, aku hanya diam tak bergeming dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun kepala. Namun aku tidak dapat melakukan apa-apa selain mengepal keras senjata tanpa peluru yang ada di genggamanku.

Kejadian itu berlalu sangat cepat namun menyakitkan, untuk membuat ku terduduk saja mereka harus menembak kedua kakiku, rasanya sakit sekali, timah panas itu membakar kedua kakiku. Membuatku tak mampu menopang tubuhku sendiri. Ditengah menahan rasa sakit yang luar biasa, seorang petinggi pasukan itu mendekat ke arahku.

“Ini untuk penghianatan mu…” ‘Ucap petinggi tersebut.

Lalu dia menembakan senjatanya ke arah tangan kanan ku, membuat senjata kosong yang ku genggam terlepas dan jatuh ke tanah. Dan aku berteriak kesakitan sangat keras.

“Kau tak pantas menjadi bagian dari kami” ‘Ucap petinggi itu lagi. Diiringi dengan menaruh ujung senjata milikna tepat di tengah keningku.
________________________________________________________________________

Dikalimat terakhir itu, Van Roelf menunjuk lubang yang berada di keningnya. Saya hanya terdiam setelahnya, tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar kisah itu. Saya hanya menunduk melihat catatan saya yang masih kosong.

Saya berpikir apakah harus saya tulis mengenai kisah ini. Sebuah luka yang mungkin bisa sembuh namun akan terus membekas selamanya. Pikiran saya melanglang buana seakan berada di dalam situasi tersebut. Serta bingung akan point apa yang didapat dari cerita si kapten berkumis ini.

“Hei pribumi….” ‘Ucap Van Roelf sambil melayang mendekat ke arah saya.

“Kau belum mencatatnya !!!!” ‘Teriak Van Roelf saat melihat ke arah catatan saya yang masih kosong.

Sang kapten tersebut terlihat kesal karena saya tidak mencatat apa yang sudah dia keluarkan. Namun semua residual itu sudah tertanam jelas melalui visual yang beliau hasilkan. Tapi saya merasa masih ada sesuatu yang belum jelas didalamnya, sesuatu yang masih Van Roelf sembunyikan atau mungkin dia menunggu saya untuk bertanya langsung padanya.

“Kenapa kau menghampiriku ?” ‘ Tanya saya.

“Apa alasan mu ?” ‘Tanya saya lagi sambil sedikit gemetar.

Kali ini Nancy dan Aki melihat ke arah saya, mereka seakan tahu kenyataan yang Van Roelf tutupi terhadap saya. Sang kapten itu berbalik ke arah saya dan tersenyum.

“Dev, maybe some mystery should be the mystery, and let it unfold on its self by time.” ‘Ucap Van Roelf dengan ekspresi hangat dan bersahabat lalu dia pun menghilang ditengah keheningan malam.

Entah mengapa saya tersenyum mendengar pernyataan terakhir nya itu. Saya merasa lega dan mulai mengerti mengapa beliau rela mati demi sahabat pribuminya itu dengan menyelamatkan keluarga dari sahabat pribumi nya tersebut.

“Dia menyelamatkan mereka karena….” ‘Ucap saya perlahan.

“Karena kamu adalah jawabanya cu…” ‘Sahut Aki memotong kata-kata saya.

“Jadi….???” ‘Tanya Nancy kepada saya.

“Jadi… Beliau bukan hanya seorang kapten berkumis tebal saja, tapi sang perwira dari luar untuk keluarga besarku.” ‘Lanjut saya dengan menulis ini semua di dalam buku catatan.