Melihat raut muka seperti itu, saya langsung bergegas keluar dari dalam kamar mandi, duduk di sofa dan meminum beberapa gelas air.
Raut muka bapak-bapak itu cukup menakutkan dan membuat saya bergetar karena energi yang dihasilkanya cukup membuat kepala saya pusing.

Saya hanya bisa beristigfar pelan berkali-kali, setelah merasa agak tenangan, saya mengambil telpon genggam dan mengirim pesan kepada bagas.

“Si bapak ada disini dan sepertinya dia marah gas.” ‘Isi dari pesan singkat yang saya kirim.

Karena belum sepenuhnya tenang jadi saya mengambil salah satu majalah dan mulai membacanya kembali dengan maksud agar tidak terlalu teringat terhadap raut muka bapak-bapak itu.
Saking sibuknya membaca, saya sampai tidak menyadari ada seorang suster yang masuk untuk mengecek rutin keadaan pasien.

Saya beranjak dan mendekati suster tersebut.
“Gimana keaadaan nya sus ?” ‘Tanya saya kepada suster.

Suster itu tidak menjawab, dia sama sekali tidak terlihat sedang memeriksa kondisi seseorang yang sedang terkulai lemah di ruangan ini.

“Suster…!!!” ‘Saya memanggil suster tersebut cukup keras, sehingga membangunkan seseorang yang sedang nyenyak tertidur.

“Ehhh…… udah lama kamu disini, maaf aku ketiduran… Suster..?? Mana suster nya ?” ‘Suara dia pelan setelah terbangun dari tidurnya.

“I..ini sus…ter tadi ada di…” ‘saya terdiam setelah mencoba mengeluarkan beberapa kata.

Suster yang saya maksud berbalik, mata saya melotot melihat muka suster itu yang begitu berantakan, setengah dari mukanya hancur, mata kirinya bergelayut dan wajahnya dipenuhi oleh darah segar yang mengalir melewati leher dan meninggalkan noda merah pekat di baju bagian depan.

Saya menutup mata membaca ayat pendek dan saat membuka mata, sosok suster itu menghilang dari pandangan.

“…Sini duduk sini, haduuhh.. Mbak suster yang baik jangan ganggu ya…” ‘Ucap dia seraya menyuruh saya untuk duduk di kursi sebelahnya.

“Kamu keliatan capek banget, pulang lah sana, istirahat… Tadi udah ada manda kan disini, lagian biar nanti ayah atau ibu yang jaga aku disini..” ‘Dia berbicara pelan.

“Iya ngga apa-apa… Aku nunggu disini deh sambil nunggu orang tua kamu dateng…” ‘jawab saya sambil mengatur nafas.

“Udah kamu istirahat lagi, udah minum obat…?” ‘Ucap saya sambil mengusap-usap keningnya.

“Dari tadi tidur terus.. Makin pusing… Udah… Aku udah minum obat…” ‘Kata dia pelan.

“Ya udah kalau gitu, ini ada bolu.. Sini aku suapin” ‘Ucap saya sambil membuka bungkusan yang berada di sebelah saya

Saya memulai menyuapi dia sedikit demi sedikit kita lalu mengobrol mengenai apa saja yang sudah dilakukan hari ini.
Saya juga bercerita mengenai pengalaman saat berada di kosan bagas padanya.

“Terus apa isi kotak itu… ??” ‘Dia bertanya kepada saya sambil terus mengunyah.

“Ngga tau, aku belum berani buka… Telen dulu… Masih ngunyah juga kamu…” ‘Ucap saya sambil menyodorkan segelas air.

Setelah cukup lama kami mengobrol, dari arah luar ayah dia datang sambil membawa 2 jinjing tas besar.

“Eh nak, udah disini aja…” ‘Kata ayahnya sambil menyimpan 2 tas besar tersebut.

“Sini om aku yang beresin…” ‘Saya bergegas ke arah ayahnya dan mengambil kedua tas itu.

Sambil membereskan beberapa potong baju dan memasukan satu persatu kedalam lemari tiba-tiba ada pesan masuk melalui telpon genggam saya.

“Lu udah buka kotak itu…??” ‘Isi pesan dari bagas.

“Eh aku mau nelpon dulu bentar ya…” ‘Ucapku seraya meninggalkan ruangan.

saya menelpon bagas untuk menerangkan tentang penampakan terakhir si bapak-bapak itu, dan saya juga bilang kalau saya sama sekali belum membuka kotak yang sekarang berada di dalam tas.

Tidak terasa sudah masuk jam 5 sore, saya masih mengobrol banyak hal dengan ayahnya dia. Terlihat dia sudah tertidur pulas karena pengaruh obat dari dokter.

“Om aku pamit yah… ” ‘Saya meminta ijin untuk pulang.

“Ya udah… Hati-hati kamu dijalan ya nak..” ‘Jawabnya.

setelah berpamitan, saya lalu bergegas pulang ke rumah hanya untuk mandi dan setelah itu pergi ke kosan bagas.

Saat sampai di rumah, keadaan lumayan sepi, sepertinya orang rumah sedang pergi semua, di meja makan sudah tersaji beberapa makanan serta sepucuk kertas yang berisi sebuah pesan.

~De.. Kalau mau makan di meja udah disiapin.

-Ibu- ~

Setelah mandi saya pun langsung menikmati makanan yang sudah tersaji di meja makan sambil menonton acara di televisi, ditengah asyik-asyik nya makan, munculah sukma dengan suara khas dari loncengnya.

“Hahahaha.. Si kakak lupa kalau ada janji…” ‘Kata sukma sambil melompat-lompat.

“Astaga….!!! Iya aku lupa…” ‘Ucap saya seraya berdiri dari tempat duduk.

Setelah makan selesai, saya pun berlari ke kamar mengambil tas dan langsung berangkat ke kosan bagas.

Setelah sampai di kosan bagas, disana sangat sepi, seperti tidak ada kehidupan, namun kamar bagas terlihat menyala.
Saya ketuk beberapa kali pintu kamar bagas, sama sekali tidak ada sahutan dari bagas.
Bagas mungkin keluar sebentar, karena dia selalu mematikan lampunya apabila dia pergi. Saya lalu duduk di teras sambil menyalakan rokok dan menunggu bagas balik.

“Serem banget sih nih tempat…” ‘gerutu saya dalam hati.

“Baaaliiiikiiinn….!!! Baaaliiiikiiiinn….!!!” ‘Sayup-sayup terdengar suara seseorang.

“Baaaaliiiikiiinnnn….!!!!” ‘Kali ini suara itu terdengar lebih keras.

Saya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sumber dari suara tersebut, mungkin hanya hantu iseng saja, ucap saya dalam hati.

Hampir 30 menit menunggu, saya memilih untuk pulang, baru saja sampai di parkiran.
Terlihat sebuah mobil masuk ke areal kosan dan itu ternyata mobil manda yang dibawa oleh bagas.

“Heh..!!! Gw nungguin elu, ngeliat motor lu ada dikira pergi sebentar… Dari mana lu ??” ‘Ucap saya sedikit kesal.

“Pacaran lah… Si manda kesini abis dari rumah sakit.. Lagian gw kira lu ga bakal kesini.. Sms kek punya pulsa kan…” ‘Jawab bagas.

Kami berdua akhirnya kembali ke kosan, saya membicarakan peristiwa yang terjadi saat berada di rumah sakit tadi.

“Kenapa dia marah ya ??” ‘Tanya bagas keheranan.

“Lu tanya gw, gw tanya siapa ???” ‘Dengan ketus saya menjawab.

“Tanya lah… Si bapak itu… mana sini kotaknya, penasaran gw pengen liat isinya.” ‘Pinta bagas.

Saya lalu membuka tas yang sudah tergeletak di kasur, mengambil kotak tersebut dan memberikanya kepada bagas.

Bagas mengambil kotak tersebut dan langsung merobek pembungkus kotak itu seraya berkata. “Apaan sih isinya…”

Saat setelah kotak tersebut terbuka, kami berdua langsung diam keheranan. Ternyata isi dari kotak tersebut adalah sepasang cincin emas bermatakan berlian.

“Ini cincin dev…” ‘Ucap bagas sambil melirik ke arah saya.

“Lha emang itu cincin… Dikira apa ?? Tutup botol…” ‘Jawab saya singkat.

“Ya udah gini aja, lu balik dah, keliatan banget lu capek, malam ini gw mau temuin om gw buat cari tahu soal ini cincin.” ‘Papar bagas menjelaskan kepada saya.

“Urus dah.. Besok lu kabarin gw” ‘Ucap saya sembari mengambil tas dan berjalan ke luar kamar.

Keesokan harinya, saya masih menunggu kabar dari bagas yang tidak kunjung muncul.
Hingga saat masuk pukul 4 sore bagas menelpon saya kalau dia sudah menunggu di jalan besar.

Saya lalu bergegas menyiapkan diri dan berlari ke arah jalan besar depan komplek pemukiman rumah saya.
bagas sudah menunggu bersama manda di dalam mobil.

“Sorry lama…” ‘Ucap saya sembari masuk kedalam mobil.

sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan, bagas menceritakan tentang penjelasan cincin tersebut yang dia dapat dari om nya.

Menurut om nya yang sudah berkomunikasi dengan sosok bapak-bapak itu, cincin tersebut adalah hadian ulang tahun perkawinan yang sebelumnya sudah di pesan oleh si bapak dan istrinya untuk anak lelakinya.
1 hari sebelum hari jadi perkawinan, anaknya menanyakan perihal cincin pesananya tersebut.
Karena si bapak lupa, dia pun segera mengambil cincin tersebut, tadinya yang akan mengambil cincin itu adalah anaknya, namun si bapak itu bersih keras untuk mengambil cincin itu sendiri.

Di jalan pulang, si bapak memang membawa motor milik anaknya itu dengan kecepatan tinggi dan naas saat di perempatan tempat kita menemukan kotak tersebut, si bapak mengalami kecelakaan dan langsung meninggal di tempat.

“Hmmm… Iya gara-gara ketelodoran lu kan.. Mungkin ini satu-satunya cara buat tanggung jawab supaya si bapak tenang” ‘saya berkata sambil memperhatikan ke arah luar jendela mobil.

“Ya tapi kan gw ngikutin saran dari lu…” ‘Balas bagas membela diri.

“Ngikutin saran gw boleh, tapi kalkulasikan dulu perhitunganya… Jangan maen tancap gas doang..” ‘Saya membalas lagi.

“Udah…udah… Kalian kok malah ribut, yank.. Kamu mending fokus nyetir deh… dan dev.. Udah.. ga perlu diributin lagi… Yang jelas kita udah tau musti gimana..” ‘Manda mencoba menengahi kami berdua.

Akhirnya kami sampai di sebuah komplek perumahan yang cukup besar dan luas, lumayan lama kami berputar-putar mencari alamat dari rumah yang kami tuju.
Hingga kami pun sampai di sebuah rumah yang cukup besar dan mulai mencocokan dengan alamat yang sudah tertera di sebuah kertas.

“Sayang.. Yakin ini rumahnya ?” ‘Tanya manda pada bagas.

“Keliatanya sih cocok…” ‘Jawab bagas singkat.

“Ya udah klo gitu ayo kita turun dan selesain perkara ini semua” ‘tandas saya sembari membuka pintu mobil.

Saya bersama bagas berjalan mendekati rumah tersebut, berkali-kali saya memencet bel rumah tersebut namun tidak ada yang membukakan pintu.

“Kaga ada orangnya, pada pergi kali gas…” ‘Ucap saya seraya mundur.

Tidak berapa lama, terdengar suara orang membukakan pintu, kami berdua langsung berbalik dan melihat ada seorang ibu yang terlihat kebingungan akan kehadiran kami berdua.

“Maaf… Mas-mas ini ada perlu apa ya ??” ‘Tanya ibu itu kebingungan.

Kami berdua terdiam sebentar, lalu bagas dengan spontan memberikan kotak tersebut kepada ibu itu.

“Anu… Ini bu, barangnya tertinggal..” ‘Kata bagas ambil menyerahkan kotak berisi cincin tersebut.

“Ini apa ???” ‘Tanya ibu tersebut sambil melihat kearah kotak lalu melihat ke arah kami berdua kembali.

“Ini barang kepunyaan ibu untuk anak ibu…” ‘Bagas menjelaskan kembali.

Ibu itu masih tampak kebingungan, dia lalu membuka kotak tersebut dan setelah melihat isi dari kotak tersebut, emosi ibu itu seperti tidak tertahan lagi, dia pun menangis sambil memanggil sebuah nama.

“Kami pamit ya bu..” ‘Ucap bagas datar sambil menarik jaket saya.

Sambil berjalan meninggalkan ibu tersebut, saya mendengar ibu itu terus menangis, terdengar pula suara seorang pemuda menanyakan apa yang terjadi.
Pemuda itu memanggil kami berdua, saya mencoba berhenti tapi bagas menyuruh untuk tetap berjalan ke arah mobil.
setelah masuk ke mobil, kami langsung bergegas pergi dari tempat itu.

“Lu kenape sih gas..??” ‘Tanya saya heran, namun tidak ada jawaban dari bagas.

Saya pun melihat kebelakang melalui jendela mobil, terlihat ibu tersebut memeluk anaknya yang sedang mencoba menenangkanya.

Sepanjang perjalanan pulang, kami semua terdiam, tak ada satupun kata yang keluar.
Sesekali saya memperhatikan gelagat bagas, terlihat pula ekpresi penuh tanya dari wajah manda.
Saya menoleh ke arah luar dan berpikir kalau gelagat bagas seperti itu adalah karena dia merasa bersalah, itulah kenapa dia diam setelah memberikan kotak berisi cincin tersebut. Mungkin apabila tidak ada saya dan manda di dalam mobil, bagas sudah pasti mengumpat-ngumpat terhadap dirinya sambil memukul-mukul dashboard mobil.

Dalam hatinya mungkin bagas berkata “andai saja gw kaga teledor, mungkin si bapak sekarang sedang menikmati perayaan dari hari jadi ulang tahun anaknya tersebut…”

1 minggu setelah itu, semua tampak normal, tidak ada cerita lagi mengenai penampakan sosok bapak-bapak tersebut. Kita semua menjalankan hari-hari seperti biasanya.

Sampai suatu malam, saat saya mencoba menenangkan pikiran di teras rumah, di pintu gerbang rumah sosok bapak-bapak itu muncul, saya terdiam melihat sosok bapak-bapak itu, kali ini wajahnya terlihat bersahabat.

“Bapak yang tenang ya disana…” ‘Dalam hati saya berkata dan setelah itu si bapak menghilang dan tidak pernah menampakan diri lagi.

-end-