Sabtu sore kali ini tidak ada rencana kemana-mana, meskipun sangat dinanti dan diharapkan, terkadang jam 3 sore itu masih terlalu siang untuk pulang, terlebih karena tidak memiliki rencana apa-apa.

 

Akhirnya, meskipun masih menggunakan baju kantor, saya berencana untuk membunuh waktu dengan cara nongkrong autis sendirian sambil menikmati indahnya sunset di pantai seminyak.

 

Panas matahari masih cukup terik saat itu, langit begitu bersih, sunset kali ini pasti perfect. Sesampai di pantai, sambil berjalan di pasirnya, saya tertegun dengan hamparan mahakarya Tuhan yang luar biasa.

Turis-turis maupun warga lokal memenuhi setiap sisi dari pantai tersebut, dari hanya berjalan bergandengan mau pun rombongan anak muda yang menikmati suasana pantai dengan mengambil beberapa photo atau hanya sekedar tiduran dipantai, bermain berbagai permainan dan duduk-duduk santai di sebuah kafe dengan iringan live music.

 

Terlalu absurd kalau saya mengajak salah satu teman “spesial” saya saat itu, karena saya lebih memilih untuk mentreatment otak ini sendirian. Setelah lama berjalan kaki, saya sampai di sebuah spot favorit saya disana. suasana masih terang, saya duduk beralaskan sepatu yang saya pakai, melamun melihat matahari yang sedikit demi sedikit turun dari peribaan nya.

 

“Keren yaaa !!!” ‘Suara teriakan seorang anak kecil membuyarkan lamunan saya saat itu.

 

Saya melirik ke arah kanan, ada seorang anak berambut keriting pirang hanya menggunakan celana pendek sedang asyik memainkan pasir pantai, terlihat dia sedang membuat sesuatu melalui media pasir tersebut.

 

“Haha.. Iya keren banget…” ‘Balas saya sambil mengambil paku-paku peti mati atau istilah biasanya rokok dari dalam saku celana.

 

“Lama sekali kamu tidak main kemari kak..” ‘Ucap bocah pantai tersebut.

 

“Masa… Seminggu kemarin aku kemari juga kok…” ‘balas saya singkat.

 

“Oh ya, kalau begitu mungkin aku yang tidak terlalu memperhatikan.” ‘Sahut bocah pantai itu sambil masih memainkan mainan pasirnya.

 

Kami berdua larut dalam kesibukan masing-masing, saya yang melamun menghadap ke arah matahari terbenam sesekali melihat tingkah polah si bocah pantai yang masih terlihat asyik bermain.

 

Pertemuan ini merupakan pertemuan yang ketiga sejak 1 bulan terakhir, biasanya saya selalu berjalan-jalan sendirian di pinggir pantai dan itulah kenapa dia sudah seperti mengenal saya sebelumnya, namun di setiap pertemuan sebelumnya, bocah pantai tersebut hanya diam dan menampilkan kondisinya yang begitu memprihatinkan. Baru saat ini saja dia mulai menyapa saya, saya tidak pernah tau siapa namanya, darimana dia berasal, yang saya tahu adalah bagaimana dia melewati hal tragis disaat terakhir dalam hidupnya.

 

Dan ditengah itu semua, telephone genggam saya bergetar dan kembali membuyarkan lamunan saya. Ada sebuah pesan masuk dari ibu saya. Melihat isi pesan tersebut saya tersenyum sendirian dan membuat bocah pantai itu berhenti sejenak dari keasyikanya.

 

“Orang gila.. Tersenyum-senyum sendiri” ‘ucapnya sambil menggeleng-geleng kepalanya.

 

“Biarin…” ‘Saya membalasnya singkat.

 

“Kak… kalau mau tanya, tanya saja, ga perlu takut..!!” ‘Ucap bocah itu yang sepertinya menerka apa yang saya pikirkan saat itu.

 

Saya ingin bertanya satu hal, namun terkadang saya ragu untuk memulai pertanyaan, terutama terhadap sesuatu mengenai mereka.

 

“Hmmm.. Dimana orang tua mu ?” ‘Saya bertanya pelan.

 

Sehabis bertanya, bocah itu menunduk dan kembali memainkan pasir yang menjadi mainannya tadi, dia menggali-gali pasir tersebut menggunakan tangan kecilnya sambil sesekali berucap.

 

“Mereka.. Mereka.. aku tidak tau” ‘Ucap bocah tersebut.

 

“Tapi yang pasti, mereka dirumah sekarang..” ‘Lanjut bocah tersebut di akhiri dengan tertawa nyengir dan mulai bermain pasir kembali.

 

Saya melanjutkan menikmati suasana sunset saat itu, terdengar penyanyi menyanyikan sebuah lagu favorit saya dalam acara live music tersebut, sebuah lagu yang mengingatkan saya akan rumah.

 

“Kau tau bocah, lagu yang dibawain itu.. Ngingetin aku soal rumah, jadi kangen rumah..” ‘Saya mencoba berbicara pada bocah tersebut namun dia sepertinya lebih asyik dengan mainan pasirnya.

 

Saya menyanyikan beberapa bait lagu tersebut dan.. “Stooop !!!!! Suaramu jelek !!!” ‘Bocah tersebut meneriaki saya sambil melemparkan pasir.

 

“Lha kenapa ?? Lagu ini yang membuatku kangen rumah..” ‘Balas saya sambil membersihkan noda pasir dimuka…

 

“Aku juga merindukan rumah, aku juga mau pulang..” ‘Bocah itu berkata sambil menunduk lesu.

 

Mendengar perkataanya itu, saya langsung teringat akan sukma yang juga ingin pulang, mungkin terlihat mudah untuk sukma waktu itu karena tempat ia pulang masih satu kota dan saya tahu betul berada dimana.Sedangkan untuk anak ini, saya mungkin harus membuat passport terlebih dahulu lalu membeli tiket pesawat ke tempat tujuanya agar bisa mengantarkan dia pulang.

 

ditengah membayangi moment-moment saat bersama sukma dulu, tiba-tiba bocah itu berkata lagi dan kali ini lebih bersemangat.

 

“Tapi aku tidak mau pulang, aku tau kamu tidak bisa membantuku, tapi ada yang aku ingin sampaikan sekarang itu… Ini buat mami dan daddy kalau saja mereka ada disini dan mendengarku, kalau aku senang disini, aku punya banyak teman, bisa bermain sepuasnya tanpa harus takut dimarahi… dan tentunya aku sangat merindukan mereka dimanapun mereka berada sekarang.” ‘Ucap bocah itu berapi-api.

 

“Maksud kamu ?” ‘Jawab saya karena merasa bingung.

 

“Aku cuma ingin ada yang mendengarkan kata-kataku itu, dan kamu bisa mendengarnya kan.” ‘Bocah itu menjelaskan sambil menunjuk-nunjuk ke arah saya.

 

“Haha oke, dan aku yakin mami dan daddy mu pun sangat merindukan mu sekarang.” ‘Balas saya sambil melihat detik-detik matahari terbenam.

 

“Betulkah itu ? Kamu serius ? Tapi aku anak yang nakal..” ‘Ucap bocah tersebut.

 

“Tentu saja, aku juga anak yang nakal saat seusia mu, bahkan mungkin lebih nakal… Tak peduli senakal apapun kita, orang tua akan tetap sayang kepada kita, kamu harus percaya itu…” ‘Balas saya.

 

Langit pun mulai gelap, seakan cahaya matahari sudah sepenuhnya termakan oleh malam. Suara orang-orang yang berlalu lalang semakin berkurang, hanya ada suara ombak dan lantunan lagu dari penyanyi Live music dari kafe-kafe sekitar.

 

“Oh iya, nama kakak siapa ??” ‘Bocah kecil itu bertanya.

 

“Nama saya devas.” ‘Balas saya sambil tersenyum.

 

“Kak devas, kenalkan… Nama ku Abraham” ‘balas Abraham sambil kembali asyik dengan mainan pasirnya.