Ini hari terakhir saya di Bali, beberapa flashback bermunculan di benak saya saat ini, ditambah beberapa rencana-rencana yang akan saya siapkan setelah melewati hari ini.

Saya duduk tertegun di gate 17 Bandara International Ngurah Rai, saat ini pandangan saya meloncat dari jam tangan terus meloncat lagi ke arah layar jadwal penerbangan. Terus begitu berulang-ulang.

Tak lama terdengar suara pemberitahuan mengenai keterlambatan pesawat dari speaker di sudut ruangan.

 

Asem pake delay segala ini pesawat…!!” ‘Gerutu saya dalam hati.

Kondisi gate 17 sangat penuh sesak oleh manusia-manusia saat ini, ada yang sibuk bermain gadget, ada yang asik menelpon, ada yang menikmati obrolan, melamun, bahkan tertidur.

Saya terdiam sesaat melihat seorang gadis kecil yang merupakan warga negara asing, dia terlihat asyik sedang memainkan rambutnya yang pirang kecoklatan. Mengingatkan saya terhadap Lucy yang terakhir kali saya melihatnya dalam keadaan menangis sambil melayang ke belakang Bule saat berada di gerbang keberangkatan tadi sore.

Saya teringat kata-kata terakhirnya yang begitu tegas sembari menahan tangis sebelum saya masuk ke dalam gerbang.

 

Alasan kami tidak ikut cuma sederhana kok, mungkin suatu saat nanti, ketika kamu disana kembali mengingat kami disini dan rindu akan kami, kami akan selalu ada disini kok dev, dan itu mungkin akan jadi alasan kamu untuk balik lagi kesini.

 

Saya hanya bisa menunduk, sambil mencoba menahan gejolak emosi yang mulai muncul secara perlahan.

 

Hei…” ‘Terdengan suara seorang wanita di sebelah saya. Saya pun refleks melirik ke arah sumber suara tersebut.

 

Kinanti duduk di sebelah kanan saya, memberikan senyuman hangat khasnya seperti saat pertama kita bertemu dahulu.

 

Kinan…, ngapain kamu disini…?” ‘Respon saya langsung bertanya kepada kinanti tanpa menyadari kalau itu cukup mengambil perhatian seorang Ibu-ibu di sebelah kiri saya dan dua orang Bapak-bapak di depan saya yang tadinya sedang asyik mengobrol.

Kinanti hanya tersenyum sambil melirikan matanya seakan memberi kode kepada saya untuk memperhatikan sekeliling saya saat ini. Spontan saya lalu mendekatkan switch phone dari hands free ke arah mulut seakan sedang menerima sebuah panggilan telephone.

 

Yang lain kemana, cuma kamu saja ?” ‘Tanya saya.

 

Saat kamu masuk ke gerbang keberangkatan tadi, mereka langsung pergi dev..” ‘Jawab Kinan.

 

Gimana soal Jaenal dan Lucy ?” ‘Tanya saya yang merasa khawatir terhadap kedua bocah tersebut.

 

Jaenal terlihat sedikit kesal karena kau pergi, namun dia tidak mau memperlihatkan kesedihanya kepada kami semua, sedangkan Lucy, dia masih saja menangis.” ‘Papar Kinanti.

 

Namun kamu ga perlu khawatir, mereka bakal baik-baik saja kok setelah ini… Memang sulit untuk anak-anak seusia mereka kalau ditinggal oleh sesuatu yang mereka sayang.” ‘Lanjut Kinanti sambil masih tetap tersenyum.

 

Pandangan saya kembali ke arah layar jadwal keberangkatan dan diteruskan melihat ke arah jam tangan.

 

Pesawat ku tertunda 1 jam kinan.. Untunglah kau disini nemenin aku..” ‘Ucap saya sambil menunduk melihat ke lantai.

 

Ya dan kau akan telihat seperti orang kurang waras oleh manusia-manusia disini karena berbicara sendiri.” ‘Tiba-tiba dari arah bawah muncul Bule melayang pelan menembus lantai tempat pandangan saya tertuju.

 

Bule…!! haha kau masih saja mengagetkan aku..” ‘Respon saya.

 

Pesawat mu delay 1 jam nak, kalau begitu selama 1 jam aku dan Kinan akan disini menemani kau nak.” ‘Ucap Bule

 

Duduk lah kalau begitu… Tuh di depan masih ada bangku yg kosong..” ‘Sahut Saya dan di lanjuti respon kaget lagi dari kedua orang Bapak-bapak di depan Saya.

 

Melihat itu kami bertiga pun terdiam, Saya semakin mendekatkan switch phone hands free ke arah mulut. Dan kedua Bapak-bapak itu hanya menggelengkan kepala mereka lalu melanjutkan obrolanya.

 

Hey nak…” ‘Ucap Bule.

 

Ya..?” ‘Balas Saya.

 

Kamu lupa sesuatu ya ?” ‘Tanya Bule kembali dan langsung di lanjutkan oleh ucapan Kinan. “Ya kamu lupa sesuatu ya dev.. Hihihi…

 

Hah……….sesuatu apa..??” ‘Balas saya sembari bingung dengan mimik bengong khas ala Saya.

 

Kinanti lalu berbisik kepada Saya, disisi lain Bule hanya tertawa seperti hal nya dia tahu apa yang Kinanti bisikan. Saya cukup terdiam bengong setelah mendengar sesuatu yang Kinanti bisikan.

 

Owh… Hehehe… ga perlu lah, dia sudah tahu kok soal perasaan saya, jadi ga perlu ada penjelasan lagi dah…” ‘Tandas Saya.

 

Tapi kau belum bilang secara langsung kan nak ??” ‘Tanya Bule lagi.

 

Ga perlu lah itu…Sinetron banget dah…” ‘Ucap saya sambil sedikit tertawa.

 

Yakin??” ‘Sambung Kinanti.

 

Kalo jodoh.. Ga bakal kemana kok.. Hahahahah…” ‘Balas Saya sambil tertawa cukup keras dan kali ini membuat Ibu-ibu dan kedua Bapak-bapak itu akhirnya memilih pindah tempat duduk.

 

Kami pun mengobrol lumayan banyak hal di waktu yang cukup singkat itu, saking terlalu asyik kami mengobrol tak terasa sudah lewat 1 jam hingga pengumuman untuk keberangkatan saya pun terdengar kembali di ruangan gate 17 ini, kami berhenti sejenak, dan tiba-tiba kami saling diam dengan ekspresi datar masing-masing lalu saling memandang satu sama lain.

 

Baiklah… udah saat nya, aku harus pulang..” ‘Ucap Saya sambil berdiri dari tempat duduk bersamaan dengan Bule dan Kinanti.

 

Saya pun mencoba mendekati mereka, mencoba merasakan energi yang mereka pancarkan sebelum saya harus melangkah meninggalkan mereka, pantulan energi mereka begitu kental dan hangat kali ini, ingin rasanya Saya menarik energi tersebut dan membawanya ikut serta dalam perjalanan pulang saya.

 

Be Safe and Good luck, son” ‘Ucap Bule sambil memegang bahu Saya.

 

Baik-baik kamu disana ya… kami bakal rindu sama kamu dev..” ‘Ucap Kinanti sambil terus tersenyum hangat.

 

Saat setelah Kinanti berkata seperti itu, Saya terdiam sesaat, Saya melihat air mata Kinan turun untuk pertama kali nya. Air mata itu turun melewati senyumnya yang hangat. Tanpa Saya sadari gejolak emosi itu pun muncul kembali di dalam benak saya, dan jujur saya sedikit berkaca-kaca saat ini, tidak tega melihat Kinan menangis memang.

 

Terima kasih untuk semuanya ya… Kalian yang tenang disini.” ‘Ucap Saya sembari membalikan badan dan lalu melanjutkan berjalan kaki ke arah petugas tiket.

 

Kali ini, terhampar jelas sebuah kenyataan di depan Saya, bahwasanya Saya mungkin tidak akan bertemu kembali dengan mereka. Terlalu ekstrim kalau saya harus menangis di antara orang-orang yang sama ingin menaiki pesawat disini. Namun sejujurnya, sejujurnya di dalam hati saya saat ini, saya menangis sejadi-jadinya.. dan terus semakin menjadi-jadi seiring langkah kaki yang semakin menjauhi mereka. menjauhi keluarga extraordinary yang selama ini selalu ada di samping saya sedari awal saya berada di pulau yang sangat luar biasa ini.

 

Selama berjalan sampai masuk kedalam pesawat, pandangan saya terus menatap ke depan, tidak sedikitpun menengok ke belakang, terlalu berat bagi saya untuk menengok kembali dengan gejolak emosi yang semakin meningkat seiring meninggalkan tempat ini.

Saat sudah terduduk di kabin pesawat, saya mencoba menyebut nama mereka di dalam hati namun mereka tidak pernah muncul setelah itu. Bahkan setelah saya sampai di Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

 

Di Lobby kedatangan, saya mendapati Ibu dan Adik saya yang sudah datang menjemput. Waktu menunjukan pukul 11 malam. di tengah malam yang cukup dingin di kota tempat kelahiran saya, senyuman dari orang terkasih sudah sangat cukup menghangatkan. Akhirnya kami bertiga pun menuju ke area parkir untuk mengambil kendaraan dan langsung menuju rumah.

 

Sehabis diguyur hujan, suhu kota ini luar biasa dingin, sedingin perasaan saya yang masih mengingat-ingat sosok dari Jaenal, Lucy, Bule, dan Kinanti yang sekarang jauh, tidak sedekat dulu. Mengingat-ingat saat bersama mereka, kisah dari mereka, hari-hari yang dilewati bersama mereka, dan memikirkan bahwa mungkin besok akan terasa berbeda.

Setelah menyusuri jalanan Bandung yang dingin dan sepi setelah di guyur hujan, akhirnya saya sampai di rumah saya sendiri.

 

Setelah di dalam, kami semua melanjuti dengan makan malam bersama, ya walau sedikit telat karena sudah masuk tengah malam, namun sangat terasa spesial karena kali ini saya makan malam beramai-ramai dengan keluarga yang bisa di sentuh dan di lihat secara normal, tidak seaneh seperti sebelumnya.

Setelah selesai makan malam sembari membereskan bekas makan malam, saya pun berniat ingin langsung beristirahat karena perjalanan udara yang cukup berat hati malam ini, dan ditambah saya ingin langsung melanjutkan aktifitas baru esok paginya.

 

Udah kamu langsung istirahat aja sana, Lagian kamar kamu yang diatas udah bisa langsung di pakai kok, semua sudah ibu beresin, abis ini ibu mau langsung tidur juga. Ngantuk..” ‘Ucap Ibu saya sambil membereskan meja makan.

 

Iya bu, makasih.. aku juga rada ga enak badan” ‘Balas Saya.

 

Saya pun beranjak ke atas, masuk ke kamar yang memang sudah disiapkan, masih rapi dan mungkin lewat satu minggu bakal berantakan lagi. Setelah menyimpan dan merapikan semua barang-barang bawaan, saya terus terduduk di sebuah sudut kamar, mencatat ini semua. Sambil sesekali memutar pandangan ke segala arah di dalam ruangan kamar. Masih memikirkan mereka ber empat, membayangkan kalau mereka disini mungkin kita bakal ngobrol dan bercanda sampai pagi, ditengah membayangi itu semua, saya sesekali menyebut kembali nama mereka.

 

Jaenal… Lucy… Kinan… Bule…

 

Terus seperti itu berulang-ulang namun mereka tidak muncul juga, hingga akhirnya….

 

Iyaaa……..

 

Terdengar suara dari seorang wanita yang menjawab pelan, diiringi sosoknya yang muncul menembus pintu kamar.

 

Kamu….???” ‘Ucap saya terdiam setengah kaget dan bengong menatap seseorang yang sekarang melayang di depan saya.

 

Selamat Kembali Ke Rumah…. My Dear Devas……” ‘Sahut Nancy dengan sinis.

 

…….Ohh… Damn…” ‘Jawab Saya sambil menelan ludah dan sedikit menghela nafas.