“Apa itu yang kau gambar?” ‘Sapa lucy menghampiri saya yang sedang duduk di balkon kosan.

“cuma gambar-gambar biasa..” ‘Jawab saya masih fokus menggambar.

Malam itu terlihat cerah, bulan penuh begitu terang menerangi dunia, suara-suara malam bermunculan, angin malam begitu sejuk berbeda sekali saat di dalam kamar yang terasa panas.

Saya duduk dan menggambar sambil ditemani secangkir kopi malam itu, pikiran saya sama sekali kosong, biasanya pikiran saya selalu melanglang buana, tapi malam ini tidak terpikirkan apa-apa sama sekali.

“Dev.. Kapan aku bisa maen ke tempat kerja mu lagi ??”

“Untuk ke sekian kalinya ya lucy… NGGA..!!!”

“Huft…. Oke….”

Lucy memohon lagi kepada saya agar saya mengizinkan dia ikut apabila saya berangkat kerja. Sebenarnya dia bisa saja dengan mudah berpindah dari kosan ke tempat saya bekerja.
Namun sudah ada kesepakatan kalau saya mengancam dia apabila dia melanggar, saya tidak akan pernah mengajaknya berbicara lagi.
Memang terdengar jahat, tapi saya lakukan itu semata-mata untuk kebaikan banyak orang.

Malam semakin larut namun saya masih betah bertengger di luar kamar, berulang-ulang di sela saya menggambar, saya melihat ke arah telpon genggam, hanya mengecek apakah ada pembahasan atau hanya sekedar konsultasi dan ternyata tidak ada.

Saya mencoba membuat pikiran melanglang buana kembali, mencoba mereview setiap part yang saya lewati dalam jangka 3 tahun kebelakang. Namun tidak ada memori satupun yang benar-benar tertancap di dalam otak.

Tiba-tiba dari dalam kamar terdengar suara tangis anak kecil, suaranya begitu familiar di telinga saya, saya mencoba menajamkan pendengaran, sekarang lucy sedang menangis di dalam kamar.

“Heeeuhh… senjata pamungkasnya dikeluarkan..”

Gerutu saya dalam hati karena lucy sedang mencoba mencuri perhatian saya dan saya memang terlahir untuk tidak tega mendengar anak kecil menangis.
Saya masuk ke kamar melihat lucy yang terduduk mengahadap tembok di pojokan tempat tidur dan dengan nada datar saya membujuk “udaaahh… Jangan nangis lagi, nanti lucunya ilang..”

Lucy membalikan badan, wajahnya semakin pucat dan kantung matanya semakin menghitam, dari mulutnya dan hidungnya keluar lendir berwarna kemerahan, kulit wajahnya terlihat seperti sosok yang sudah lama membusuk, aroma ruangan sontak berubah menjadi aroma bangkai yang sangat menjijikan.

Ekspresi marah lucy memuncak, dia melayang ke kanan dan kekiri dengan kondisi seperti itu, senjata pamungkas miliknya yang kedua. Namun saya masih tetap dingin menanggapi perubahan lucy tersebut.
Saya duduk membelakangi lucy yang masih dalam keadaan tidak wajar, saya menyalakan TV dan fokus pada televisi.

saat sedang mencoba untuk mencerna acara di televisi, kepala lucy tiba-tiba muncul dari layar televisi, bak sadako yang berada di film horror holywood, perlahan tubuh lucy pun keluar dari Televisi lantas melayang dengan wajah yang paling seram yang ia punya tepat di depan wajah saya. Namun saya masih saja dingin.

“WOI BINTIK….!!!! APA-APAAN KAMU TUH…!!!”

Saya membalikan muka dan dari belakang jaenal berteriak marah sembari menunjuk ke arah kami berdua. Dengan muka jauh lebih ekstrim dari muka lucy. Seluruh wajahnya berantakan dan tertutupi darah yang sudah mengering.
saat saya membalikan lagi muka saya ke arah lucy, wajah lucy sudah seperti biasanya kembali.

“Habis…!!! Aku kesal…!!! Kenapa aku tidak diijinkan untuk ikut devas bekerja.” ‘Bentak lucy sambil menundukan wajahnya.

Jaenal melayang pelan mendekati kami berdua.

“Mau ngapain kamu ikut…??!! Ngerepotin abang aja tau, mending kamu main sama penghuni bangunan sebelah yang botak-botak itu…!!!” ‘Balas jaenal juga dengan membentak.

“Enak saja kamu, mereka ga sepadan dengan ku.. Kamu lupa yah aku keturunan bangsawan… Dasar jelek…!!!!” ‘Kali ini lucy membalas lebih keras.

“BERISIK…!!!!!!!” ‘Teriak Bule sambil melayang menembus dari pintu keluar.

Mendengar teriakan bule, mereka berdua pun terdiam. Dengan memasang tampang dingin saya lalu melanjutkan menonton televisi yang sempat tertunda oleh tingkah kedua anak kecil tersebut.

Setelah bule muncul dengan teriakanya itu, jaenal dan lucy lantas menghilang. Bule lalu duduk diatas kasur tepat disebelah saya.

“Nak… kamu lagi kenapa tidak menengahi mereka…?? Biasanya kalau udah ribut gitu kamu suka menengahi..”

Saya tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh bule tersebut dan pandangan saya pun masih tertuju ke arah televisi.
Entah apa yang sudah membuat saya menjadi diam malam itu.
Terlihat bule hanya memperhatikan saya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Saya mengambil telpon genggam dan melihat beberapa media sosial atau hanya melihat update status dari contact yang saya punya lalu menyimpan tepon itu kembali dan melihat lagi ke arah televisi. Bule pun masih memperhatikan tingkah saya yang berbeda malam itu.

“Dia sedang dalam situasi sulit, tinggalkanlah dulu dia beberapa jam saja…”

Terdengar suara kinanti mengisi ruangan kamar kosan. Saya hanya melirik ke atas mencoba mencari tau dari mana sumber suaranya kinan.
Sesaat setelah suara kinan muncul, bule lalu menghilang seketika tanpa bekas. Dan Sekarang tinggal saya sendirian di dalam kosan, sangat hening dan sangat sepi malam itu.

Dalam hati, saya mencoba memanggil kinanti, berharap wajah pucatnya yang lembut muncul di hadapan saya karena hanya itu yang membuat saya tenang.

“Kamu kenapa ??” ‘Tanya kinati setelah saya panggil dalam hati beberapa lama.

“Entahlah.. Perasaan ku lagi ga tentu kinan” ‘jawab saya pelan.

kinanti pun muncul dengan wajah yang saya harapkan, dia melayang lalu duduk tepat di tempat yang bule duduki sebelumnya.
Dia hanya tersenyum melihat ke arah saya.
Energi yang dihasilkanya begitu ringan seperti angin sejuk yang berada di luar kamar.

“Kehadiran kita cukup membuatmu terganggu malam ini, maaf ya..”

“Ngga kok kinan, lagi pula udah sejauh ini..”

“Lantas kenapa ? Kau jenuh ?”

“Ngga kok ngga jenuh”

“Apa ada hubunganya dengan permintaan lucy ?”

Saya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan terakhir kinan tersebut. Saya masih fokus melihat televisi sambil memainkan remote televisi.
Selama acara berlangsung, saya dan kinanti terdiam bahkan sampai acaranya habis, kami berdua masih terdiam.
Saya melirik ke arah kinanti sekali dan setelah itu kinanti pun hilang.

Beberapa lama setelah kinanti hilang dari pandangan, saya membereskan tempat tidur dan setelah itu menjatuhkan badan saya serta pikiran saya yang sedang tidak menentu di atasnya.

Saat saya mencoba untuk tidur, ada suara kecil berbisik, suara itu seperti jauh namun jelas dalam pendengaran saya.

“aku tau kalau kau ga bisa berkehendak sesuai dari apa yang aku pinginin, aku minta maaf, Aku janji jadi anak yang baik deh sekarang, dan ga bakal bahas itu lagi, karena kamu udah janji sama diri kamu sendiri untuk gak nurutin kehendak kami kan..
Aku cuma pengen kamu bisa menuruti kehendak hati kamu tanpa harus terbebani kalau sebenernya keinginan hati kamu itu sama seperti aku, si jelek, om bule sama kak kinan inginkan juga, kita cuma ingin yang terbaik untuk mu…
Slaap veilig en hopelijk zoete dromen, Dev.”

‘Ucap lucy yang semakin lama semakin samar karena saya sudah masuk ke alam tidur.