Bau hujan masih melekat di hidung saya malam itu, otak saya seakan kusut setelah menjalani test singkat untuk sebuah hotel yang sekarang menjadi tempat saya bekerja.

Malam itu saya tidak berencana untuk pulang, hanya sekedar melepas penat dengan berdiam diri sambil meneguk secangkir kopi di pinggiran kota Bandung yang masih basah karena hujan. Serta memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.

Tanpa disadari kalau hujan kembali turun dengan agak lebat. Membuat Bandung yang basah menjadi dingin.

Hi kaka..

Tiba-tiba terdengar suara seorang anak kecil diantara suara orang-orang yg sedang berteduh malam itu. Suara itu terus terdengar lebih jelas dibanding yang lainya.

Mata saya menerawang sumber suara tersebut, dan saya tidak menemukan apapun.

Saya memutuskan untuk melanjutkan kembali meminum kopi hangat sambil menghisap sebatang rokok hingga menunggu hujan reda.

Pikiran saya yang sebenarnya masih kalut karena beberapa hal kebelakang membuat saya terkadang jadi sulit membedakan mana manusia atau bekas manusia itu sendiri.

Hi kaka…

Suara itu muncul kembali dan kali ini diiringi suara lonceng yang sangat tidak asing di telinga saya, saya menyebut satu nama dalam hati.

Sukma” ‘Ucap saya.

Ketika saat itu pula, di seberang jalan saya melihat sesosok anak kecil, sedang terlihat kegirangan karena hujan yang turun malam itu.

Saya melihat Sukma, sosok anak kecil yang selalu menghantui hidup saya sejak saya duduk di bangku SMK.

Saya melihat kearahnya, dia pun melihat ke arah saya, dalam hati saya berteriak.

Sukma, ngapain kamu hujan-hujanan, nanti kamu sakit loh

Seakan mendengar apa yang saya sampaikan dalam hati, ia pun berlari ke arah saya tanpa mempedulikan kendaraan yang melintas cepat di jalanan. Dan Sukma sekarang sudah berdiri tepat di depan saya sambil memainkan kepalanya sehingga ikat rambut yang ada lonceng nya itu bersuara.

Kamu bukanya sudah pulang ? Dari mana kamu bisa tau kalau aku ada disini” ‘Spontan saya bertanya tanpa menghiraukan orang-orang di sekeliling saya.

Sukma hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa lantas bilang “kaka, kamu sekarang lebih tepat di panggil bapak atau om yah, kini muka mu sudah tua yah hahhahahahaha” ‘Sahut Sukma girang.

Terima kasih” ‘Balas saya ketus sambil kembali menyeruput kopi yang sudah mulai dingin. “Kamu belum jawab pertanyaan ku..” ‘Lanjut saya.

Aku…aku… Beberapa bulan ini aku sering merasakan kehadiran kaka, eh om devas eh pak devas hahaha” ‘Jawab Sukma.

Beberapa bulan terakhir ?” ‘tanya saya.

Sukma hanya mengangguk, dan dia lantas duduk di sebelah saya.

Kaka kemarin kemana ? Sejak kaka nganterin aku pulang, sejak saat itu aku ga pernah ketemu kaka lagi” ‘Kali ini nada bicaranya berubah menjadi sedih.

Saya lalu mengingat-ingat kembali moment itu, mencoba menerawang kembali ke masa lalu saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu.

Aku ga kemana-mana setelah nganter kamu pulang, malah kadang sepertinya kamu suka ngunjungin aku, kadang pas aku lagi ngerjain PR atau Tugas dari sekolah dulu, aku sering denger suara lonceng mu itu” ‘Jawab saya sambil menunjuk ikat lonceng di rambutnya. “Tapi setelah itu aku memang harus pergi jauh, ninggalin semua yang ada di kota ini termasuk kamu.” ‘Lanjut saya sambil kembali mengamati orang-orang yang sudah memulai untuk melanjutkan perjalanan karena hujan sudah reda.

Kaka…” ‘Ucap Sukma sambil berdiri menghadap ke arah saya.

Ya ?” ‘Balas saya singkat.

Fuhhhhh fuhhhh fuhhhh hihihihihi” ‘Spontan Sukma meniup kening saya, seketika itu udara hangat mendarat di sekujur tubuh saya yang sedari tadi menahan hawa dingin karena hujan. “Jangan sedih lagi ya…” ‘Lanjut Sukma sambil tersenyum manis ke arah saya.

Saya hanya bisa cengo, dan membalas senyuman anak kecil yang selalu terlihat bahagia tersebut.

Iya, makasih ya Sukma” ‘Jawab saya singkat.

Dia seakan tahu apa yang sudah saya lewati sampai titik sekarang, mungkin dulu saat pertama kali saya melewati tempat istirahat terakhirnya, tanpa saya sadari Sukma mungkin memperhatikan saya. Karena tempat peristirahatan Sukma dekat dengan rumah seseorang yang sempat mengisi hari-hari saya saat itu.

Kaka ga akan pergi jauh lagi kan ?

Ucapan Sukma membuyarkan lamunan saya malam itu. Saya hanya bisa tersenyum dan mengiyakan apa yang Sukma bilang. Dia merespon dengan senang, suara lonceng nya kembali terdengar malam itu.

Tanpa terasa kalau malam sudah semakin larut. Jalanan sudah lumayan sepi, malam itu saya habiskan mengobrol dengan sosok kecil Sukma yang periang. Saya berjanji padanya untuk mengenalkan dia pada teman-teman kecil saya, pada Lucy, Jaenal dan Eveline. Mendengar itu Sukma terlihat semakin senang.

Hingga akhirnya saya lalu memutuskan untuk pulang dan beristirahat.

Sesampai dirumah, di dalam kamar, saya mengambil catatan dan mencatat apa yang baru saja saya alami. Bagi saya ini mungkin salah satu titik balik.

Tuhan seakan tahu bahwa yang perlu saya lakukan adalah kembali mengulang. Karena kebahagiaan itu ada apabila kita yang buat kebahagiaan itu sendiri dan dengan mengulang kebahagiaan tersebut setiap hari agar membuat hidup jadi berwarna kembali. Baik untuk diri saya sendiri atau orang-orang di sekitar saya.