Malam itu saya terduduk di balkon rumah sendirian, menatap langit cerah yang penuh dengan bintang-bintang sehabis hujan sejak sore hari. Kalau dulu, saya selalu menghabiskan waktu untuk melihat hamparan biru lautan dari tepi pantai. Sekarang saya selalu menghabiskan waktu untuk melihat lautan angkasa dari balkon rumah.

Kali ini sosok-sosok itu tidak muncul seperti biasanya, dimana biasanya Nancy selalu mengagetkan saya apabila dia menemukan saya dalam kesunyian, tidak pula Kapten Van Roelf yang selalu berteriak tegas menyebut saya pribumi apabila dia melihat saya sedang sendiri, Aki yang selalu muncul dalam bentuk harimau kurus seperti dalam film Life Of Pi yang selalu duduk di sebelah saya saat saya terfokus memandang jauh ke angkasa dan Eveline yang cerewet saat saya hanya bisa terdiam tanpa kata. Malam itu saya benar-benar sendirian.

Suara desiran angin dan suara jangkrik lah yang menemani saya malam itu. Sesekali saya menyeruput kopi yang sudah dingin karena suhu

malam itu. Hampir 3 jam saya terduduk sendirian disana. Waktu sudah menunjukan jam 1 dini hari. Saya sama sekali belum mengantuk dan catatan yang berada di pangkuan saya pun belum terisi penuh.

Desir angin semakin dingin beriringan dengan waktu yang berjalan. Hingga akhirnya sosok-sosok yang tidak pernah berbicara itu muncul.

Sosok yang selama ini yang saya sebut 3 Diva. Tiga wanita yang selalu tampak menyeramkan dan… Menyeramkan.

“Huft kenapa harus kalian lagi sih yang nongol” Saya berbisik diantara sepi malam itu.

Respon mereka tetaplah sama, cekikikan, menangis dan tak menggubris sama sekali. Mata kami pun menerawang satu sama lain, pandanganku terhadap bintang-bintang diatas sana teralihkan oleh ketiga sosok tersebut.

Cukup lama kami saling menatap dalam kesunyian. Entah apa yang mereka pikirkan terhadap saya, namun saya melihat adanya kesedihan luar biasa di belakang mereka semua. Kali ini rasa ketidaknyamanan saya akan kehadiran mereka berubah menjadi rasa empati terhadap mereka. Komunikasi dalam diam, itulah yang saya lakukan malam itu. Sampai akhirnya setelah sekian lama saya berinteraksi dengan mereka. Dua patah kata keluar dari mulut mereka bersamaan.

“DEVAS CODET !!!”

Saya terhenyak, ekspersi cengo khas saya pun muncul dalam beberapa detik dan di ikuti rasa kesal setelahnya. Kenapa harus kata itu

yang keluar pertama kali dari mulut mereka.

“Maksud kalian ??? Ini bukan codet.. Ini hanya iritasi terhadap

alergi suhu udara sewaktu aku tertidur di ruang tengah !!!” ‘Cerocos saya kesal terhadap mereka.

“Hihihihihi… Maafkan kami, entah mengapa kami ingin sekali mengomentari mu saat ini. Walau kami tahu sudah banyak hal bodoh yang kau lakukan setiap hari De” ‘Ucap salah satu sosok yang selalu cekikikan.

Salah satu anggota 3 Diva itu selalu saja ceikikian, selalu terlihat bahagia karena tidak pernah sekalipun saya melihat dia bersedih, sungguh bertolak belakang dengan sosok yang satunya.

Tanpa tahu apa yang mendasari mereka jadi seperti itu. Namun perkiraan saya saat ini adalah. Mereka mewakili dari setiap individu manusia bahwa senang, sedih dan sunyi akan selalu ada di dalam diri manusia manapun.

“Kalian tahu, sudah hampir 5 bulan aku mengenal kalian namun aku belum tahu mengenai kalian satupun, selain bahwa kalian sangat menyukai gudang di lantai 2 dirumah ku. Diantara penghuni lain hanya kalian saja yang tidak pernah sedikitpun berbicara padaku. Sombong sekali !!!”

Papar saya dengan nada ketus dan mulai mengadah lagi ke arah bintang-bintang.

Memang benar, mereka terdiam kembali beberapa saat, tidak pergi dan beranjak dari tempat mereka muncul. Hingga akhirnya.

“Huhuhuhuhu… Kejam sekali kau De, menilai kami sombong kepadamu huhuhuuuu..” Ucap salah satu sosok yang selalu saja menangis tersedu-sedu.

“kau yang seharusnya mendapat predikat sombong De, kau tau mengenai keberadaan kami bertiga namun kau selalu mengganggap kami tidak ada. Apa karena tampilan kami yang tidak se- wah wanita belanda tersebut. Tidak se- bagus dan unik seperti sosok tentara belanda dan kakek tua itu ? Atau tidak selucu anak kecil cerewet yang selalu minta perhatian lebih padamu itu” ‘sosok yang selalu tanpa ekspresi itu pun mulai angkat bicara dan diiringi dengan beberapa pertanyaan dari dua

sosok lainya.

Kali ini saya jatuh dalam kebingungan, walau disisi lain saya senang bisa membuat mereka berbicara banyak namun disisi lain apa yang mereka ucapkan ada benarnya juga. Dan akhirnya terpintas dalam pikiran saya, saya teringat kata-kata seorang teman lama, namun seperti biasanya mereka selalu tahu apa yang saya pikirkan.

“Ga usah menunggu orang lain ramah dulu untuk membuat kita ramah, namun cobalah kita ramah terlebih dahulu terhadap semua orang, itu kan yang kau pikirkan saat ini, kata-kata itu berputar di kepalamu, De”

lanjut sosok tanpa ekspresi itu membuyarkan semua yang sedang saya pikirkan.

“Hahaha… Curang sekali kalian, selalu saja tahu apa yang sedang manusia pikirkan. Apa yang sedang berada di dalam pikiran ku, ga adil” Respon saya cepat, menanggapi kata-kata si sosok tanpa ekspresi.

“Jadi kalian iri terhadap Nancy, Kapten, Aki dan Eveline yang selalu aku anggap ada dibanding kalian ??” Dilanjutkan oleh pertanyaan saya.

“Baiklah, aku minta maaf” Ucap saya mencoba mengakhiri argument mereka agar tidak terus menembak saya dengan keluh kesah mereka. Setelah itu mereka bertiga pun menghilang, rasa kebingungan itu kembali muncul di dalam benak saya. Meski dalam keadaan bingung, sayapun tersenyum puas karena akhirnya mereka mau berbicara kepada saya meski hanya dalam waktu singkat.

Saya arahkan kembali pandangan saya ke angkasa, menerawang bintang yang tergantung kokoh di langit sana. Rasa kantuk belum saja datang. Seketika itu pula tiba-tiba satu persatu sosok-sosok itu muncul kembali. Kali ini tidak seseram seperti biasanya, mereka muncul dengan tampilan jauh lebih baik dan sopan, meski mereka terlihat pucat, saya akui mereka bertiga terlihat cantik dan anggun malam itu, benar-benar cocok dengan sebutan 3 Diva yang saya berikan kepada mereka.

“Huhuhuhuuu kenapa kamu melihat kami seperti itu ? Kamu tidak suka De huhuhuu..” Sahut sosok yang selalu sedih itu membuyarkan kembali pandangan saya.

“Ehhhh… Bu…bukan itu, aku hanya… Hahaha aku hanya tak menyangka kalian bisa tampil seperti sekarang, kenapa ga dari dulu aja sih… Aneh !!!” Balas saya.

“Hihihihi… yang aneh itu kau De, seperti tidak pernah melihat wanita cantik saja hihihihi…” Lanjut sosok yang selalu ceria.

“Enak saja, hati-hati kau bicara ya…” Balas saya lagi.

“Dan… Kau yang ditengah, kau tetap tanpa ekspresi dan dingin.. Sama sekali tidak terlihat perbubahan.” Lanjut saya seraya menunjuk sosok yang selalu dingin tersebut.

Semua terpaku dan terdiam, termasuk saya, saya sempat berpikir apa ada yang salah dari apa yang sudah saya ucapkan. Sosok-sosok itu

kemudian menundukan kepala mereka. Saat itu meskipun tampilan mereka jauh lebih baik, namun terasa lebih menakutkan, bulu kuduk saya pun tiba-tiba berdiri. Dan tak lama setelah itu.

“Nama ku Laksmi” Ucap si wanita tanpa ekspresi.

“Huhuhu.. aku Intan” Dilanjut si wanita yang suka bersedih.

“Aku Retno hihihihihihi” sambung si wanita yang selalu ceria.

“…..*terdiam sesaat*….. Jadi itu nama kalian…, senang bisa tahu nama kalian… Aku…” Balas saya yang tiba-tiba saja dipotong oleh Laksmi.

“Kau Devas Codet….” ‘Ucap Laksmi dengan dingin dan tanpa ekspresi.

Saya pun terdiam, sama-sama tanpa ekspresi, menatap dingin penuh kesal ke arah Laksmi. Namun di pecahkan oleh cekikian Retno yang melihat tingkah kami berdua.

Malam itu pintu antara dunia saya dan dunia mereka bertiga yaitu Laksmi, Intan dan Retno mulai terbuka. Saya melihat kembali keatas langit, dan jam di tangan sudah masuk pukul setengah 3 dini hari, langit semakin cerah. Bintang diatas sana semakin banyak terlihat. Perkenalan kami secara verbal baru di mulai dini hari itu. Kami semua luput dalam indahnya langit saat itu.

“Hihihi itu… bintang yang disana tampak berjejer tiga…” Ucap Retno.

“Owh itu namanya buntut dari rasi orion” Jawab saya.

“Kau pintar sekali De, huhuuhu” Sahut Intan dengan tersedu-sedu.

“Hahahah.. Engga kok, seseorang yang ngasih tahu aku” Jawab saya sambil terus memperhatikan buntut orion yang Retno tunjuk.

“Saat kau bilang ‘seseorang’. Energi mu berubah” Tembak Laksmi dengan dingin.

“Hahahahaha…haha.ha…ha…ha…. *hening*…” Saya tertawa kikuk.

Kali ini mereka bertiga terpusat ke arah saya dengan serius, tatapan mereka tajam dan memojokan saya saat itu. seakan mereka bertiga kompak menerawang pikiran saya. Mencari-cari tumpukan berkas dalam pikiran saya mengenai hal yang bisa membuat energi saya berubah.

“Kalian apaan sih ah..!!!” Ucap saya setengah berteriak ditengah kesunyian malam itu.

“Gini deh yah… Sekarang kan udah masuk pagi, aku harus kerja paginya, jadi aku musti tidur hehehehhe…” Ucap saya terburu-buru.

“Hihihihi… 3 Bintang Buntut Orion mereka selalu bertiga sama seperti kami” Ucap Retno tiba-tiba. Saya pun melihat ke langit kembali, dan lalu melihat ke arah mereka bertiga.

“Hahahah… Iya juga ya mirip seperti kalian” Sambung saya seraya berdiri dari tempat duduk.

“De, terima kasih untuk malam ini ya.. Ternyata kau tidak sesombong yang kami pikir, kau masih menerima kehadiran kami kan ?” Ucap Laksmi.

“Heheheh tentu saja Laksmi, senang akhirnya bisa berbicara dengan kalian bertiga. Sekarang, apabila aku ibarat langit malam, kalian adalah 3 Bintang Buntut Orion di dalam nya” Ucap saya dengan senyum terbaik yang saya punya.

“Huhuhuuu… kau pandai merayu yah…” Balas Intan.

Mereka pun akhirnya hilang satu persatu. Saya pun masuk ke dalam kamar, membuka kembali buku catatan sejak tadi kosong diatas pangkuan dan mencatat ini semua. Dan sekarang Saatnya menyisakan beberapa halaman kosong untuk diisi kisah dari masing-masing mereka.

Laksmi, Intan dan Retno ada apa dibalik kalian semua? Rasa penasaran itu pun menjadi teman tidur saya, dini hari itu.