Hay, aku Chandra, anak Tabanan, balik lagi nih dengan cerita di kampusku di Denpasar. Inget, yah.. aku cewek hehe. Terus maaf kalau aneh, soalnya ini cerita pertama yang aku kirim ke sini.

Aku meneguk sebotol air mineral. Rasa hausku membuncah dengan ujian yang menguras otak yang baru saja berakhir setengah jam lalu. Aku duduk di pojok kantin bersama temanku, Suyu dan Santi. Semua diam, seolah isi otak kami memang sudah terpencar kemana-mana.

Suyu tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya. “Ke perpus, yuk. Gabung sama Sinta dan teman-teman lain. Aku bosen nih di sini!”

Sebenarnya aku agak enggan mendengar kata perpustakaan jika ingat kejadian beberapa Minggu lalu yang kualami bersama Adi. Tapi melihat Santi yang juga ikut berdiri, aku pun tak punya pilihan. Aish, rasanya ini seperti masuk ke rumah singa!

Sesampainya di perpustakaan kami bergabung dengan Dyah, Nian, Sinta, dan Kristi. Mereka terlihat sibuk bertukar cerita. begitu duduk di salah satu kursi aku baru sadar kalau topik yang mereka bicarakan adalah pengalaman seram yang pernah mereka alami. Astaga, rasanya aku memang masuk ke tempat yang salah kali ini. x_x

“Kalian tahu, nggak?” Dyah memulai ceritanya. “Dulu di sekolahku tempat pembantaian jaman G 30 S/PKI. Pasnya di kelasku lagi. Behhh, bodonya aku baru nyadar sekarang. Pantes aja dulu kelasku sering kedengaran ribut dari ruang guru padahal semuanya lagi pada belajar. Ternyata hantu-hantunya yang perang.” celotehnya, terdengar setengah bercanda.

Aku merebahkan kepalaku di atas meja, malas mendengarkan cerita yang hanya akan membuat tak berani ke kamar mandi. Entah sejak kapan suhu di perpustakaan ini semakin lama semakin dingin saja. Aku menghebuskan nafas berat. Jangan katakan dengan mengumpulkan cerita horror seperti ini penunggu di sini akan hadir.

Aku mengangkat kepalaku. Tubuhku bergetar, kepalaku sedikit pening, dan jantungku mulai berdebar. Sixth sense-ku bangkit lagi, dan keadaan ini adalah tanda-tanda kehadiran makhluk lain di sini.

Aku mengedarkan pandanganku ke deretan bangku kosong di sebelah kiriku. benar saja, makhluk itu datang lagi. Aku menelan ludahku, berusaha sekuat tenaga untuk tidak berteriak. Makhluk itu duduk dengan kepala menunduk dan wajah yang tertutup rambut.

Seolah sadar aku memperhatikannya, makhluk itu pelan-pelan menoleh. Ia menyeringai, menampakkan mata lengkung bulan sabitnya seperti yang kulihat waktu bersama Adi. Tubuhku mendadak lemas. Aku mengalihkan pandanganku dan menyandarkan kepalaku di pundak Nian.

Suasana semakin dingin, aku sadar makhluk itu tak hanya diam di sana. Aku melirik ke kiri, tak punya tenaga untuk menoleh. Makhluk itu telah berdiri dan menghadap ke arah kami. Perlahan ia bergerak. Gaun bagian bawahnya transparan dengan lantai. Aku hanya pasrah dan berdoa ketika ia semakin mendekat. Tak seorang pun sadar, di tengah keriuhan cerita-cerita mereka sesosok makhluk tak diundang datang dan melintas menembus tubuh mereka.

Aku menatap punggung makhluk itu dengan kepala masih bersandar di pundak Nian. Sekilas ia menoleh lalu menghilang setelah melewati rak buku.

“Chan, kok diem aja daritadi? Kamu sakit?” tanya Nian setelah cerita horor mereka berakhir.

Aku menggeleng.

“Aduh, mukanya jelek kayak gitu. Pasti ada apa-apa dah!” Suyu yang memang tahu aku memiliki sixth sense rupanya sadar dengan keadaanku. “Kamu lihat apa barusan?”

Aku menggeleng. “Ada yang lewat pas kita lagi cerita.”

“SIAPA?!” Nian merespon heboh.

“Nggak penting,” jawabku malas, membuat Nian mengerucutkan bibirnya.

Aku berdiri. “Yuk pulang!” usulku, diikuti teman-teman lain.

Tak ada yang pantas diceritakan untuk tadi. Aku tak mungkin mengatakan bahwa yang kulihat tadi adalah sosok perempuan bergaun putih panjang dengan rambut usang yang menutupi setengah wajah lalu memiliki bola mata yang hitam pekat dengan mulut meneteskan darah. Biar saja aku yang tahu sendiri toh tidak baik menjelek-jelekkan makhluk itu selama di tak mengganggu. (FIN)

Maaf kalau nggak serem. Komen yang bersahabat, yah?? ^^