Narasumber : Sahabat Reunion

Dapat cerita lagi dari Sahabat Reunion mengenai keangkeran perpustakaan di kampusnya, dan yang mengalami adalah salah satu mahasiswi tingkat akhir yang sedang berjuang untuk menyelesaikan skripsinya di salah satu ruangan di perpustakaan tersebut. Dan sepertinya gara-gara kejadian tersebut, hantunya menjadi semacam cerita urban legend di kampusnya, yaitu Hantu Muka Rata.

Ceritanya, mahasiswi itu sedang berada di salah satu ruangan yang bernama Ruang Tandon atau ruang tempat penyimpanan Skripsi yang berada di lantai 3, saat itu di dalam ruangan tersebut hanya ada dia dan seorang petugas jaga saat itu, seorang bapak-bapak. Waktu mahasiswi ke perpusatakaan itu sehabis mahgrib

Suasana di ruang tendon tersebut memang sepi, karena memang hanya para mahasiswa/mahasiswi saja yang sedang skripsi yang memanfaatkannya, dan juga aktivitas di kampus biasanya juga sudah sepi jam segitu, tapi khusus untuk ruangan itu dibuka sampai jam 8 malam.

Ketika sedang serius mengerjakan skripsinya, entah kenapa tiba-tiba dia merasa ada pergerakan di belakangnya, otomatis untuk menjawab rasa penasarannya dia pun menengok ke belakang, ya tentu saja tidak ada siapa-siapa, karena memang dia hanya sendirian di ruang itu, dia pun melihat ke arah bapak penjaga itu duduk agak terpisah dari ruangan tandon, beliaunya ada dan sedang membaca koran.

“Ah mungkin hanya perasaanku saja”dalam hati kecilnya. Dan dia pun melanjutkan menggarap skripsinya lagi, tapi ya lama-lama dia jadi nggak betah juga, karena dia tetap merasa ada yang bergerak-gerak di belakangnya, di tengok bolak-balik juga nggak ada siapa-siapa, akhirnya dia pun memutuskan pulang saja, perasaannya sudah tidak enak dan merinding.

Dia pun bergegas berjalan dan menghampiri bapak petugas perpustakaan yang sedang membaca Koran, dengan maksud mau berpamitan dan sedikit curhat juga berkaitan dengan situasi di ruang Tandon tersebut yang dia tadi rasakan.

Waktu dia hampiri, bapak petugas jaga itu membaca koran dengan posisi koran menutupi wajahnya.

“Pak, saya sudah selesai. Eh…Pak, tadi saya merasa ada yang berjalan seliweran di belakang saya. Saya pikirnya awalnya bapak, tapi ternyata saya lihat bapak sedang baca Koran. Siapa ya pak? Memang tadi ada orang lain yang datangkah? Soalnya yang saya tahu di ruangan ini hanya saya dan bapak saja khan?” Tanya mahasiswi itu, dia sih berharap si bapak menjawab ada yang datang selain dia di Ruang Tandon itu tanpa sepengetahuannya.

Tiba-tiba petugas jaga itu meletakkan koran yang menutupi wajahnya sambil berkata,”Oh itu tadi saya, mbak !”

“Dhugdhug..dhugdhug..dhugdhug..” Detakkan jantung si mahasiswi berdetak dengan kencang saat itu juga, kedua matanya terbelalak dengan lebarnya, entah bagaimana yang dia rasakan saat itu, yang pasti dia shock dengan apa yang dilihatnya di depan matanya saat bapak petugas perpustakaan itu meletakkan koran yang tadinya menutupi wajahnya, begitu dekat dan begitu jelas terlihat…muka bapak itu rata, hitam seperti aspal…

Untunglah mahasiswi itu tidak pingsan di tempat, walaupun sangat terkejut dengan pemandangan yang dia lihat, dia masih bisa lari dari ruangan itu yang berada di lantai 3, menuruni anak tangga, berlari secepat yang dia bisa agar bisa keluar dan meninggalkan perpustakaan tersebut.

Sampai di jalan di depan perpustakaan, dia berhenti dengan napas yang ngos-ngosan dan perasaan yang tidak karuan. Dia melihat sekelilingnya berharap ada orang atau apalah di lokasi saat itu juga..

Beruntunglah… perasaannya menjadi lega sekali, karena masih ada satu becak yang masih mangkal di depan perpustakaan tersebut. Setidaknya dia merasa tidak sendirian saat itu dan membuatnya menjadi lebih tenang.

Kemudian dia memanggil tukang becak itu, dan tukang becak itu menghampirinya sambil mendorong becaknya mendekati mahasiswi tersebut. Tanpa menawar lagi mahasiswi itu naik dan menyebutkan alamat tempat dia kost… siapapun dalam kondisi yang barusan dialami si mahasiswi itu bisa memahami, kenapa dia tidak menanyakan biayanya berapa kepada si tukang becak atau terjadi tawar menawar seperti yang biasa terjadi, yang penting baginya bisa sampai di tempat kostnya dan meninggalkan perpustakaan itu.

Mahasiswi itu berusaha duduk dengan tenang, sambil mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan itu, tukan becak pun mulai mengayuh becaknya, melaju meninggalkan perpustakaan tersebut. Mahasiswi itu berpikir semuanya sudah berakhir, tetapi dia salah duga.

Dalam perjalanan itu, bapak tukang becak bertanya,”Kenapa kok ngos-ngosan kayak begitu, Mbak? Saya lihat mbaknya tadi keluar perpustakaan sambil berlari kencang. Ada apa tho mbak?”

Seperti mendapat kesempatan untuk mencurahkan perasaannya, mahasiswi itu pun bercerita dengan menggebu-gebu soal kejadian yang baru dialami di Ruang Tandon, di perpustakaan itu.”Begitu ceritanya, pak” kata mahasiswi itu.

Tiba-tiba tukang becak itu berkata,”Oooh…seperti ini ya mbak?”

Mahasiswi itu khan jadi penasaran, bapak tukang becak itu barusan omong “Seperti ini ya mbak? Itu maksudnya apa sih? Saat itu juga dia menengok ke belakang, dan kembali shock karena muka bapak tukang becak itu rata seperti aspal, sama seperti yang dia lihat di perpustakaan.

Dan entah kekuatan dari mana, mahasiswi itu langsung meloncat keluar dari becak itu, dan kembali berlari sekencangnya meninggalkan si tukang becak itu yang mukanya rata, untunglah tempat kostnya tidak terlalu jauh dari lokasi kejadian.
——–
Kejadian yang dialami mahasiswi ini kemudian menjadi buah bibir di kampusku, aku pun mendengar cerita ini dari temanku yang pingsan saat antri di ATM depan perpustakaan, karena yang mengalami adalah temannya sendiri.

Dan karena kejadian tersebut, yang aku tahu sih, Ruang Tandon yang dulunya buka sampai jam 8 malam, sekarang dibuka hanya sampai mahgrib saja.

Terima kasih ya

861 orang dijangkau