Penulis : Iwan S.

Ceritanya sudah lama, saat masih sekolah dulu. Pada suatu hari seperti biasa ( meski tidak tiap hari) aku berencana untuk mandi dan mencuci disungai bedog bersama teman teman.

Sebagaimana karakter sungai dijogja kebanyakan sangat dalam meskipun airnya dangkal, jadi harus turun dulu menyusuri tebing untuk sampai disungai atau dibelik. Lalu sekitar jam 16.30 (kalau tidak salah hari senin) aku bersama 3 teman mandi disungai bedog diujung desa.

Setelah sekian lama mandi dan mencuci tak terasa waktu telah hampir memasuki senja, lalu salah satu dari kami meminta ijin untuk pulang duluan karena ada keperluan dan tinggal kami bertiga yang sepakat untuk pulang bersama.

Lalu sekitar jam 17.40 saat telah terdengar adzan magrib kami bertiga pulang. Pada saat itu meskipun kami harus melewati lereng yang agak terjal tapi suasananya masih agak remang remang sehingga tidak kesulitan untuk naik keatas.

Sesampai diatas salah satu dari kami berpisah karena memang jalur menuju rumah berbeda (beda desa tepatnya). Sehingga aku tinggal berdua yang masih harus berjalan mengitari kebun kosong dekat makam desa yang agak luas.

Saat sampai tepat disamping kebun kosong yang ditumbuhi rumpun bambu yang rimbun disana sini, meski selain itu juga ada beberapa pohon buah dan beberapa batang pohon kelapa, kami dikejutkan dengan suara seperti benda jatuh. “Krozzzaaakkk bluuuukkkk”… temanku yang sudah tidak asing lagi dengan suara itu langsung berkata “wach kelapa jatuh, lumayan buat bikin ketak”.

Saat itu aku bilang “ndak usah dicari, udah gelap” tapi kemudian dia berkata “tidak apa aku tahu tempatnya”. Sambil meletakkan ember cucian dia bergegas mendatangi asal suara yang diyakini sebagai kelapa jatuh, kami memang sejak kecil sering bermain disini sehingga hafal betul setiap sudut kebun kosong itu.

Setelah beberapa saat dicari akhirnya ketemu juga, lalu kami segera pulang. Selama dalam perjalanan meskipun kami sambil ngobrol apa saja tapi entah mengapa aku seperti dipaksa untuk terus melihat kelapa yang dibawanya, aku merasa ada yang tidak beres tapi aku berusaha untuk tidak menghiraukannya. Dan akhirnya dipersimpangan desa kamipun telah berpisah menuju kerumah masing masing…

Setelah itu aku rasa memang tidak ada masalah, tapi belakangan menurut kisah temanku yang bawa kelapa menemui kejadian aneh dimalam itu.

Ceritanya menjelang tengah malam saat sedang tidur dia tiba tiba mendengar suara gaduh dari arah dapur tempat dia meletakkan kelapa. Tapi dia mencoba tidak menghiraukannya dan menganggap suara itu hanya tikus atau kucing.

Tapi ternyata makin lama makin gaduh hingga akhirnya dia memutuskan untuk melihatnya. Setelah sampai didapur ternyata dia tidak menemukan apa apa, dan suara gaduh itu juga telah hilang.

Setelah berdiri agak lama kemudian dia bermaksud kembali ke kamar, pada saat dia berbalik arah dan hendak melangkahkan kaki tiba tiba dia mendengar benda terjatuh disudut dapur.

Kemudian dia menoleh namun tidak ada apa apa disana. Namun tiba tiba dia terkejut, wajahnya menjadi pucat setelah menyadari bahwa buah kelapa yang yang dibawanya tadi telah hilang dari tempatnya, dia berusaha mencari tapi tetap tidak ketemu, sampai akhirnya dia lelah dan memutuskan untuk kembali kekamar.

Namun ketika hendak melangkah lagi lagi dia dikejutkan dengan suara benda menggelinding, dan selelah ditengok ternyata kelapa yang dicarinya sudah berada dihadapannya, belum hilang rasa kagetnya saat penasaran dia akan mengambilnya tiba tiba kelapa itu telah berubah menjadi sesosok kepala manusia dengan wajah menyeramkan penuh darah dan rambut acak acakan.

Dia ketakutan dan dengan sekuat tenaga berlari masuk ke kamar, tapi kepala itu mengikutinya dengan cara melayang diudara dan menggelinding ke arahnya. Dia semakin ketakutan saat kepala itu menyeringai. Menurut kisahnya kepala itu lalu berkata agar dia mengembalikannya ke tempat dia menemukannya….

Kepala itu kemudian berubah lagi menjadi buah kalapa, lalu tamanku bergegas keluar rumah sambil menenteng kelapa itu. Selama dijalan sebenarnya ada 2 orang yang melihat tapi anehnya tidak terjadi tegur sapa.

Dia terus melangkah tapi tidak menuju ke kebun kosong areal makam tapi ke arah sungai tepi jembatan yang tempatnya agak terang dan ramai, kemudian dengan sekuat tenaga dia melemparkan kelapa itu ke arah sungai dan segera berlari ke arah jalan menuju warung angkring tempat kedua orang tuanya berjualan, dia tidak berani pulang meski ada 3 saudaranya dirumah.

Kedua orang tuanya heran kenapa dia tengah malam menyusul, mestinya jam 4 pagi baru datang bantu bantu berkemas. Dengan rasa takut dan gemetar dia segera menceritakan kejadiannya. Orang tuanya semula tidak percaya, tapi ada pembeli yang sudah tua membenarkan peristiwa itu. Bahwa dulu memang pernah ada makluk semacam itu berkeliaran, orang tua itu hanya bisa berpesan sebaiknya hati hati berurusan dengan makluk itu karena bisa balas dendam…

Karena lelah dan ngantuk akhirnya dia tertidur, hingga menjelang subuh saat dibangunkan dia tidak mau bangun, tubuhnya panas tapi menggigil, dia sakit demam hingga satu minggu lamanya.

Didalam mimpinya dia terus dihantui kepala itu, sehingga dia tidak berani untuk memejamkan mata. Meski begitu entah setengah sadar atau tidak dia juga sering menampakkan wajah yang ketakutan dan gemetar. Aku pernah menengok sekali, memang keadaannya sangat memprihatinkan, hanya bisa tergolek diranjang dan terus mengigau.

Akhirnya orang tuanya memanggil semacam ustad tapi agak berbau tradisional jawa yang gemar berhubungan dengan alam gaib . Ustad ini lebih mirip praktisi supranatural, menggunakan doa dan alat bantu berupa batu akik dalam “ritualnya”.

Setelah lama mencoba untuk berinteraksi dengan sang makluk akhirnya ustad itu menyerah dan mengaku tidak sanggup mengatasinya. Dia hanya berpesan pada orang tuanya agar banyak berdoa saja dan memintakan maaf bila ada kesalahan.
Tapi yang namanya jin rupanya memang tidak bisa diajak kompromi jika seseorang telah terlanjur berurusan dengannya. Temanku bertambah parah, dan akhirnya meninggal 3 hari kemudian…