Penulis : Adella Putri

min, boleh numpang bagi cerita? dulu aku ada akun di web reunion, kalo ga salah namanya carol3026, tpi kayaknya udah lupa deh :v aku ada kisah yg blm smpet dipost krna web ga bsa diakses dulu. aku gatau mau kasih judulnya apa min.

kisahnya saat aku menjadi panitia penerimaan anggota baru saat SMA kelas 12, tahun 2014. acaranya menginap di sekolah, lebih tepatnya di perpustakaan. nah, malam hari itu kami mengadakan jerit malam. ada dua lokasi, yang jalur satu di dalam gedung serbaguna dan jalur dua di area sekolah. aku cuma bagian jaga di pos satu jalur satu itu. jadi aku gak ikutan jaga di dalam gedung. seperti yg pernah saya ceritakan(kalo inget akun saya :v), saya memiliki kelebihan untuk mengetahui hal” gaib. baru dua orang yang lewat, aku dipanggil untuk ke pos start karena di sana ada masalah. aku spontan lari ke sana, berharap tidak ada hal ganjil. di sana teman” panitia memintaku untuk mengurus satu anak yg indigo tapi dia penakut. aku menaruh tanganku dari atas kepala dia sampai bawah, seperti meraba tapi tidak menyentuhnya. aku merasakan ada energi aneh di dahinya. panas dan negatif, kalau tidak salah saya sempat melihat warna aura energi itu merah. Ya, aku bukan orang sakti yg tau hal” begitu, yg kutau aku bisa menggunakan kelebihanku untuk menolongnya. Aku suruh anak itu diam dan tidak memikirkan hal” aneh. Aku tidak tau bagaimana, yg pasti aku merasa ada energi dari telapak tanganku untuk menyerap energi panas di dahinya. Setelah cukup lama, energi panas itu tidak terasa lagi. Tapi aku merasa ada sosok berwarna merah di belakangku. Untungnya, ada tiga cowok dari panitia yg juga memiliki kelebihan. Mereka menemui sosok itu menjauh dari anak” dan aku tidak tau apa yg mereka lakukan di sana. Yg kutau sosok itu seperti monster berwarna merah dan bertanduk. Setelah itu, aku disuruh untuk mengecek jalur dua di area sekolah. Tidak ada apa-apa. Namun panitia dari pos start memanggilku kembali melalui HT. aku berlari menemui mereka. Aku kira ada apa, ternyata mereka memintaku untuk sweeping jalur satu karena sudah selesai. Jadi aku dan tiga cowok panitia keliling gedung untuk menjemput panitia jaga dan mematikan oncor di sepanjang jalan. Saat sampai di lantai 3, di sana gelap sekali, oncor pun tidak ada. Tapi panitia jaga masih di sana, dia bilang oncor tidak bisa menyala. Aneh sekali. Tiba-tiba pandangan kami tertuju pada pintu kaca di ujung depan yang mengarah pada toilet dan tangga turun. Cepat-cepat kami menuju ke sana. Jujur, aku tidak tau ada apa, aku hanya mengikut ketiga cowok itu. Begitu kita membuka pintunya, ada tiga oncor nyala di sepanjang tangga itu. “itu ada satu”, kata seorang dari mereka. Entah apa yg dia maksud itu. Akhirnya satu cowok mengajakku untuk sweeping ke tangga itu. Baru saja aku jalan dan melihat ke bawah tangga, dengan spontan tanganku menunjuk ‘sesuatu’ yg sedang duduk di anak tangga terakhir, “itu dia” kataku. Aku melihat sosok berbaju putih panjang, rambut panjang agak basah, dan wajah pucat pasi, dia sedang menatapku. Tidak menyeramkan karena tidak menunjukan rupa seramnya, tapi matanya menyorotkan tatapan kesedihan. Temanku cowok itu turun duluan. Saat baru turun satu anak tangga, aku merasa ada energi yg berbeda, seperti ada garis/tembok yang memisahkan. Segera kutelentangkan kedua tanganku. Aku berusaha menarik energi itu turun. Awalnya aku tak percaya bisa melakukannya karena pertama kalinya. Temanku itu sudah di anak tangga terakhir. Dia tampak sedang berbicara dengan ‘sesuatu’ di tangga, tapi dia menggunakan mediasi oncor. Aku masih berusaha menghalau energi di tangga ini. Setelah aku beberapa anak tangga diatas temanku, aku menyadari di depanku ada sosok berwarna hitam transparan, berwujud pria bertopi, namun aku hanya bisa melihatnya seperti bayangan saja. Entah kenapa, tak kusadari, aku terun berjalan. Bahkan dapat kurasakan tubuhku menabraknya. Saat aku menoleh, sosok itu sudah tak ada. Temanku itu bilang, “sudah selesai”. Lalu kami memanggil teman-teman yg masih di atas tadi. Suatu pengalaman yg baru dan aneh bagiku. Itu adalah pertama kalinya aku merasa kelebihanku ini bisa berguna untuk orang lain. Tanpa perlu mempelajarinya, aku bisa menggunakannya. Namun setelah kejadian itu, aku tidak lagi menggunakannya.
sekian. terimakasih.