Narasumber : Sahabat Reunion
Kali ini masih soal cerita tentang kostan angker yang dulu pernah aku tempati yang terletak di belakang Universitas Merdeka Malang
Di cerita sebelumnya, aku masih menempati kamar yang berada di bawah. Kali ini karna kamar-kamar di bawah akan diperbaiki, akhirnya yg kost kamarnya di bawah, pindah ke kamar atas, termasuk aku tentunya.
Aku memilih kamar atas yg terletak di samping pas tangga, depan kamarku adalah dua kamar mandi, sebelah kiri kamar mandi adalah tempat jemuran dan sebelah kanan adalah kamar mbak Frina.
Pada hari itu setelah beres-beres dan membersihkan kamar sehabis pindahan, aku putuskan untuk tidur di kamar mbak Frina terlebih dahulu, karena malam itu teman sekamarnya sedang pulang kampung.
Seperti biasa kami selalu bercanda, mengobrol sampai tak tau waktu, dan tak terasa jam sudah menunjukkan waktu jam setengah 12 malam. Karna besok mbak Frina kuliah pagi,akhirnya kita memutuskan untuk tidur saat itu juga.
Tempat tidur di kamar mbak Frina merupakan tempat tidur besi yang bertingkat dua, saat itu aku memilih di bawah dan mbak Frina di atas, kenapa tidak tidur bareng-bareng saja? Karena aku suka menendang orang saat tidur secara tidak sengaja he..he..he..
Sesaat sebelum tidur, memang aku merasakan udara di kamar saat itu sangat gerah, aneh sekali…padahal saat itu malang sedang dingin-dinginnya. Menurut pengalaman, pasti akan ada sesuatu yang terjadi, dalam batinku. Tapi aku mencoba tak mengacuhkannya, karna pikirku, toh aku tidur berdua sekamar, apa yang harus aku takuti.
Akhirnya kami berdua pun terlelap…beberapa jam kemudian, aku terbangun dan mendengar suara adzan berkumandang, tapi kok dibarengi suara tangis samar-samar.
“ Jangan-jangan…!!!” dalam hatiku
Akhirnya aku cari sumber suara tersebut…Ternyata itu suara tangisan mbak Frina, setelah tahu aku lalu berdiri di atas tempat tidurku untuk melihatnya. Dia langsung turun dan kemudian duduk di tempat tidurku, dia lalu bercerita tanpa kusuruh, bahwa semalam, mulai dari jam 2 pagi sampai sebelum subuh, dia diganggu lagi oleh hantu yang sama seperti dia alami sebelumnya.
Saat itu, entah kenapa, mbak Frina dengan sendirinya terbangun sekitar pukul 2 malam. Kemudian dengan keadaan yang masih sangat mengantuk, dia hendak bergerak untuk sekedar membalikkan badannya. Tapi entah kenapa, tubuhnya terasa kaku, sama sekali tidak bisa bergerak
Saat itu juga mbak Frina tahu, bahwa ada sesuatu yang sedang mengerjainya…yahh, sesuatu itu dirasakan sedang memeluknya dengan erat di balik punggungnya, persis kejadian saat dia didatangi hantu yang menyerupai wajahku (narasumber)
Perlahan dia mengalihkan pandangan ke perutnya, yang merasakan ada tangan yang dengan erat memeluknya… tangan itu masih tangan yang sama, yang pernah dia lihat ketika itu, tangan wanita dengan kuku yang panjang…dan hitam serta keriput….
“ Sesuatu” itu tampaknya sadar kalau mbak Frina terbangun…hembusan napasnya terasa panas di tengkuk mbak Frina.
Mbak Frina pun berusaha memanggilku, tapi ternyata yang keluar dari mulutnya..hanya suara lirih memanggil namaku, jelas saja.. aku tetap tidur dan tak mendengarnya.
Tampaknya, hantu itu tertawa, karna hembusan nafasnya terasa panas kembali di tengkuk Mbak Frina. Kemudian mbak Frina mencoba memberanikan diri melirik cermin yang terletak di tembok, yang berhadapan dengannya. Tapi cermin tersebut posisinya berada agak ke bawah. Jadi posisinya Mbak Frina dari cermin itu yang terlihat mulai dari perut sampai kakinya saja.
Saat mbak Frina melirik ke cermin tersebut, terlihat bahwa di belakangnya terdapat kain hitam yang sudah pudar warnanya, dan sobek sana-sini….Yaaahhh… kain hitam itu pasti baju hantu yang sedang memeluknya dari balik badannya.
Seketika itu juga, pelukan itu semakin erat…sampai membuat mbak Frina kesakitan.
Dalam keaadaan seperti itu, Mbak Frina berusaha melafalkan berbagai macam doa yang dia bisa, tapi percuma karena saking takutnya, semua doa yang dia lafalkan..berantakan dan dia jadi lupa.
Alhasil, makhluk itu pun mentertawakannya, dan mbak Frina pun hanya bisa menangis. Hingga tak terasa terdengar adzan subuh berkumandang dan lepaslah dia dari gangguan hantu tersebut. Mbak Frina pun bernapas lega tapi masih sedikit menangis sesengukan