Sungguh, siapapun tidak akan begitu saja percaya mendengar kabar kematian seorang sahabat kita, apa lagi pada hari yang sama kita, pada hari kematiannya, kita sempat bertemu dan berbicara dengan sahabat kita itu.

Penulis mendengar cerita ini dari seorang warga, saat sedang ada layatan di kampung kami. Memang ada kebiasaan kami pasti melek di rumah warga yang berduka, untuk sekedar membantu menyiapkan tenda, kursi, dan hal-hal lain untuk persiapan kunjungan para tamu pelayat ke esokan harinya. Dan setelah itu kami ngobrol sampai melebihi tengah malam.

Ceritanya terjadi di kampung kelahirannya sekitar 10 tahun yang lalu. Kata beliau ada kejadian yang dialami oleh salah satu warga, seorang ibu muda, yang dikunjungi pada saat menjelang tengah malam oleh sahabatnya (seorang pria), yang sebenarnya sudah meninggal pada hari yang sama saat dia ditemui sahabatnya itu.

Saat di Rumah Marni.
Sudah beberapa hari anaknya agak rewel, sudah diperiksakan ke dokter dan diberi obat, tetapi bayinya tetap saja tidak sembuh-sembuh. Pada malam itu Marni (samaran) hanya bersama anaknya di rumah, sedangkan suaminya mendapat jatah masuk malam di sebuah pabrik, dan pulangnya selepas tengah malam.

Saat itu, sambil menggendong anaknya yang terus menangis.
Beberapa menit kemudian …”thok…thok…thok..” terdengar suara ketukan pintu depan, dan sang ibu pun segera bergegas untuk melihat ke ruang tamu dan mengintip dari jendela, untuk melihat siapakah tamu yang malam-malam berkunjung sebelum membukakan pintu.

Ternyata yang mengetuk pintu adalah sahabat lamanya, Panji (samaran) yang sedang berdiri di depan pintu. Marni pun agak sedikit ragu-ragu untuk membuka pintu untuk sahabatnya itu, apalagi dia hanya sendiri dengan anaknya yang berusia sekitar 1 tahun dan sudah larut malam, nggak enak juga sama tetangga, tapi dia juga agak heran mau apa sahabatnya datang malam-malam sekali dan juga dia juga mendapat informasi dari suaminya, yang kebetulan satu pabrik dengan Panji, kalau Panji sedang sakit, karena beberapa hari tidak masuk kerja…. Tapi akhirnya dia bukakan pintu dan mempersilahkan sahabatnya untuk duduk di kursi tamu.

Saat bersalaman, dia agak kaget juga karena tangan sahabatnya terasa dingin, dia perhatikan juga wajah sahabatnya itu juga agak pucat, tapi pada waktu itu dia berpikir mungkin karena perjalanan malam membuat tangan Panji jadi dingin dan juga masih belum terlalu sehat karena habis sakit, makanya wajahnya tampak pucat.

Panji pun cuma tersenyum saja, dan sepertinya bisa membaca pikiran sahabatnya itu.
“Aku ke sini cuma mau berkunjung dan tidak bermaksud macam-macam. Oh ya, katanya anakmu sakit ya? Ini aku bawakan obat untuk anakmu,”

Panji lalu memberikan sesuatu seperti sekuntum kembang untuk sahabatnya, dan memberi petunjuk bagaimana cara menggunakan kembang itu,”Ambillah segelas air bening, masukkan kembang itu ke dalam gelas, ditunggu sebentar baru diminumkan ke anakmu.”

Marni pun walaupun agak ragu-ragu, tapi tetap melaksanakan seperti apa yang diperintahkan sahabatnya itu. Dengan sendok kecil, diambil air dalam gelas dan memasukkan ke mulut anaknya, dan ajaibnya setelah meminum air itu beberapa sendok, panas badan anaknya berangsur-angsur turun dan akhirnya tertidur.

Betapa bahagianya Marni melihat kondisi anaknya seperti itu, dan memandangi sahabanya Panji sambil berlinang air mata bahagia, dan Panji pun tersenyum dan membelai kepala anak itu.

“Sudah ya…aku pamit dulu!” lalu tanpa menunggu jawaban Marni, Panji lalu berjalan keluar rumah dan menghilang di kegelapan malam. Marni pun hanya bisa terdiam, tapi setelah Panji sudah tidak terlihat, segera dia menutup pintu dan menguncinya, setelah itu menuju ke kamar tidur untuk meletakkan anaknya di kasur dan dia pun menemani anaknya, dan akhirnya ikut tertidur.

Sekitar jam 4 pagi, terdengar suara motor di depan rumah, Marni pun terbangun, segera dia membukakan pintu karena mendengar suaminya memanggilnya dari luar.

“Kok baru pulang jam segini, mas?” tanya Marni sambil membawakan jaket suaminya.

“Maaf, dik. Tadi ada berita lelayu di Pabrik, ada teman yang meninggal dunia, sekitar jam 9 – 10 malam, makanya setelah selesai kerja, aku ke rumah duka dulu, mmmm…” jawab suaminya sambil memandangi wajah Marni dan memegangi kedua pundak istrinya, seperti agak kesusahan dan juga kuatir ingin memberitahukan sesuatu kepada istrinya.

“Inalilahi Wainalilahi Rojiun… siapa mas yang meninggal?”tanya Marni

“Panji…dik.. sahabatmu yang meninggal,” jawab suaminya agak lirih.

“Apa??? Mas…kamu jangan bercanda kayak gitulah!!!”Marni berkata dengan nada gusar, suaranya meninggi, dia menatap tajam mata suaminya, seakan-akan ingin mengetahu kalau suaminya hanya bercanda.

“Dik… aku nggak bohong, Panji sudah tiada, Demi Tuhan aku bersumpah.” Jawab suaminya sungguh-sungguh.

“Nggak mungkin…nggak mungkin, mas.” Mata Marni pun mulai basah dan tubuhnya bergetar hebat

Suaminya yang melihat reaksi Marni yang sepertinya tidak percaya akan kabar yang dia sampaikan dan Marni terlihat syok, membuatnya menjadi kebingungan juga. Lalu dia peluk istrinya dan membimbingnya untuk duduk di kursi, dengan sabar menunggu Marni menjadi agak tenang.

“Kamu kenapa tho dik?” Apakah ada sesuatu ….?”

Sambil menghela napas panjang….. Marni pun menceritakan kembali apa yang dia alami…..

Betapa kaget suaminya mendengar cerita dari istrinya… tetapi dia pun ikut menangis bahagia, karena ternyata kedatangan arwah Panji untuk menolong mengobati anaknya yang sedang sakit, mereka berdua bersyukur kepada Tuhan untuk semua pertolongan ini.

Sebagai ungkapan terima kasih kepada mendiang Panji, keduanya pun melayat ke rumah Panji dan mengikuti acara sampai di pemakaman, dan berdoa bagi ketenangan dan kedamaian arwah Panji di depan kuburnya.

Dan sedikit informasi yang diketahui temanku satu kampung dan itu pun akhirnya diketahui oleh Marni sendiri melalui kedua orang tua Panji, bahwa ternyata Panji memiliki perasaan khusus atau ada memendam perasaan cinta kepada Marni sudah sejak lama, tetapi tidak berani dia ungkapkan. Mungkin karena tidak ingin merusak hubungan persahabatan antara mereka.

Setelah Marni menikah pun , Panji sepertinya juga tidak ingin menjalin hubungan khusus dengan wanita lain alias tidak menikah sampai dia meninggal dunia karena sakit. Mungkin sosok Marni tidak bisa digantikan dengan wanita lain di hatinya.

Dan Mungkin malam itu, Panji ingin berpamitan kepada Marni, wanita yang sangat dicintainya, untuk yang terakhir kalinya…entahlah…

Terima kasih… Kapten Lazaro