Ini cerita nyata yang dialami teman kerjaku, sebut saja namanya Pak Idwan (samaran) dan nama kampungnya tidak perlu disebutkan secara detail, tapi provinsinya ada di DIY. Kejadiannya sudah sangat lama sekali, sekitar tahun 1974 saat beliau duduk di kelas 2 SD.
Saat itu aku seperti anak-anak pada umumnya, mengisi waktu dengan bermain-bermain. Kondisi kampung saat itu seperti kampung di desa di pinggiran kota pada umumnya , masih banyak hamparan sawah-sawah yang luas hijau membentang , tanah lapang dan hutan-hutan kecil (kalau sekarang sih sudah tidak ada lagi, diganti dengan bangunan-bangunan rumah dan kampung yang padat). Kalau tidak salah ingat waktu itu musim laying-layang dan sawah habis panen padi, jadi biasanya sebelum sawah akan ditanami kembali, biasa digunakan untuk bermain layang-layang.
Sekitar jam 3 sore, aku bermain dengan teman-teman untuk menuju ke daerah persawahan, untuk melihat permainan layang-layang. Sekitar setengah jam kami asyik melihat layang-layang yang bertebangan di langit, ada yang besar dan kecil, juga ada yang saling beradu layang-layang, nah hal seperti ini biasanya yang kami tunggu yaitu mengejar layangan yang putus. Tapi dari kegiatan ini lah yang menyebabkan aku menderita hampir 2 tahun lebih lamanya dalam ketidak sadaran dan kelumpuhan.
Bersama dengan teman-teman sebaya yang lain, kami mengejar layangan tersebut sampai ke sebuah sawah yang ditengahnya ada Pohon Belimbing besar tumbuh dengan rimbunnya. Saat aku berlari di sekitar Pohon Belimbing untuk mengejar layangan tersebut, tiba-tiba aku jatuh seperti orang tersandung sesuatu. Aku mencoba untuk berdiri dan melanjutkan pengejaran, tapi entah kenapa kakiku sepertinya tidak mau mengikuti perintah otakku, saat itu badanku terasa sangat lemas, walaupun sudah dibantu teman-teman untuk berdiri, tetapi tetap saja kakiku tidak bisa kugerakkan. Akhirnya setelah yakin kalau aku tidak dapat berdiri dan berjalan, ada salah satu temanku yang meminta pertolongan dari warga yang kebetulan ada di sekitar lokasi, untuk membantu mengantar pulang aku, tapi karena aku tidak bias berjalan, lalu akupun digendong oleh warga tersebut. Sampai di rumah, orang tuakupun menjadi panik, karena melihat kondisiku yang lumpuh dan lemas.
Dari hari ke hari Kondisiku pun bertambah buruk, kedua orang tuaku pun berusaha mengobatiku ke puskesmas dan ke dokter . Sudah banyak obat-obatan yang diminum tapi semuanya tidak membuatku sembuh seperti yang mereka harapkan, mereka tetap mencoba untuk memeriksakan aku ke dokter yang lain, yang akhirnya menyarankan kepada orang tuaku agar dibawa ke rumah sakit. Tapi karena kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, akhirnya mereka memilih dengan cara altenatif untuk mengupayakan kesembuhanku.
Aku pun dibawa ke tukang pijit syaraf, karena menurut mereka mungkin aku keseleo, tetap tidak sembuh. Mereka kemudian mencoba membawa ke beberapa orang pintar, juga tetap tidak ada kesembuhan, bahkan kakekku sendiri (kata orang dianggap orang pintar) tidak bisa menolong cucunya sendiri. Intinya keluarga sudah berusaha sangat keras untuk kesembuhanku, tentunya dengan kemampuan ekonomi keluarga yang pas-pasan.
Hari, minggu, bulan, dan 1,5 tahun lebihpun berlalu, kondisiku semakin parah saja,tubuhku semakin kurus dan seperti mayat hidup. Semenjak aku mengalami jatuh di dekat Pohon Belimbing besar dan menjadi tidak bisa berjalan , kesadaranku semakin hilang dan tidak ingat apa-apa lagi. Ini menurut cerita dari orang tua dan tetangga yang tahu kondisiku saat itu, aku sepertinya tidak mengenal mereka lagi, dan ada kebiasan aneh yang aku lakukan setiap harinya dari pagi sampai malam hari. Dari pembaringan aku ngesot keluar rumah menuju teras depan dan di sana aku mengatur sandal-sandal yang ada di teras rumah, seperti menggelar dagangan lalu kemudian berteriak seperti pedagang ikan yang menawarkan dagangannya,
“Silahkan dipilih, mari-mari ke sini, dipilih-dipilih, ada ikan sepat, gabus, cethul, dan lain-lain.”
Jadi yang aku tawarkan adalah segala jenis binatang air yang biasa dikonsumsi manusia). Dan itu aku lakukan setiap hari dari pagi sampai malam. (Jujur saja aku tidak ingat atau ada memori kalau aku bertindak seperti itu )
Tubuhku semakin lama semakin kurus, karena memang untuk makan dan minum sudah tidak teratur lagi, tapi sering saat aku kerasukan , aku minta makanan dan minuman yang tidak wajar untuk manusia, tapi itulah yang terjadi dan aku bisa bertahan hidup walaupun tubuhku semakin kurus saja.
——-0000——0000——-
Mungkin Tuhan mendengarkan doa orang tuaku, entah dari mana datangnya pertolongan, ada seseorang Bapak , Pak Salimun (samaran) yang saat itu mendatangi rumah orang tuaku dan melihat kondisiku dan tergerak hatinya serta berjanji akan membantu kesembuhanku. Beliau mengaku bukan seorang paranormal, tapi mengaku sebagai seorang pengajar agama/pendakwah. Beliau juga menyarankan orang tuaku untuk menemui sesorang paranormal, Mbah Satro (samaran), kenalannya, yang pasti dengan rekomendasinya akan mau membantu.
Lalu orang tuaku pun mengunjungi Mbah Sastro di hari berikutnya, lalu mengutarakan maksud kedatangan mereka ke sini untuk usaha penyembuhan diriku dan juga disarankan oleh Pak Salimun. Setelah mendengar cerita dari orang tuaku mengenai keadaanku, Mbah Sastro kemudian mengheningkan cipta/menerawang sebentar, setelah beberapa saat beliau mengatakan kepada orang tuaku kalau aku kemasukan penghuni dari Pohon Belimbing besar. Masalahnya yang memasuki ke badanku bukan hanya satu atau dua MG, tetapi seluruh penghuni dari pasar ghaib. Dan alasan kenapa “Mereka” semuanya masuk ke badanku, karena secara tidak sengaja pada saat aku berlari di lokasi dekat Pohon Belimbing itu, ternyata adalah Pasar Ghaib, yang jadi masalah (karena aku tidak tahu dan lihat) aku menabrak barang-barang dagangan jualan “Mereka” dan”Mereka” tidak terima atas perbuatan yang secara tidak sengaja aku lakukan.
Mendengar penjelasan dari Mbah Sastro tersebut, kagetlah orang tuaku lalu meminta saran harus bagaimana baiknya, lalu Mbah Sastro memberi petunjuk untuk sebagai tanda ungkapan permintaan maaf kepada MG yang bersemayam di tubuhku,yaitu harus menyediakan “kepala kerbau” . Orang tuaku pun bingung, bagaimana mungkin mereka mampu membeli kerbau apa lagi dengan kondisi ekonomi keluarga yang yang pas-pasan. Mbah Sastro pun hanya tersenyum, karena yang dimaksudkan oleh beliau bukan kepala kerbau sesungguhnya, ternyata yang diminta adalah buah nangka muda atau gori yang besarnya seukuran kepala kerbau. Dan harus ditanam di sekitar arah selatan dari rumahku (150 meter), dan memang daerah yang dimaksud memang tempatnya angker, karena ada makam-makam tua, dan memang sering digunakan orang untuk membuang hal-hal yang berkaitan dengan ghaib (MG dan benda-benda pusaka). Kalau sekarang tempat tersebut sudah menjadi Stadion Sepak Bola di Yogya.
Orang tua ku pun melaksanakan saran dari Mbah Sastro.
Kira-kira setengah tahun proses penyembuhanku dilakukan dengan dibantu oleh Bapak Salimun dan Mbah Sastro. Dan ada semacam kesepakatan antara mereka berdua, kalau mereka akan saling mendukung dalam proses penyembuhanku. Bapak Salimun membantu dengan doa-doa berdasarkan agama yang ia yakini, dan Mbah Sastro dengan cara kebatinan.
Dan akhirnya kesadaran dan ingatanku bisa pulih seperti semula, hanya saja untuk berjalan aku perlu berlatih lagi untuk menguatkan otot-otot kakiku beberapa lama karena mengingat kondisiku saat itu. Syukurlah aku bisa berjalan kembali seperti dulu. Aku juga keluarga sangat bersyukur kepada Tuhan, karena melalui bantuan kedua orang baik itu, aku bisa pulih. Juga karena kejadian itu, aku harus mengulang SD mulai dari kelas 1 lagi.
Dan ada pesan dari mereka berdua yang disampaikan kepada orang tuaku, kalau mereka tidak perlu takut lagi kalau aku kemasukkan/kerasukan lagi, dan mereka menjamin kalau para MG sudah tidak mengganggu dan suka sama aku lagi …ha..ha…ha.. Tapi jujur saja, aku sendiri merasa kalau berada di tempat yang menurut orang agak angker, tidak pernah merasa takut, entah apa karena efek dari kemasukan/kerasukan MG satu pasar selama hampir 2 tahun tersebut, entahlah……
Terima kasih, aduh mohon maaf jadi kepanjangan ya…. Maklum pemula