Ini cerita yang aku dengar dari istriku, sedangkan istriku juga mendengarnya dari salah satu mahasiswanya yang merupakan teman dari mahasiswi yang mengalami peristiwa itu…. Ha..ha..ha.. jadi bingung ya.
Santi (nama samaran) adalah salah satu mahasiswa di kampus swasta di Yogyakarta, dia mahasiswa angkatan tahun 2008. Pengalaman yang membuat dia sempat mengalami shock terjadi sekitar tahun 2011, kebetulan terjadi di kampus tersebut.
Saat itu diadakan kegiatan untuk semua mahasiswa fakultas “T” semester 4 yang diselenggarakan oleh fakultas “T” tersebut. Santi kebetulan adalah mahasiswi fakultas itu yang diminta bantuan tenaganya sebagai salah satu panitia kegiatan tersebut, tepatnya sebagai “Kambing” atau kakak pembimbing untuk para (mahasiswa) peserta.
Kegiatan tersebut berlangsung sampai malam hari, diperkirakan akan selesai sampai jam 9 malam. Nah sebagai salah satu panitia, dia pun menunggu sampai kegiatan selesai dilaksanakan, dan kebetulan tugasnya sebagai kakak pembimbing sudah selesai dijalankan. Kebetulan tempat yang digunakan sebagai basecamp/pos panitia adalah di teras depan kantor istriku dilantai 1, sedangkan keseluruhan bangunan terdiri dari 3 lantai.
Saat beristirahat di basecamp, saat itu Santi sendirian,sedangkan teman-teman panitia yang lain sedang melaksanakan tugas mereka masing-masing, lalu tanpa dia sadari ada seorang gadis (seumuran dengan dia) mendekati dan menyapa Santi. Pada awalnya Santi merasa heran karena disapa seseorang yang belum dia kenal, tetapi saat itu dia berpikir, kalau cewek itu mungkin teman dari panitia yang lain. Lalu dia pun membalas sapaan dari cewek tersebut, dan selanjutnya diteruskan dengan obrolan yang cukup seru.
Ada beberapa panitia yang memperhatikan Santi dan teman barunya tersebut, mereka awalnya juga bertanya-tanya siapakah gadis cantik yang sedang asyik ngobrol dengan Santi, karena mereka juga belum kenal atau pernah bertemu dengan gadis tersebut selama mereka mengikuti perkuliahan di Fakultas “T”, tetapi akhirnya mereka pun mengabaikan keheranan mereka, karena menganggap mungkin itu teman Santi dari fakultas lain”, tapi satu kampus.
Entah kenapa, tiba-tiba si gadis berdiri dan mengajak Santi untuk mengikutinya menuju ke tangga ke lantai dua, kebetulan ada salah satu teman Santi, Wati (samaran) yang memperhatikan Santi dan teman barunya menaiki tangga menuju ke lantai dua. Wati sebenarnya heran kenapa mereka berdua mau naik ke lantai dua, sedangkan kondisi di atas remang-remang, karena sebagian besar penerangan sudah dimatikan, “Apa mereka nggak takut cuma berdua di atas?”, dalam hati Wati saat itu. Tetapi tampaknya Santi dan teman barunya tidak terlihat ragu untuk naik ke atas dan sambil menaiki tangga mereka dengan asyiknya mengobrol, sehingga awalnya Wati berniat akan menegur mereka, akhirnya membiarkan saja.
Setengah jam kemudian….
Ahhhhhhh….ahhhhhhhhhhrgghhh…ahhhhhhhrrrghhh …. terdengar jeritan Santi dari lantai atas.
Teman-temannya di lantai atas kaget mendengar jeritan tersebut, lalu bersama-sama mereka menaiki tangga ke lantai atas untuk mencari Santi. Di Lantai 2 mereka tidak menemukan Santi, kemudian mereka segera mencarinya di lantai 3, dan akhirnya mereka pun menemukan santi sedang terduduk lemas di lantai depan ruang perkuliahan, badannya gemetar, kedua tangannya menutupi wajahnya seperti barusan melihat sesuatu yang menyeramkan dan dia menangis.
Teman-temannya mendatanginya, Wati kemudian memeluknya dan mencoba menenangkannya, demikian juga yang lain. Karena kondisi Santi begitu ketakutan dan takut kalau terjadi apa-apa di lantai 3 yang kondisinya gelap, lalu dengan dibantu Wati, mereka bersama-sama turun kembali ke lantai 1 yang kondisinya lebih aman dan terang
Setelah diberi minum dan didoakan oleh teman-temannya agar Santi bisa tenang. Beberapa menit kemudian Santi bisa sedikit tenang, lalu teman-temannya menanyakan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi pada diri Santi di lantai 3, dan kenapa dia sampai berada di sana? Lalu si gadis temannya ke mana perginya?
Santi lalu bercerita, kalau dirinya seperti tersihir untuk mengikuti teman barunya naik sampai ke lantai 3. Saat di lantai 3, seperti ada kesadaran yang datang dan sempat kebingungan karena dia berada di lantai 3, dalam hatinya dia sempat bertanya-tanya,”Kok aku ada di sini?”
Dalam kebingungannya, Santi kemudian memegang tangan temannya. Nah disinilah awal mulanya dia mengalami kejadian seram, dia merasa seperti memegang tangan yang sangat dingin, tidak wajar. Lalu dia pun memandangi wajah si gadis dan….. wajah gadis tersebut berubah menjadi wajah yang menyeramkan… beberapa menit dia melihat wajah seram itu dan akhirnya membuat Santi melepas tangannya dari tangan gadis itu… mau berteriak seperti tidak ada tenaga dan suara dari mulutnya. Yang bisa dia lakukan adalah duduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dengan perasaan takut yang mencekam agar tidak melihat wajah seram tersebut.
Lalu setelah si gadis dengan wajah seram menghilang, barulah Santi bisa berteriak kencang untuk meminta tolong, dan selanjutnya teman-temanya menghampirinya.
Demikianlah ceritanya teman-teman, mohon maaf kalau tidak seram dan semoga menghibur. Terima kasih