Ini cerita yang aku dengar dari salah seorang teman pada saat melaksanakan tugas ronda di kampung, Ronda Malam Selasa. Yang punya cerita adalah pensiunan tentara AU, dan yang mengalami adalah rekannya saat masih aktif berdinas di Pangkalan AU Madiun. Kejadiannya terjadi di tahun 1984, mengenai waktunya tepatnya kejadian, beliau tidak ingat.
Inilah ceritanya.
Pak Totok (nama samaran) adalah seorang tentara yang berdinas di Pangkalan AU Madiun. Tetapi beliau setiap hari Sabtu selalu pulang ke Yogyakarta untuk menemui keluarganya yang saat itu ada di daerah Condong Catur Sleman. Dan setiap Minggu malam baru beliau kembali ke Madiun, biasanya dengan menggunakan jasa travel.
Pada hari kejadian seperti biasa, Minggu Malam, beliau dijemput dari rumah oleh supir travel yang sering menjadi langganannya. Posisi tempat duduk beliau saat itu sebenarnya agak sedikit ditengah, tetapi karena ada permintaan dari seorang ibu yang awal posisi duduknya dibelakang (dengan alasan sering mabuk kalau ada dibelakang), akhirnya Pak Totok pun dengan sukarela pindah ke bagian kursi belakang. Kira-kira penumpangnya ada sekitar 9 orang waktu itu.
Dalam perjalanan menuju ke Madiun, saat itu Pak Totok tertidur. Di daerah sebelum akan masuk ke Madiun, mobil travel mengalami kecelakaan, dan menyebabkan 2 orang penumpang tewas, seorang pemuda yang masih sekolah di SMA dan Pak Totok sendiri. Setelah kejadian, kedua jenasah kemudian dibawa ke Rumah Sakit terdekat untuk di visum. Tetapi sebelumnya kedua jenasah disimpan di ruang penyimpanan mayat terlebih dahulu.
Entah kebetulan atau bagaimana, ada seorang perawat yang ingin mengambil data-data dari jenasah-jenasah yang ada di ruang penyimpanan jenasah. Yang penulis dengar, ruangannya biasanya menggunakan AC agar ruangan dingin (mungkin supaya kondisi jenasah agar tidak busuk dan bau). Nah saat sudah menyelesaikan tugasnya, si perawat melihat ada salah satu jenasah yang tangannya terjuntai keluar dari selimut yang menutupi jenasah. Si perawat tidak merasa takut, karena memang sudah umumnya terjadi seperti itu pada jasad orang yang telah mati.
Lalu dia mendekati tempat jenasah tersebut dengan maksud ingin mengembalikan tangan ke posisi semula. Tetapi pada saat dia memegang tangan itu, yang ternyata adalah jenasah Pak Totok, si perawat merasa tangan Pak Totok hangat, lalu dia coba buka dan pegang seluruh badan, ternyata badan Pak Totok terasa hangat (kalau sudah meninggal pasti dingin dan yang jelas ruangan tersebut juga dingin karena ada AC).
Segera si perawat keluar dari ruangan tersebut dan memberitahukan kepada salah seorang dokter jaga (karena malam hari), kemudian dokter membawa peralatannya disertai oleh beberapa perawat menuju ke ruang penyimpanan jenasah untuk memeriksa “jenasah” Pak Totok.
Dan setelah diperiksa secara teliti oleh dokter dan para perawat, ternyata Pak Totok masih hidup hanya saja beliau mengalami koma. Segera mereka membawa keluar Pak Totok untuk mendapat perawatan yang lebih layak. Segera mereka menghubungi pihak Pangkalan AU Madiun, dan setelah itu Pak Totok pun dibawa ke Rumah Sakit AU di Madiun untuk dirawat di sana. Setelah sekitar 2 hari Pak Totok pun sadar dari komanya dan berangsur pulih seperti tidak mengalami kecelakaan.
Kabar meninggalnya dan kemudian berita susulan kalau beliau ternyata masih hidup, walaupun saat itu masih koma, terdengar sampai di Yogya. Narasumber dan teman-teman dari AU Yogyakarta pun segera menjenguk Pak Totok, dan mereka sangat senang saat berjumpa dengan beliau dalam keadaan baik-baik saja.
Narasumber cerita saat itu menanyakan bagaimana kejadian yang sebenarnya saat kecelakaan. Lalu Pak Totok pun bercerita, saat itu beliau hanya merasakan sakit luar biasa ditubuhnya dan tidak ingat apa-apa lagi, beliau tidak bisa menceritakan dengan rinci, karena saat itu beliau tertidur. Dan pada saat beliau mengalami koma, tidak ada yang bisa beliau ingat saat kondisi koma/mati suri, yang beliau tahu sudah berada di te mpat tidur rumah sakit.
Penulis pernah mendengar, kalau biasanya seorang mengalami mati suri, pada saat sadar kondisinya tidak seperti sebelumnya, salah satu yang pernah penulis dengar, bisa pikirannya jadi terganggu atau mungkin malah jadi bisu. Tapi saat penulis tanyakan kepada narasumber bagaimana dengan kondisi Pak Totok saat sadar dari komanya/mati suri, narasumber mengatakan tidak ada hal-hal yang mengkhawatirkan. Sampai saat ini kondisi Pak Totok biasa-biasa saja. Beliau masih beraktivitas seperti orang pada umumnya dan ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan pensiunan ABRI.
Ada satu hal yang penulis dengar dari narasumber tentang keluarga Pak Totok yang membuat penulis tertawa adalah istri dari Pak Totok selalu marah kalau tahu Pak Totok melaksanakan/melakukan penerbangan pesawat latih/tempur. Ha.ha..ha… maaf, hanya merasa aneh saja, sudah tahu suaminya dari AU dan yang pasti adalah pilot pesawat yang sudah merupakan tugas Pak Totok. Mungkin saking cinta dan takut kalau ada apa-apa sama beliau… he..he..he..