Selasa, tgl 12 November 2013, jam 20.00 WIB.
Akhirnya sukses juga menidurkan anakku yang paling kecil, jadi bisa buat cerita ini . Ini cerita dari tetanggaku yang berada satu gang dengan tempat tinggalku, kejadiannya sekitar 2 bulan yang lalu, kejadiannya sekitar jam 19.00 WIB. Inilah ceritanya.
Mbak Pur (nama samaran) hari itu akan pergi keluar rumah karena ada acara latihan koor untuk tugas di Gereja. Latihan koor diadakan di salah satu rumah warga yang lokasinya masih satu kampung. Saat itu Mbak Pur berangkat sendirian, biasanya sih mengajak anak perempuannya yang paling kecil (6 tahun). Tapi karena kebetulan suaminya tidak dinas malam dan bisa menemani anak-anak mereka, maka dia pun berangkat sendirian.
Sebagai gambaran jalan saja, rumahnya, termasuk rumahku juga, di depan rumah adalah kebun kosong milik departemen pertanian yang kurang lebih sekitar 5 tahun tidak digunakan lagi alias dibiarkan kosong dan tidak ada yang menjaga, dan yang pasti gelap. Kebun tersebut panjangnya kira-kira ada 100 meter dari mulai jalan besar masuk ke gang rumah dan berakhir di depan rumah penulis dan yang pasti sangat luas. Ada tembok sekitar 2 meter tingginya untuk membatasi kebun dengan jalan gang.
Kebetulan di sebelah kiri dari rumah penulis (masih di gang yang sama) ada tower untuk salah satu penyedia jaringan telepon seluler, juga ada jalan tembus di sampingnya untuk menuju ke gang sebelah. Letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Mbak Pur, sekitar 6 meter dari rumahnya. Nah Mbak Pur harus melewati tower dan rumah penulis untuk menuju ke tempat latihan koor.
Sebenarnya saat melewati tower, ada perasaan tidak enak yang dia rasakan, katanya tubuhnya merinding saat itu, dan entah kenapa menurutnya saat itu tidak ada motor atau orang yang lewat saat itu padahal biasanya sekitar jam 19.00 WIB biasanya masih ramai, juga penerangan jalan juga tidak terlalu gelap.
Walaupun begitu, Mbak Pur terus berjalan dan entah kenapa saat itu matanya seakan diarahkan untuk melihat ke arah kebun kosong yang berada di depan tower tersebut. Namanya kebun kosong pasti ada pohon-pohon yang tinggi besar (karena memang sebelumnya juga menjadi tempat pembibitan dan menjual bibit tanaman buah) dan banyak pohon pisangnya juga. Mbak Pur tertarik untuk melihat satu pohon yang terlihat dari tembok kebun kosong, awalnya dikira pohon pisang…. Tapi… ini kok nggak ada daunnya???
Karena Mbak Pur pakai kacamata untuk jarak dekat sehingga kalau melihat agak jauh agak kabur, maka diapun mendekati kearah tembok untuk memastikan apakah itu memang pohon pisang atau bukan. Dan yang dilihat adalah Mr Poci yang sedang memandanginya dan mengoyang-goyangkan kepalanya. Sekitar beberapa detik Mbak Pur tertegun dan ketakutan, katanya Mr Pocong itu kainnya agak lusuh dan berwarna coklat.
Akhirnya Mbak Pur pun menjauhi tembok kebun tersebut dan memalingkan wajahnya karena takut. Sambil berdoa dalam hati memohon perlindungan Tuhan, dia tidak jadi melewati rumah penulis, tetapi melewati jalan tembus di sebelah tower kea rah gang sebelah. Memang jalan menuju ke tempat latihan koor menjadi tambah jauh, tapi dia memilih untuk menjauhi tembok kebun itu, karena memang sudah ketakutan dan cemas kalau Mr Poci mengikuti dia di sepanjang tembok kebun itu.
Saat selesai latihan koor pun dia memilih untuk menelpon suaminya untuk menjemput dia dengan motor, karena takut harus melewati jalan tersebut dengan berjalan kaki, walaupun sebenarnya bisa jalan kaki bersama penulis dan keluarga yang searah dengan rumahnya. Tapi karena memang trauma dia nggak memikirkan sejauh itu . Mungkin dengan naik motor bisa lebih kencang jalannya kalau lewat depan tower tersebut dan ada suaminya…he..he..he..
Saat menceritakan ini kepada penulis, Mbak Pur pun sadar kalau yang dia lihat pasti pocongnya tinggi badannya. Bayangkan saja tinggi tembok kebun hampir 2 meter, kalau kepala pocongnya bisa dia lihat dari jalan gang artinya tingginya melebihi 2 meter. Yah bagaimana lagi namanya kebun kosong dan tidak dirawat, pasti mau nggak mau ada yang “tinggal” di sana. Penulis pun sering mencium seperti bau singkong dibakar di malam hari, saat santai di teras rumah, walaupun tidak setiap hari, hanya malam hari tertentu saja. Ada yang mengatakan kalau itu pertanda ada Gendruwo, tapi entahlah, karena selama tinggal di sini nggak pernah lihat sih (tapi ya, tetap milih nggak lihat… ha..ha..ha.. )
Demikianlah cerita yang aku dengar dari Mbak Pur, dan aku ingin berbagi cerita untuk kalian. Terima Kasih