Ini adalah cerita yang aku peroleh dari teman ku yang bernama Sito, pada hari Jumat tgl 19 April 2013, aku “memaksa” dia untuk menceritakan kembali cerita yang pernah aku dengar dari dia, tapi sudah lama sekali, biar fresh lagi ingatanku Cerita ini kejadiannya pada saat dia masih SMA.
Aku (Sito) dulu aktif di kegiatan pecinta alam, nah pada suatu hari kelompokku mengadakan latihan di Jembatan Babarsari (tempat ini terkenal bagi pencinta alam di Yogyakarta, khususnya panjat tebing untuk berlatih turun dan panjat tali). Pada saat latihan salah satu temanku, si Gotil (samaran) bercerita tentang makam tua yang ada di sekitar lokasi tersebut yang angker, dan bercerita kalau di situ banyak tuyulnya, serta menyombongkan dirinya kalau dia punya kemampuan untuk bisa mendatangkan tuyul atau menangkap tuyul. Aku yang mendengar umbaran kata kesombongan dari Gotil , menjadi sedikit terprovokasi/terpancing untuk meladeni dia, maklumlah masih darah muda dan nggak mau kalah, juga timbullah sifat isengku. Lalu kataku kepadanya” kalau cuma tuyul sih kecil, aku juga bisa mendatangkan Gendruwo! Kalau ada yang mau lihat, silahkan aku layani sewaktu-waktu. “ Temanku Gotil pun sepertinya juga terpancing dengan perkataanku, lalu menantang aku untuk membuktikan kebenaran kata-kataku dan juga membuktikan dirinya bahwa dia mampu memanggil tuyul. Lalu setelah disepakati, kalau akan berkumpul pada hari Sabtu, malam minggu di rumahku dengan pertimbangan minggunya libur. Juga aku mempersilahkan siapa saja yang mau mencoba keberanian untuk melihat tuyul dan gendruwo untuk datang ke rumahku di daerah Seturan (kalau sekarang di samping Kampus UPN Yogyakarta), ternyata ada 6 orang yang mau datang ke rumahku.
Sejujurnya aku sendiri sebenarnya berbohong, aku tidak punya kemampuan untuk memanggil gendruwo, itu semata-mata karena tiba-tiba muncul isengku untuk mengerjain mereka. Tapi tetap aku mempersiapkan rencanaku dengan sebaik-baiknya. Lalu aku memanggil temanku satu kampung, lalu aku ceritakan rencanaku kepadanya bahwa aku mau mengerjain teman-temanku SMA. Si Abdul pun setuju, karena dia juga senang dengan rencanaku dan tahu kalau aku senang ngerjain orang (maklum, dia pun korban keisenganku juga..ha..ha.. ).
Pada hari Sabtu, jam 7 malam, teman-temanku pun datang ke rumahku, lalu kupersilahkan untuk masuk ke kamarku yang kebetulan posisi pintu kamar menghadap ke kebun kosong (waktu dulu sangat sepi, tidak seramai sekarang). Di kamar sudah kusiapkan kembang setaman dan kunir kucampur injet (kapur) di piring plastik, lampu teplok, tungku yang ada arangnya, kemenyan, dan golok. Untuk golok sengaja kutaruh diatas tungku api itu. Karena masih belum terlalu malam, maka aku pun menjelaskan kepada mereka, bahwa nanti akan ada ritual-ritual yang akan kami jalani dalam proses pemanggilan gendruwo dan nanti ada temanku bernama Abdul akan membantu. Si Gotil juga nggak mau kalah untuk menjelaskan ritual yang akan dilakukan dalam pemanggilan tuyul, dia juga membawa satu yuyu (ketam/kepiting air tawar) yang cukup besar untuk ritualnya.
Sambil menunggu waktu jam 12 an malam, rencananya kami akan ke makam tua lebih dulu (kukatakan kepada mereka ini salah satu proses ritual yang harus kami lakukan , dan Gendruwo yang akan aku panggil di rumahku berasal dari daerah sekitar Makam Tua, makanya harus aku jemput dulu ), aku mulai menjalankan rencanaku dengan menjelaskan rute-rute yang akan kami lewati, lalu kutambahi cerita, kalau ada beberapa tempat di daerah sebelum makam, dari cerita dari masyarakat ada sering penampakan seperti pocong di dekat pertigaan sebelum makam, ada gendruwo di salah satu pohon besar di rute yang akan kami lewati, dan penampakan kepala tanpa badan dengan wajah terbakar di makam, yah pokoknya aku mencoba mempengaruhi pikiran mereka supaya menjadi takut…ha..ha..
Lalu kira-kira 23.00 Wib, karena kuanggap sudah waktunya akhirnya kami berdelapan dengan naik motor menuju ke makam tua di dekat sekitar Jembatan Babarsari. Tidak butuh waktu lama sekitar 10 menit kami sampai di sana. Dalam perjalanan dengan berboncengan dengan Abdul, kami menahan ketawa, karena melihat wajah-wajah ke enam temanku yang sudah ketakutan. Rupanya sugestiku sudah tertanam dipikiran mereka. Setelah sampai di sana, motor kami parkirkan di luar makam,dengan mengandalkan penerangan senter yang kami bawa, masuklah kami ke makam, aku maju paling duluan, lalu aku duduk di depan makam tua, pura-pura berdoa , padahal nggak melakukan apa-apa , cuma diam saja. Setelah selesai, aku pun menjelaskan kepada mereka, kalau aku tadi meminta ijin dari Ndayang di sini untuk melakukan kegiatan di sekitar daerah kekuasaan mereka dan minta agar tidak diganggu selama di sini dan selanjutnya menuju rute yang telah aku rencanakan, yaitu menuju ke kali yang ada di bawah Jembatan Babarsari (kalau ditarik garis lurus jarak jembatan sampai sungai di bawahnya sekitar 15 lebih meteran tingginya).
Aku sengaja memilih turun ke sungai, dengan maksud untuk lebih bisa mempengaruhi pikiran-pikiran agar mereka agar lebih percaya kepadaku, bahwa aku memang mampu memanggil MG. Nah untuk rute yang menuju ke sungai, sengaja aku dan Abdul mengajak satu persatu, biar terasa lebih mencekam, dan yang lain kusuruh menunggu di dekat jembatan. Pertama aku mengajak orang pertama katakanlah wanto namanya, menuju ke arah pintu air sungai, lalu sekitar 5 meter dari pintu air kami berhenti. Sebelumnya kujelaskan kepadanya bahwa ada sesuatu di rumpun bamboo itu, ya katakanlah ada Wewe Gombel lagi seperti nyuci baju di sungai, memang sengaja kukatakan itu, agar bisa mempengaruhi pikirannya. Lalu aku pura-pura mengheningkan cipta, setelah itu kusuruh si Wanto duduk di tanah, lalu pura-pura beraksi dengan gerakkan membuka mata batin, setelah selesai dengan itu, aku suruh dia memandang ke arah kumpulan rumpun bamboo di dekat pintu air, kataku “konsentrasi ya, nanti ada wewe gombel di sana!” Dan si Wanto pun dengan sungguh-sungguh konsentrasi melihat ke arah rumpun bamboo itu. Aku yang melihat kesungguhan si Wanto, menahan tawa, setelah beberapa menit aku tanya, apakah sudah melihat, jawabannya belum. “Oke kita coba lagi ya” kataku, lalu aku ulangi lagi gerakkanku sambil menyuruh dia merem, menahan napas sebentar dan konsentrasi sungguh-sungguh, “buka mata dan fokus!” perintahku. Dan Wanto pun menurut perintahku. Beberapa menit kemudian si Wanto pun berkata, “Iya aku sudah melihatnya, sudah ya, serem dab“ pintanya. Aku pun tertawa, untung gelap, jadi dia nggak lihat ekspresi wajahku yang tertawa tanpa suara, yang parah malah si Abdul, dia agak menjauh karena nggak kuat menahan tawa. Aku sendiri juga nggak percaya, wong aku dan Abdul nggak lihat, tapi si Wanto malah bisa lihat beneran, tapi kami tidak pedulikan karena masih harus meneruskan rencana yang telah kami susun.
Akhirnya kusuruh dia naik ke atas, untuk memanggil teman lain. Hal yang sama kulakukan lagi, pada temanku yang kedua, harus dua kali mengulang. Setelah itu yang berikutnya teman yang ketiga, agak lebih cepat karena langsung bisa melihat, sampai yang temanku yang ke lima. Aneh semua pada bisa melihat Wewe Gombel, sedangkan aku dan Abdul sama sekali tidak lihat apa-apa, jujur kami berdua heran sendiri, kok bisa ya, berarti aku berhasil mempengaruhi pikiran mereka..ha..ha..
Setelah itu kami kembali ke makam, untuk mengambil motor kami, tapi sebelumnya aku masuk ke makam lagi, pura-pura meditasi, alasanku mengucapkan terima kasih pada si Ndayang, karena sudah dibantu . Lalu segera kami kembali ke rumahku, sampai di rumah sekitar setengah tiga pagi. Terus masuk ke kamarku untuk berkumpul di sana. Sambil beristirahat sebentar, ternyata teman-temanku cerita kalau tadi betul-betul melihat ada pocong, gendruwo, seperti ada wujud yang berdiri di salah satu makam dan hantu tanpa kepala persis seperti aku cerita sebelumnya. (Saat itu, aku cuma garuk-garuk kepala, kok malah bisa lihat betulan, padahal aku cuma ngarang cerita ).
Lanjut ya…..
Lalu si Gotil pun melaksanakan janjinya, kami yang berkumpul di kamar di suruh duduk bersila mengelilinginya, yuyu yang dia bawa diletakkan di piring plastic, kemudian dia mengheningkan cipta sebentar, setelah itu mulutnya berkomat-kamit seperti membaca mantra, sekitar 10 menit tidak ada tuyul yang datang, gagal katanya alasannya ada yang kurang, kami pun dibuat kecewa.
Selanjutnya giliranku beraksi, kukatakan aku akan melaksanakan ritual pemanggilan gendruwo,ke enam orang temanku kusuruh duduk bersila di lantai, berjejer tiga-tiga, dan saling berhadapan. Lalu untuk menambah suasana mistik, kusuruh Abdul mematikan lampu kamarku, dengan hanya mengandalkan penerangan lampu teplok. Kemudian untuk menunjukkan kepada mereka, kalau aku memang memiliki kesaktian, kemenyan kutaburkan ke tungku…buzz…asap pun mengepul banyak dan bau kemenyan menyelimuti kamarku, golok yang sudah membara yang sebelumnya kutaruh di atas tungku kuambil dan kujilat berulang-ulang (padahal nggak perlu sakti, asalkan tahu rahasianya semua orang pasti bisa melakukannya), teman-temanku terkagum-kagum melihatku menjilati golok yang membara itu. Kelihatannya mereka sangat percaya kalau aku betul-betul bisa melakukan pemanggilan gendruwo. Lalu kusuruh mereka untuk memejamkan mata, bermeditasi dengan kedua telapak tangan terbuka keatas di dada mereka, aku mengatakan “Apa pun yang terjadi jangan sampai ada yang membuka mata sampai aku perintahkan untuk membukanya!” dan mereka pun mengangguk-anggukan kepala tanda setuju.
Aku kemudian menyiapkan piring dari seng, kemudian aku taruh di atas lampu teplok, asap dari lampu teplok yang hitam kemudian menempel di piring itu, memang aku sengaja melakukannya karena butuh sisa-sisa asap lampu teplok yang berwarna hitam itu. Kemudian sisa-sisa dari pembakaran asap lampu teplok itu kuoleskan pada kembang setaman, lalu aku berkata kepada mereka “ nanti akan aku taruh kembang di telapak kalian, sebagai bagian dari ritual ini,” lalu kembang yang sudah kuoleskan jelaga hitam itu, kutaruh di atas telapak tangan mereka, sambil kuusap-usap telapak tangan mereka, dan jadilah telapak tangan mereka menjadi hitam dari abu jelaga itu. Aku dan Abdul menahan tawa, nggak ingin ketahuan kalau mereka kupermainkan. “Sekarang usapkan tangan kalian ke wajah kalian, tapi tetap pejamkan mata kalian, sebanyak tiga kali!” dan mereka pun melakukannya.
Terbayang nggak, wajah mereka menjadi hitam karena abu jelaga hitam dari asap lampu teplok. . Aku tetap berusaha untuk menahan tawaku. Si Gotil pun agak merasa risih, karena ada sesuatu yang aneh di wajahnya, tapi dia tetap memejamkan matanya, “Dab (mas), apa ini yang lengket di wajahku???” Aku jawab, “Diamlah nanti, ritualnya gagal, itu hanya air dari kembang yang kamu usap di wajahmu”. Si Gotil pun percaya dan diam.
Satu menit telah berlalu, dan aku pun melaksanakan rencana berikutnya, lalu aku pun memberi kode kepada Abdul untuk keluar kamar secara tenang dan diam-diam, lalu dia mengambil sapu ijuk dan mulai menyapu halaman di luar kamarku….srettt sreet..sreet..berhenti sebentar…srett..srett..srreettt… aku kemudian menimpali “Yah itu ada yang datang, terdengar isyaratnya”…. Kemudian si Abdul menyapukan sapu ijuknya ke dinding luar kamarku…srettt..srettt…sreeettttttttt panjang…. “semakin mendekat, ada yang datang, teman-teman tetap pejamkan mata kalian, apapun terjadi ya!” Kulihat mereka mengangguk-anggukkan kepala, dengan mimik wajah lebih ketakutan, dan berusaha memejamkan matanya serapat-rapatnya.
Aku berusaha agar tidak tertawa, tapi tidak berhasil sampai sakit perutku. Dan untuk mengkamuflase tertawaku lalu aku teriak-teriak ……“Dulll..dulll…ada yang mengitik-itik kakiku, tolong diusir nih si Tuyul, bukan dia yang mau kupanggil”, lalu si dul beraksi dengan gayanya mengusir si tuyul dengan tenaga dalam, “shhhttt…shttt…arghhhhh ..pergi kamu, rasakan ini…sttttt..hsss…hiattt”. Teman-temanku yang sedang duduk bermeditasi pun semakin bertambah ketakutan. Karena dikira si Abdul betul-betul bertarung dengan si tuyul . Setelah itu hening kembali.
Aku berkata “Teman-teman tetap pejamkan mata, karena rupanya banyak bangsa MG yang tidak berkepentingan juga hadir di sini, dan untuk mencegah jangan sampai kalian diganggu dan kerasukan, maka aku harus mengoleskan sesuatu ke wajah kalian!” Lalu aku melanjutkan aksi yang berikutnya, aku olesi wajah mereka kembali dengan kunir yang telah aku campur dengan injet, juga masih kurang puas, kebetulan aku menemukan lipstik ibuku , lalu kucoret-coret lagi wajah mereka. Dan tidak ada protes dari mereka, karena sudah benar-benar ketakutan, dan percaya pada perkataanku. Kemudian aku berkata lagi, “Sebentar lagi kalian boleh membuka mata, siapkan batin kalian, karena gendruwonya sudah ada di depan kalian, jangan takut karena Gendruwonya sudah kujinakkan terlebih dahulu”, lalu lampu teplok kumatikan, ruangan kamarku menjadi gelap sekali, sebelumnya aku sudah siap di tempat saklar lampu kamarku. “Sekarang buka mata kalian pelan-pelan!”
Beberapa detik aku menunggu setelah mereka membuka mata mereka, tapi mereka belum melihat apa-apa karena masih gelap, lalu kunyalakan lampu kamarku. Tahu nggak mereka sempat kaget melihat wajah yang ada di depan mereka, wajah hitam bekas jelaga asap lampu teplok, campur kunir dan injet, serta lipstick dan nggak karu-karuan bentuknya. Sempat mereka kaget dan terpana beberapa detik memandang wajah “manis” yang tersaji di depan mereka, lalu barulah mereka tersadar, kalau wajah yang mereka lihat adalah teman sendiri, dan kemu dian baru sadar kalau sedang dikerjain aku. Lalu mereka pun mengejar aku keluar kamar sambil mengeluarkan sumpah serapah sampai kebun binatang Gembira Loka ikut disebutin semua. Aku pun dipukuli sama mereka, tapi nggak sungguh-sungguh, sedangkan aku dan Abdul tertawa terbahak-bahak sampai perut kami sakit dan sampai keluar air mata.
Terima kasih, semoga terhibur.