Ini cerita yang mengalami adalah istriku sendiri, hanya saja terjadinya saat masih SD, dia lupa saat itu dia kelas berapa, tapi yang pasti terjadinya sekitar 25 tahun yang lalu.
Inilah ceritanya….
Seperti biasa saat menghadapi ulangan umum sekolah, aku selalu belajar pada saat subuh. Memang kebiasaan ini sudah sering aku lakukan. Sebenarnya di malam hari menjelang tidur, aku sudah belajar, tetapi mungkin hal itu sudah dibiasakan oleh orang tuaku untuk sekedar menyegarkan ingatan kembali apa yang telah dipelajari di malam harinya dan hasilnya tidak mengecewakan, nilai ulangan umumku selalu memuaskan hasilnya.
Kebiasaan ini juga dilakukan oleh kakak-kakakku yang lain, selalu bangun di saat subuh untuk belajar. Bahkan ada salah satu kakak perempuanku yang menurutku termasuk melakukan kebiasaan yang unik, yaitu belajar dengan membaca buku sambil berjalan hilir mudik di depan rumah sampai saatnya mandi dan berangkat ke sekolah, tapi yaitu hebatnya nilai ulangannya juga memuaskan hasilnya…. He…he…he…
Oke kembali ke diriku, saat itu sekitar jam 4 pagi aku bangun dari tidurku, kemudian aku menuju ke kamar mandi untuk membasuh mukaku agar mengurangi rasa kantuk yang masih menyergapku. Tapi karena masih agak mengantuk, aku memutuskan keluar rumah untuk sekedar menghirup udara pagi dan mengusir sisa kantuk agar bisa siap untuk belajar. Di teras rumahku aku berdiri, sambil menggerak-gerakkan kepala dan badan sekedar olah raga ringan.
Sebagai gambaran saja, sekitar 2 rumah di sebelah kanan rumahku adalah rumah Pak Haji Abudullah (nama samaran), kalau sekarang rumahnya sudah tidak ada lagi/dibongkar dan dibangun menjadi Panti Asuhan, beliau memiliki langgar/surau pribadi di rumahnya tetapi terkadang juga digunakan beberapa warga di kampungku untuk sholat di sana, dan beliau pun tidak berkeberatan, walaupun di belakang rumahku, di gang sebelah ada Masjid juga, tapi mungkin karena petimbangan harus jalan memutar lebih jauh, jadi kadang ada beberapa warga memilih ikut sholat subuh di surau tersebut.
Nah saat aku di teras rumah aku melihat ke arah rumah beliau, dan aku melihat seperti ada sosok ibu-ibu dengan memakai rukuh (pakaian untuk sholat wanita yang berwarna putih), sekitar 2 rumah sebelum rumah Pak Haji Abdullah, berjalan menuju ke rumah beliau. Memang samar-samar sih karena jarak antara aku dan ibu-ibu tersebut sekitar 50 meteran dan juga penerangan jalan gang depan rumahku hanya seadanya saja (tidak seperti sekarang).
Saat itu aku cuma berpikir, ibu tersebut akan sholat di suraunya Pak Abdullah, jadi awalnya aku nggak begitu mempedulikan, lalu melanjutkan olah raga ringan di tempat. Nah saat kupikir sudah cukup dan akan masuk ke dalam rumah, kembali aku menoleh ke arah ibu-ibu yang mengenakan rukuh, berjalan dengan pelan, tapi di sini yang jadi membuatku ketakutan… kenapa?
Ibu tersebut berdiri diam di depan rumah Pak Abdullah, awalnya kupikir dia hanya iseng menakut-nakutiku, tiba-tiba badannya kok bertambah tinggi.
“Wah si ibu kok iseng banget ya ?!?”, pikirku saat itu.
Aku mengira, kedua tangan ibu itu sengaja dinaikan ke atas kepala dan biar badannya bertambah tinggi untuk mengisengiku. Tapi karena memang penerangannya tidak begitu jelas, aku pun mengamat-amatinya dengan perhatian penuh. Tapi ini kok putih semua pakaiannya, kalau seandainya kedua tangannya dinaikan ke atas kepala, pasti terlihat tangannya keluar dari rukuh yang dikenakannya, tapi ini kok nggak kelihatan tangannya?
Sekitar 15 detik aku mengamati untuk memastikan apa yang sebenarnya kulihat. Jarak saat aku melihat pemandangan itu sekitar 25 meter, dan aku sadar kalau yang aku lihat adalah Si Poci alias Permen Sugus. Sekujur tubuhku terasa dingin dan berkeringat, tubuhku bergetar hebat, jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya … “Dhugdhug…dhugdhug…dhugdhug..”, tarikan napasku terasa lebih cepat, aku pun memalingkan pandanganku ke arah yang lain, setelah itu langsung saja aku lari ke dalam rumah, pintu depan langsung kututup dan kukunci, karena sudah sangat ketakutan, aku lari ke kamar tidur untuk memilih tidur lagi, tidak jadi belajar. Inginnya bisa langsung tidur, tapi tetap tidak bisa, karena terus terbayang-bayang penampakan tadi .
———- 000 ———
Demikianlah ceritanya, mohon maaf kalau kurang seram, terima kasih dan semoga terhibur.