2 Cerita Dari Mbak Wakhida Rahmawati

Peristiwa ini dialami oleh teman dari suaminya temanku (semoga nggak bingung ya 😀 ) sekitar setahun yang lalu. Kita sebut saja Mas Damar, dia itu aslinya orang Jember, tapi bekerja di Banyuwangi. Setiap satu minggu sekali dia pulang ke Jember, biasanya pada hari Sabtu dia pulang, dengan menyetiri mobil sendirian.
Dan selama bolak-balik antara Banyuwangi – Jember dan sebaliknya, tidak pernah dia mengalami hal-hal yang aneh selama di perjalanan, hingga pada suatu hari dia mengalami kejadian yang membuatnya tidak berani lagi untuk sendirian menyetir mobil, harus ada teman.
Kejadian terjadi saat akan pulang ke Jember, Mas Damar saat itu menggunakan mobil dari kantor. Perjalanan dari Banyuwangi ke Jember membutuhkan waktu sekitar 1 jam an. Sekitar jam 9 malam, Mas Damar memasuki akan memasuki daerah bernama Gunung Gumitir (Gunung Gumetir adalah sebuah gunung yang dijadikan jalan yang menghubungkan antara Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi), situasi kiri kanan jalan di daerah itu masih berupa hutan dan jurang. Lampu penerangan jalan di daerah itu sangat minim sekali (tidak selalu ada lampu penerangan di setiap titilk jalur jalan tersebut)
Sampai di Gunung Gumitir, jalanan sudah mulai sepi tidak ada kendaraan lain yang searah atau berlawanan arah dari posisinya. Mas Damar saat itu tidak punya firasat apa-apa, hanya dia memang sedikit heran saja dengan kondisi jalan yang lenggang, tidak seperti biasa-biasanya.
Sedang asyik-asyiknya berkonsentrasi mengendarai mobil di jalan yang gelap yang kiri kanannya hutan dan jurang, eh tiba-tiba ada perasaan merinding dia rasakan menyergapnya. Awalnya dia mencoba mengacuhkan dan tetap focus pada jalan di depannya, sambil berharap perasaan merinding itu akan hilang dengan sendirinya.
Tapi lama-lama kok…kayaknya disebelah kirinya di bagian kursi depan seperti ada orang ya????
Mas Damar kuat-kuatkan dirinya untuk mencoba melirik ke arah sampingnya…dan…”Glekkk (menelan ludah)..dhugdhug..dhugdhug..dhugdhug…” detak jantungnya semakin bertambah cepat.
Ternyata di sampingnya sudah duduk seorang wanita cantik sedunia ghaib, Mbak Kuntilanak dengan pakaian dinasnya… untungnya Mbak Kunti itu tidak melihat ke arah Mas Damar, dia memandang ke depan dengan tatapan mata yang dingin dan ekspresi wajah yang datar…
Mas Damar tidak berani melirik lama-lama, kembali mencoba fokus ke jalan dan mengendalikan mobil tetap baik jalannya…perang batin saudara-saudara, mau milih berhentikan mobil, dan lari keluar, tapi daerahnya juga sepi seperti itu …atau.. mau tetap jalan tapi dengan Mbak Kunti di sampingnya yang setia menjadi kernetnya?
Mas Damar memilih opsi yang kedua, walaupun jantung berdetak kencang dan keringat dingin keluar,sepanjang jalan, dia tetap berusaha menyetiri mobil sebaik-baiknya. Ditambah kondisi jalan dengan panjang sekitar delapan kilometer ini berkelok-kelok menyusuri tepian gunung.
Dan akhirnya setelah perjuangan batin yang melelahkan, selepas daerah Gunung Gumitir, Mbak Kunti itu yang setia menemaninya sepanjang perjalanan di daerah Gunung Gumitir pun menghilang dengan iklas… 😀
Dan semenjak kejadian tersebut, Mas Damar tidak berani lagi menyetir sendirian,dia selalu ngajak teman yangg kebetulan sejalur sama dia. Katanya daripada ditemeni si kunti lagi…
Hantu Wanita Di Mess
Selama bekerja di Banyuwangi, perusahaan tempat Mas Damar bekerja, menyediakan mess untuk karyawannya, termasuk yang menikmati fasilitas ini adalah Mas Damar. Dari informasi yang diperoleh narasumber, ternyata mess tersebut lumayan menyeramkan juga lho, tapi kali ini memang bukan Mas Damar yang mengalami, melainkan Mas Erik namanya.
Sedikit gambaran mengenai mess ini, merupakan bangunan yang terdiri dari 2 lantai, dan letaknya di belakang kantor. Lantai satu ada rumah dari bos kantor, ruang parkir kendaraan dan ruangan TV, untuk kamar-kamar karyawan berada di lantai 2.
Wokey kembali ke pengalaman yang dialami Mas Erik…
Waktu itu sekitar jam 11 malam, dia sedang nonton TV yang menyiarkan pertandingan sepak bola di ruangan TV di lantai 1, dan kebetulan pertandingan sepak bola malam itu menampilkan klub favoritnya. Mas Erik hanya sendirian saat itu, teman-teman yang lain sudah pada tidur
Namanya kalau sudah nonton bola, khan nggak mungkin diam tho, apalagi kalau klub sepak bola yang didukung bikin gol atau kebobolan, hampir bikin gol atau hampir kebobolan, pasti ya ada teriakan atau ekspresi badan yang menunjukkan kegembiraan atau kecewa..yah ini juga hal yang biasa penulis lakukan he..he..he…bahkan kadang-kadang (maaf) keluar makian…halah kayak bisa main bola bagus aja wkkk wkkkkk
Memang tidak ada informasi yang jelas, apakah Mas Erik pakai teriak-teriak segala saat itu. Tapi yang pasti dia focus sekali nonton sepak bolanya. Sedang seru-serunya nonton, entah perasaannya atau bagaimana, Mas Erik merasa ada sesuatu yang melintas atau lewat di belakang tempat dia duduk, tapi dia cuekin saja, noleh juga nggak, soalnya lagi seru-serunya pertandingan.
Eh…mungkin, karena sikap cuek Mas Erik tersebut, membuat harga diri “Sesuatu”itu sebagai hantu, terlukai dan mulai sebel rupanya dengan Mas Erik. Lalu….”Erik…” dan Mas Erik seketika terdiam, karena suara itu terdengar pas di telinganya, suara wanita dan nadanya lembut sekali memanggil namanya.
Waaaaa….dan tanpa pikir panjang dan tanpa menoleh, dia lalu cepat-cepat mematikan TV, dan langsung naik ke lantai 2 menuju ke kamarnya dan langsung tidur (entah bisa tidur langsung atau tidak)
Tukang bantu nulis cerita orang : Kapten Lazaro