Penulis : Andri Agusta

lanjut ceritanya….. 😀

Sebelum Am dan Ti pulang saya sempat mengingatkan mereka kalau jin mempunyai sifat pendendam, kalau nyai gak berani sama saya besar kemungkinan dia akan menyerang Am atau Ti. Sebelumnya Ti juga sempat bercerita kalau Nyai takut sama saya, Nyai selalu mengikuti Ti kemanapun dia pergi, kata Ti dia ngerasa punya badan dua karena Nyai nemplok di badannya, tapi kalau mereka ke rumah saya Nyai gak mau masuk, dia kata Ti cuma berdiri di depan pagar, pernah sekali mereka datang pada saat saya sedang sholat mahgrib ke masjid, kata Ti Nyai sangat senang gak ada saya di rumah, dia berani ikut masuk ke rumah dan tertawa-tawa senang, pada saat saya pulang Nyai langsung kabur kembali berdiri di depan pagar sambil pasang tampang masam. Entah kenapa Nyai takut sama saya, kata Ti dia melihat rambut saya selalu basah, seperti ditetesi embun, entah apa dan ada atau tidak hubungannya dengan ketakutan Nyai kepada saya. Hanya kemarin saja dia berani berhubungan langsung dengan saya melalui Ti. Jadi karena Nyai takut sama saya, jadi kemungkinan besar dia akan menyerang Am dan Ti, saya peringatkan mereka nanti sampai di rumah untuk segera membaca Al Qur’an, menghidupkan apa yang telah diajarkan Nabi untuk mengusir gangguan setan.

Dan benar saja dugaan saya, sesampainya mereka di rumah Am langsung mengirim sms, kata Ti Nyai marah dan menunjuk nunjuk Ti, kata Ti di rumah sangat panas, ada api dimana-mana. Segera saya minta Am untuk melaksanakan apa yang saya sarankan tadi. Sesaat kemudian Am kembali mengirim sms, dia bilang Ti sedang diserang, punggungnya dipukul sehingga Ti muntah2. Muntahnya yang keluar hanya air tapi ada butiran2 darahnya, sampai akhirnya Ti pingsan. Saya minta Am untuk tetap membaca ayat2 Allah sampai kondisi benar2 kondusif. Setelah itu saya tidak menerima sms lagi dari Am, saya hanya berharap kalau kondisinya sudah bisa dikendalikan, karena kalau belum tentunya Am masih akan terus mengirimkan sms atau mentok2 meminta saya untuk nyusul ke rumah mereka.

Keesokan harinya istri saya mencoba menghubungi Ti via BBM, ada kejanggalan di gambar DPnya BBM Ti, gak seperti biasanya sekarang gambar DPnya adalah wajah orang berdarah-darah. Saya sedikit lupa apa yang diperbincangkan oleh istri saya dan Ti di BBM dan saya coba cek kemarin percakapannya sudah dihapus oleh istri saya, tapi intinya saya masih ingat kalau Ti di percakapan tersebut sangat membanggakan masa lalunya, padahal kalau ketemu langsung Ti selalu mengatakan kalau dia malu dengan masa lalunya yang kelam. “Jangan2 Nyai nih yang lagi BBM-an” kata saya ke istri saya sambil tertawa. Tapi kata istri saya gaya bahasanya beda dengan Nyai tadi malam yang sering ngomong “jangan sok suci…”. Sekarang gak ada kalimat itu yang terlontar di BBM, gaya bahasanya sekarang lebih gaul, bahkan membuat kita tertawa karena bahasa tersebut bukanlah bahasanya Ti yang masih medok logat “Betawi ora” nya. Dan sekarang dia selalu menyebut nama Titin, membanggakan Titin sebagai teman dekatnya dan selalu ada untuknya. Ketika istri saya bilang dia juga teman dekatnya, Ti mengatakan kalau dia gak butuh istri saya, karena Titin selalu ada didekatnya. Dan gak hanya ada Titin, ada banyak teman sekarang didekatnya….

“waduh… BBM-an sama Jin gw nih” kata istri saya, saya cuma tertawa. Mau langsung datang ke rumah Ti sayangnya Am sedang kerja, kalau saya datang nanti Ti trus ngamuk nanti siapa yang megangin ? masak mau istri saya yang megangin, Am aj yg megangin istrinya sampai banjir keringat karena saking kuatnya Ti berontak pada malam itu. akhirnya kami menghubungi Am, beruntung sore katanya sudah bisa pulang karena biasanya Am pulang selalu di atas jam 8 malam. Sore harinya kami segera ke rumah Am setelah memastikan dia sudah ada di rumah, sampai disana istri saya segera masuk menemui Ti, saat itu Ti sedang menyetrika sedangkan Am sedang mandi, jadi saya tunggu saja Am di teras. tak lama istri saya memberi kode kepada saya untuk masuk, saya masuk dan mengucapkan salam, istri saya menjawab salam saya dan juga anak2 Ti, kecuali Ti… dia terlihat sibuk memasukkan pakaian ke lemari dan tidak mau menatap wajah saya, dia selalu menunduk dan terlihat salah tingkah, istri saya mengingatkan dia kalau dia harus menjawab salam saya, saya ulangi lagi mengucapkan salam, Ti malah semakin salah tingkah… “iya silahkan masuk, lagi repot nih…” kata Ti berkilah. Istri saya coba ajak bicara, “besok jadi ikut gak ke Istiqlal ?” (sebelumnya kami mengajak Am dan Ti ke Masjid Istiqlal Jakarta dan Ti sangat antusias ingin ikut). Ti menjawab “gak tau nih, Am katanya mau ngajak anak2 berenang” mendengar jawaban Ti, Am yang baru selesai mandi langsung menimpali “boong, kapan saya bilang mau ngajakin anak2 berenang, bukan dia (Ti) nih yang lagi ngomong !”. Saya dan istri cuma saling pandang sambil tersenyum, kami memutuskan keluar ke teras menunggu Am berpakaian. Tiba2 terdengar suara Ti “lho tadi kan ada si Neng (Ti memanggil istri saya Neng) disini, mana dia ? Neeenggg…neeengg… kata Ti setengah berteriak. “nah udah normal nih kayaknya” kata istri saya, segera saya ucapkan salam dari luar “assalamualaikum !!” Ti langsung keluar dan menjawab “waalaikumsalam… ngapain ini pada diluar, ayo masuk” ternyata Ti sudah normal 😀

Di dalam kami ngobrol2, suasana sudah normal, Ti seperti biasa sudah kembali riang, kami ajak sekali lagi untuk ikut ke Istiqlal dan dia menjawab ingin ikut dengan sangat antusias, berbeda dengan Ti yang tadi yang selalu salah tingkah dan tidak mau ikut ke Istiqlal. Istri saya segera menceritakan tentang BBM-an mereka tadi dan memperlihatkan isinya kepada Am dan Ti, Ti menolak dia tapi mengirimkan BBM ke istri saya karena tadi dia sedang tidur. Setelah kami perlihatkan isi BBM tersebut dia baru tau ternyata dari tadi dia BBM-an dengan istri saya, dan setelah membaca isinya Ti mengatakan kalau ini adalah kerjaannya Titin. Siapa itu Titin ? ternyata Titin adalah teman dekatnya dulu yang sudah meninggal karena kecelakaan di Cipularang. Sekarang Titin seperti Nyai selalu ada di dekat dia, selain curhat ke Nyai, Ti juga ternyata suka curhat ke Titin. Ti bercerita dulu dia pernah melakukan aborsi karena kasihan kepada Am yang pada saat itu gak kerja alias nganggur dan Titin yang waktu itu masih hidup yang membantunya, Am mendengar hal ini kaget karena dia tidak pernah diberitahukan hal ini sebelumnya, mereka (Ti dan Titin) membuang janin hasil aborsi itu ke laut di Marunda, dan bersama janin itu Titin memasukkan semacam jimat yang ikut dibuang, kata Titin itu supaya roh janinnya gak mengganggu dan supaya Titin selalu dekat dengan Ti. Mendengar hal itu saya jadi teringat Nyai, kalau Titin dekat dengan Ti karena ada jimat berarti kemungkinan Nyai juga menitipkan “sesuatu” kepada Ti supaya mreka selalu “dekat”. Dan benar saja ketika saya tanyakan kepada Ti, ternyata Nyai membarikan dia 2 buah jimat, yang satu Ti simpan di dompetnya Am dan satunya lagi dia tanam di daerah Cileungsi. Segera Am memeriksa dompetnya dan menemukan bungkusan hitam, segera dia berikan ke saya, saya buka ternyata isinya rajah2 dalam bahasa arab yang gak jelas bacaannya. Segera saya bakar jimat tersebut dan meminta Am dan Ti untuk mencari jimat yang di Cileungsi dan segera membakarnya. Kalau yang di Marunda ya bagaimana mau dicari karena sudah tenggelam di laut. Saya minta saja mereka untuk selalu mengingat Allah dan menghidupkan rumah mereka dengan amalan2 yang disunnahkan supaya gangguan2 yang ada selama ini bisa hilang.

Saat saya bicara, tiba2 Ti memotong pembicaraan, katanya Titin ada di ruang makan, berteriak kepada Ti untuk tidak mendengarkan saya, Ti berkata kepada anak bungsunya yang juga bisa melihat Titin “Ada tante titin kan di meja makan ?” katanya, dan anaknya meng-iya-kan. saya minta Ti untuk tidak menggubrisnya, saya lanjutkan pembicaraan saya, tiba2 terdengar seperti suara batu yang dilempar “tuh kan marah dia, ngelempar-lempar” kata Ti, dan setelah itu tiba2 TV menyala sendiri “tuh, kerjaannya Titin tuh…” kata Ti. Saya bilang saya kepada Ti untuk tidak menggubrisnya. Entah apa maksudnya Titin melakukan hal itu, apakah ingin memperlihatkan eksistensinya kepada saya atau hendak menakut-nakuti saya, yang jelas dia sudah gagal karena saya tidak takut. Saya teruskan saja memberikan nasehat kepada Am dan Ti. Tak lama saya kemudian menanyakan apakah Titin masih ada kepada Ti, kata Ti dia sudah keluar, saya tanyakan apakah ada yang lain ? kata Ti gak ada, pas saya datang tadi mereka semua ngumpet di sawah belakang (saya lupa menanyakan siapa “mereka” itu), saya tanyakan Nyai, kata Ti semenjak tadi malam dia menyerang sampai sekarang ud gak keliatan lagi, cuma ada Titin tadi yang berusaha menunjukkan eksistensinya disitu.

Saya menasihatkan Ti untuk tidak lagi menggubris keberadaan mereka apalagi sampai curhat kepada mereka. Ti mengatakan dia sudah merusaha dari semenjak dia mengenal saya dan istri saya untuk tidak berhubungan lagi dengan mereka, tapi susah kata Ti karena mereka suka menjahili Ti, apalagi Ti punya penyakit latah. Contohnya Ti menceritakan, ketika dia sedang memasak, tiba2 dari belakangnya terdengar suara “ceplokin telor ya”. Ti yang latah langsung saja menjawab “siap bos” 😀 dan latahnya gak berhenti karena langsung saja Ti memasak telor ceplok, setelah matang baru dia sadar… siapa yang minta telor ceplok tadi ? Am aj lagi kerja. Ini cuma satu dari sekian banyak cerita Ti tentang ke-jahil-an mereka mengerjai Ti yang membuat saya tertawa. Kemudian Ti masuk ke dalam dan keluar sambil membawa semangkuk gulai ikan, “nih, liat nih, saya gak pernah ngerasa pernah masak ni ikan, tiba2 udah ada aj di meja makan. Ni lihat saja kuahnya ud berkurang, tadi banyak sekarang tinggal setengah padahal kita di rumah gak ada yang makan” kata Ti. Kemudian dia juga mengeluarkan semangkuk bawang goreng hangus, “nih lihat, siapa coba yang masak bawang goreng sampe hangus gini, terpaksa deh kita yang makan daripada mubazir” kata Ti. Saya mengatakan kalau jahilnya cuma sampai disitu sih gak masalah, tapi sekarang mereka sudah mempengaruhi Ti untuk menjauhi teman2nya, bahkan Am bercerita kalau Ti sudah 3 bulan tidak mau melakukan hubungan suami istri dengannya, ini tentunya gangguan yang tidak baik jadi mereka perlu di usir, cara pertama ya semua jimat harus dibakar, dan hidupkan rumah dengan amalan2 yang disyari’atkan, lama2 mereka pasti gak akan betah, demikian saya ingatkan kepada Am dan Ti. Karena sudah menjelang maghrib saya dan istri kemudian pamit.

Sampai sekarang saya belum bertemu lagi dengan Am danTi, tapi istri saya masih BBM-an dengan Ti, katanya Nyai pernah datang marah2 sambil bawa 2 makhluk yang sangat besar berwarna hijau mengancam Ti, untung hanya sekedar mengancam setelah itu mereka pergi kata Ti. Jimat yang di Cileungsi sudah ditemukan, sudah 6 tahun ditanam disana kata Ti dan anehnya ukurannya yang dulu kecil sekarang jadi besar, jimatnya berbentuk keris. Segera setelah ditemukan jimat tersebut dibakar oleh Am. Setiap hari sekarang Am dan Ti rajin membaca Al Qur’an, hal ini kata Ti membuat Titin menangis dan akhirnya pergi, sampai sekarang gak pernah kelihatan lagi kata Ti. saya minta ke istri saya untuk menanyakan Nyai apakah masih ada tapi istri saya malas untuk menanyakannya, ya sudahlah nanti saja kalau ketemu mereka langsung akan saya tanyakan. Yang penting sekarang Ti sepertinya sudah kembali normal seperti biasanya, ini hanya kesimpulan sementara dari BBM-an dia dengan istri saya, nanti kalau ketemu Am akan saya tanyakan kondisi yang lebih jelasnya tentang keadaan Ti.

Demikian sobat Reunion cerita tentang Nyai dan Titin, maaf kalau gak seram dan semoga menghibur