Penulis : Andri Agusta

Assalamu’alaikum… !! selepas maghrib terdengar salam di depan pagar, saya segera bergegas keluar untuk membukakan pagar. Pagar saya buka dan tampak wajah Ti sambil tersenyum menanyakan istri saya, sedangkan Am suaminya sedang memarkirkan motor di depan pagar, 2 anak laki2 mereka sudah berhamburan main di lapangan depan rumah. Saya persilahkan mereka masuk, Ti menemui istri saya dan Am saya ajak duduk ngobrol di teras. Mereka memang sering main ke rumah, tapi semenjak lebaran usai mereka baru 2 kali berkunjung dan ini adalah yang kali ke-2.

Di teras, Am segera curhat kepada saya mengenai Ti, ada hal yang aneh pada diri Ti semenjak bulan puasa, dia suka marah-marah, berkata kasar bahkan menendang dan memukul Am, hal yang tidak pernah dan bukan merupakan sifatnya Ti. Dia juga selalu menolak untuk berkunjung ke rumah saya dengan berbagai alasan, padahal biasanya dia yang paling antusias mengajak suaminya untuk berkunjung ke rumah saya. Tiba2 Ti keluar dan berkata kepada saya untuk tidak medengarkan Am, tapi saya berkata kepada Am untuk tetap melanjutkan ceritanya. Saya langsung melihat perubahan di wajah Ti, matanya melotot dan bergerak liar, saya langsung sadar kalau itu bukan lagi Ti, tapi saya tetap tenang. Am yang juga melihat perubahan di wajah istrinya saya suruh tenang juga dan tetap saya minta untuk melanjutkan ceritanya. Istri saya kemudian keluar dan memberikan Ti segelas teh, dia belum sadar kalau Ti sedang kerasukan. Am kemudian melanjutkan ceritanya sedangkan Ti yang duduk di sebelahnya tampak sangat gelisah, dia selalu memotong pembicaraan Am dan menasehati saya serta istri saya untuk tidak sok suci dengan nada yang kasar, hal yang tidak pernah seorang Ti lakukan kepada kami. Ketika Ti berkata “kita sama2 ciptaan Yang Maha Kuasa”…. segera saya potong dan bertanya kepadanya “Yang Maha Kuasa itu siapa namanya ?”. Ti gelagapan tidak bisa menjawab dan terkesan berkilah. Saya terus mendesaknya untuk menjawab, dan dia menjadi sangat2 gelisah sampai pada akhirnya dia memaksa Am untuk pulang, karena Am tidak mau dia marah dan menyiramkan teh yang di tangannya ke Am.

Melihat hal itu segera saya suruh Am membawa Ti ke dalam rumah, pintu saya tutup sedangkan istri saya tetap diluar menjaga anak2 mereka supaya tidak masuk. Di dalam saya segera mengambil Al Qur’an, melihat itu Ti langsung berontak dan dengan sigap Am memeganginya, Tanpa basa basi saya langsung membacakan ayat2 Al Qur’an, Ti terus berontak sambil terus dipegangi oleh Am. Baru beberapa ayat saya baca tampaknya Ti sudah tidak kuat, dia berteriak kepada saya “tanya saya… !! tanya saya…!!” saya berhenti membaca Al Qur’an dan mulailah dialog dengannya yang masih dipegangi oleh Am :

Saya : “Kamu siapa ?”
Ti : “Saya Nyai dari Curug Barong Gunung Hejo”
Saya : “ngapain kamu di badan Ti ?”
Ti : “saya melindungi dia”
Saya : “kalau caranya seperti itu kamu gak melindungi dia tapi menyakiti dia”
Ti : “Saya sudah 7 tahun bersamanya, kamu orang yang kurang ajar, orang yang jahat (menunjuk kepada Am)…. bla…bla…bla…bla (saya lupa dia bilang apa lagi, yang pasti marah2 kepada Am).
Saya : “sudah… !! sekarang kamu jangan ganggu Ti lagi, segera keluar atau saya bacakan lagi Al Qur’an”
Ti : (diam)

saya peringatkan lagi dan dia tetap diam, akhirnya saya lanjutkan membaca Al Qur’an, dia kembali berontak, Am dengan sekuat tenaga sampai banjir keringat karena kekuatan Ti yang berlipat-lipat dari biasanya. Dia berusaha menendang saya tapi tidak sampai karena dipegangi Am, kemudian dia melihat ke atas ke lantai 2 rumah saya sambil berteriak “tolong saya… tolong saya… !!”. Tampaknya dia berusaha meminta bantuan kepada makhluk yg lain. Saya berhenti membaca Al Qur’an kemudian mencoba metode ruqyah yang lain. saya ambil segelas air, saya bacakan beberapa surat pendek dan ayat kursi kemudian saya bujuk Ti untuk meminumnya. Dia menolak dan mengatupkan mulutnya. Saya cipratkan saja air tersebut ke wajahnya, sekali ciprat Ti langsung terkulai lemah, tampaknya Nyai langsung kabur, tapi untuk memastikan Nyai memang sudah tidak ada saya cipratkan 2 kali lagi air ke wajah Ti, kemudian saya bacakan beberapa surat pendek untuk memastikan kalau dia benar2 sudah pergi. Saat saya membaca, Ti tersadar, dengan lemah dia bertanya ke Am apa yang terjadi, posisinya yang tidur terlentang dipangkuan Am membuat wajahnya otomatis menghadap ke atas, tiba2 dia langsung menutup wajah sambil membalikkan badan dan beristighfar. tampaknya dia masih melihat Nyai di atas langit2. Saya terus membacakan ayat2, kemudian saya tanya Ti apakah yang dia lihat masih ada, dia melihat lagi ke atas dan sudah tidak ada.

Saya ajak Am dan Ti yang sudah kembali normal duduk di teras. Saya tanyakan kepada Ti siapa itu Nyai, dan dia mengatakan kalau Nyai itu adalah neneknya yang sudah lama meninggal, dulu dia dekat dengannya. Saya sebut curug barong dan Ti mengatakan kalau Nyai pernah mengajaknya kesana. Ti bercerita, setelah meninggal Nyai selalu mendampinginya di rumah dan kemanapun dia pergi, bahkan Ti sering curhat kepada Nyai setiap malam di kamar mandi, di kamar mandi ada cermin dan Ti suka bercermin disitu, dan Nyai selalu ada di belakangnya. Am mendengar cerita itu langsung sadar kalau Ti suka ke kamar mandi pada saat mereka baru tidur sekitar jam 9 malam, Am cuek saja karena disangka Ti sekedar buang air, tapi ternyata Ti tidak balik ke kamar sampai jam 12 malam, bahkan kata Ti bisa sampai jam 3 pagi. Dia berdiri di depan cermin ngobrol dengan Nyai selama itu sampai kakinya pegal dan sakit.

Saya tanyakan tadi kenapa dia menutup wajahnya, kata Ti dia melihat di langit2 seperti kabut dan di tengah kabut itu ada seperti ujung bantal guling bewarna putih, hanya terlihat ujungnya karena sebagian sudah dibalik langit2 dan akhirnya menghilang. Sedangkan di atas di ujung tangga lantai 2 ada seseorang seperti orang ambon, wajahnya ada codetnya di sebelah kanan dan telinga kanannya tidak ada, seperti luka yang menganga. itu yang membuat dia membalikkan badan. Tampaknya si Ambon adalah makhluk yang diminta oleh Nyai untuk menolongnya tapi dia tidak mau, mungkin dia penghuni di lantai 2 rumah saya dan merasa tidak ada urusan dengan saya dan selama 5 tahun ini saya menempati rumah tidak ada kejadian aneh apapun. Kalau si Ambon berusaha menolong si Nyai berarti dia cari2 masalah sama saya dan itu akan merusak ketenangan yang ada selama ini, bisa saja dia nanti saya usir dan itu resiko yang tampaknya tidak perlu dia ambil, makanya dia nonton aj dari lantai 2.

Ti memang selama ini selalu diperlihatkan makhluk2 astral akan keberadaan mereka, di dapur rumah saya katanya ada perempuan cina dengan pakaian tradisional cina yang ada belahannya sampai paha, dia suka keliling rumah saya sambil menari dan bernyanyi, anak bungsu Ti juga mewarisi kemampuan ibunya, dia di lantai 2 rumah saya melihat mr. poci di gudang dan seorang anak kecil yang membawa bunga. sekarang tambah satu lagi si Ambon. Bagi saya gak ada masalah selama mereka tidak mengganggu.

Kembali ke Ti, saya menjelaskan kepada dia kalau Nyai nya sudah meninggal, dan roh orang meninggal tidak akan kemana-mana, tidak akan gentayangan, karena mereka sudah kembali kepada Allah dan di Genggaman Allahlah roh2 itu berada. Sedangkan yang datang kepada Ti itu adalah Jin yang menjelma menyerupai Nyai, berusaha menyesatkan Ti agar jauh dari agama dan keluarga. Jadi saya nasehatkan dia untuk tidak lagi lama2 bercermin di kamar mandi dan tidak lagi curhat ke Nyai, rajin beribadah dan menghidupkan rumahnya dengan bacaan Al Qur’an.

Karena sudah malam Am dan Ti pamit, tapi sebelum mereka pulang saya ingat satu hal, saya segera tanyakan kepada Ti, “Eh Ti, nama Tuhan emangnya siapa ?” Ti menjawab dengan lantang “Ya Allah lah.. !!” saya tertawa, berarti Nyai emang udah pergi karena tadi susah sekali dia untuk menjawab pertanyaan mudah itu 😀

Sekian dulu sobat reunion cerita dari saya, maaf kalau tidak seram, kejadiannya baru terjadi seminggu kemarin.

Lho… lalu siapa Titin ? Nanti saya cerita lagi, yang ini udah kepanjangan