story by : Rina Puspita

Kali ini aku masih bercerita tentang pengalaman
suami ku dengan MG di masa kecilnya dan ini
juga terjadi di lingkungan dekat rumah suami,
kalau sebelumnya aku bercerita tentang bukit
angker di sebrang jalan dekat pertigaan pertama
rumah suami namun kali ini kejadiannya di lahan
kosong yg luas di depan rumah suami. Mari kita
ke cerita dan biar gampang tentunya pake peran
aku saja ya?

Lahan kosong itu berada di depan rumah ku,
lahannya sangat luas panjangnya hingga
pertigaan atau tikungan pertama dekat rumah ku
dan lahan kosong ini juga masih bersebrangan
dengan bukit angker itu, lahan kosong ini
sebenarnya ada pemiliknya namun sudah lama
meninggal dunia jadi seperti tidak di urus oleh
keluarga pemilik. Nah di lahan kosong ini sampai
sekarang masih di biarkan begitu saja karena
banyak pepohonan dan semak-semak yg tinggi
nya mencapai dada orang dewasa banyak aneka
jenis burung yg membuat sarang di pepohonan
lahan kosong ini jadi sering ada orang yg masuk
ke sana untuk menangkap burung tapi pada
waktu siang hari kalau malam lahan kosong ini
menyeramkan karena gelap.

Kejadian ini aku alami ketika aku masih SD tapi
aku lupa kapan pasti nya yg aku ingat waktu itu
tidak lama setelah aku melihat potongan tangan
di bukit angker itu jadi masih tidak ada listrik dan
rumah masih sangat jarang. Waktu kecil aku
suka sekali bermain-main walau pada malam
hari aku, pada waktu itu sebenarnya aku sudah
kelelahan dan ingin pulang kerumah karena
sudah merasa lapar dan tubuh pun sudah
bermandikan keringat tapi setelah berbelok ke
kiri di pertigaan dekat rumah aku mendengar
suara burung hantu yg bersahut-sahutan ramai
sekali, aku merasa penasaran sedang apa
mereka berkumpul dan membuat suara yg
sangat amat berisik bagi ku. Setelah ku
dengarkan dengan seksama aku dekati suara itu
yg bersumber di tengah-tengah lahan kosong itu
dan aku pun mulai melangkah mengendap-
ngendap.

Setelah sampai di dekat sebuah pohon aku
melihat ke atas dan aku menyaksikan ada
beberapa ekor burung hantu yg terbang
berputar-putar sambil bersuara tapi tunggu aku
melihat sesuatu lain yg terbang rendah di bawah
burung-burung hantu itu cahaya nya biru namun
itu bukan seperti burung hantu. Itu seperti
kepala, ya kepala manusia dengan rambut awut-
awutan dan dengan isi perut yg terburai.

Seketika aku bergidik ngeri dan ketika makhluk
itu berputar berbalik ke hadapan ku seketika itu
juga aku langsung berbaring di semak-semak
berharap ia tidak sampai melihat ku. Dag dig dug
jantung ku dan tubuh pun terasa sangat lengket
akibat keringat yg mengucur deras. Aku tak
percaya dengan apa yg ku lihat di depan mata
ku, apakah itu yg di namakan orang sebagai
hantu kuyang. Pikiran semakin resah saja dan
tubuh ini terasa kaku sampai tak bisa bangkit
rasanya.

To be continue.