Story by : Rina Puspita

baru kali ini berani kirim cerita ke FP Reunion jadi kalau cerita nya gk serem maaf ya teman- teman. Nah kebetulan ini cerita aku dapat dari suami ku, karena kami berdua bisa ngeliat MG
jadi kami sering berbagi pengalaman cuma bedanya aku masih punya rasa takut beda sama suami yg memang dari dulu udah berani.
Oke cukup kali ya penjelasannya mari kita ke cerita,
biar gampang pake peran aku aja ya. . Hehehe

Waktu itu sekitar tahun 94 atau 95 aku lupa kapan yang aku ingat saat itu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dahulu di daerah ku tidak seperti sekarang banyak rumah. Dari masuk gang yg hanya jalan setapak kita hanya bisa melihat sebuah lahan yg di jadikan kuburan setelah melewati kuburan baru lah kita bisa melihat beberapa rumah yg jaraknya berjauhan kira-kira 50 meter dari rumah yg lain. Nah setelah melewati 3 rumah dan berbelok lagi ke kiri agak jauh baru lah terlihat rumah ku, sebelum bebelok kekiri di sebrang jalan itu ada bukit yg lumayan tinggi dan masih semak belukar juga banyak pepohonan yg sudah tua, konon kata orang daerah bukit itu angker.

Kembali kecerita awal saat aku duduk di bangku SD ini lah aku mendapat pengalaman mistik pertama ku, waktu menjelang subuh aku bersiap untuk pergi ke mushola untuk menunaikan sholat subuh namun saat itu belum adzan subuh, niat hati pengen jalan-jalan terlebih dahulu sebelum ke mushola jadi berangkatnya lebih cepat, setelah pake peci dan sarung aku menyalakan api obor yg akan aku bawa sebagai penerangan ku di jalan maklum dulu belum ada listrik.

Setelah sampai di tikungan pertama yg di sebrangnya bukit angker aku melihat ada sebuah keanehan, dari jarak 10 meter aku melihat ada sepotong tangan yg berjalan perlahan ketika itu aku langsung bersembunyi di balik pohon untuk menyaksikan penampakan yg menurut ku mengerikan itu, ku amati terus tangan yg berjalan perlahan tidak menyentuh
tanah itu hingga tangan itu sampai ke bukit angker itu, aku hanya bisa tertegun dan sedikit merasa takut melihat apa yg baru saja ku saksikan.

Begitu jelas aku melihat tangan itu
tersorot cahaya api obor yg ku bawa membuat aku bergidik sendiri, setelah sekian lama aku terdiam akhirnya aku pun memberanikan diri untuk meneruskan perjalan ke mushola sambil dalam hati bertanya-tanya potongan tangan milik siapakah itu? Kemana kah pemilik nya?

Hingga sampai ke mushola dan sholat subuh pun aku tetap kepikiran potongan tangan tersebut. Setelah selesai sholat ku putuskan untuk tetap berada di teras mushola hingga
matahari mulai tinggi karena kalau pulang masih agak gelap takut ketemu potongan tangan itu lagi.

Sekian cerita yg aku peroleh dari suami ku, maaf ya teman-teman kalau ceritanya tidak seram, nanti lain waktu aku ceritakan lagi tentang pengalaman-pengalaman mistik ku yg lain.