Wokeh, ane kemaren kan bilang kita lanjutin cerita di part 2. Tapi sebenarnya ini bukan sambungannya melainkan latar belakang dibalik gantung dirinya tetanggaku.

Dengan kesuksesan bisnis mebel, jual beli kayu dan perkebunan cengkehnya, tidak menjamin kehidupan rumah tangga mas Edi dan mbak Sri tentram bahagia. Mbak Sri sejak dulu dikenal oleh kami para tetangga sebagai sosok orang yang agak lemah mentalnya. Sedikit” tersinggung, gampang marah”, dan sering nangis di karenakan persoalan yg sepertinya tidak perlu di tangisi.

Pernah suatu ketika dia menemukan sebuah kaos yg tidak di kenalinya terselip di antara tumpukan pakaian milik suaminya. Tanpa tanya atau mencari tau siapa pemilik kaos itu dia menuduh mas Edi berselingkuh hingga mereka cek-cok adu argumen dan puncaknya, mbak sri nangis” sambil pulang ke rumah emaknya yg ada di gang sebelah. Setelah mas Edi mengerti kaos yg di maksud barulah dia ngerti maksud istrinya. Ternyata itu kaos sopirnya yg terbawa karena numpang ngeloundry.
Pernah juga sehabis Mas Edi mengirimkan kayu jati dagangannya ke Jepara, Mbak sri langsung mendampratnya. Menurutnya mas Edi telah menginap ke rumah selingkuhannya. Untung waktu itu aku ikut ke jepara, jadinya aku di jadikan saksi kalo dia nggak selingkuh. Tapi, tetep saja mbak sri nangis” dulu..

Yah terlepas dari sifatnya yg agak lebay itu, mungkin memang nasibnya mbak Sri umurnya hanya sampai di sini dengan cara yg bisa dikatakan tragis.

Ini cerita dari si kasman dan kasmin (nama asal nyebut). Duo pengangguran yg kerjaannya nyari luwak, codot (kelelawar buah) dan ayam hutan di sekitar kampungku.

Suatu malam sehabis nyari codot dan dapat beberapa ekor. Mereka berniat pulang untuk menikmati hasil buruannya malam ini.

Sampai di depan rumah mas Edi, mereka di sapa oleh sebuah suara perempuan.
S: Oleh akeh rek..(dapat banyak coy..)
K; Lumayan mbak Sri. dungaren smpeyan durung turu (tumben anda belum tidur)
S=Sri.. K= kasman
Baru beberapa detik kemudian mereka baru sadar kalo mbak Sri sudah meninggal bbrapa hari yg lalu.

Tanpa komando apalagi selfie dulu, mereka langsung ngacir kabur sambil teriak” minta ketakutan. Sampai” tidak mempedulikan sendalnya lepas dan beberapa ekor codot hasil berburu mereka buang begitu saja.Untung masih ada beberapa warga yg jaga di post kamling, hingga mereka di tenangin dan di antar pulang.

Demikian ceritaku kali ini. Mohon maaf bila ada salah penulisan atau bahasa yg kurang dimengerti. Sekian dan terima sumbangan seikhlasnya… :) :) jumpalitan lagi di cerita lainnya