Kisah ini di alami oleh mas Alex (nama asal nyebut). Dan biar lebih gampang, kisah ini aku ambil alih. Capcus cyiin…

Beberapa hari lagi desaku merayakan ulang tahunnya, kalau di Jawa Timur umumnya di sebut Bersih Deso. Entah ulang tahun yang keberapa aku nggak tau. Yang penting aku sebagai warganya sekaligus ketua karang taruna, pastinya berpartisisapi..

Malam itu aku dan sobatku si Dodo pergi ke balai desa, tempat yg besok siang akan di adakannya hajatan berupa pertunjukan orkes dangdut dan wayang kulit di malam harinya.

Kelar menyelesaikan dan membersihkan area balai desa, kami dan beberapa pemuda yg dibantu juga oleh pamong ( aparat pemerintah desa) masih asyik ngobrol ditemani kopi dan jajanan yg disediakan Bu Lurah. Si Dodo, malah asyik main bulutangkis bersama teman” pemuda yg lain. Memang di halaman belakang balai desa ada lapangan bulutangkis dan tempat buat bermain tenis meja.

Menjelang tengah malam, dan karena keesokan harinya juga ada acara yg harus kami tangani sebagai panitia. Maka kita akhiri jagongan ngobrol nggak jelas itu.

Pulang kerumah aku di bonceng si Dodo dengan motor trail berknalpot berisiknya. Sampai di pertigaan masuk gang rumahku, aku memutuskan turun aja. Sungkan ama tetangga yg sudah nyenyak istirahat harus keganggu dengan suara berisik dari knalpot trail si Dodo yg berisiknya kayak orangnya.

Baru beberapa langkah masuk gang, Sebuah obyek nggak biasa nampak berputar” di atas atap rumah mas Edi. Sebuah bola api yg mungkin sebesar bola volly berwarna putih kebiruan terus berputar” mengelilingi rumah pengusaha meubel itu. Sesekali naik tak berapa lama turun dan berputar lagi.

Karena entah heran atau takjub atau memang terpaku, aku hanya bengong melihat hal itu. Bahkan sampai beberapa waktu akupun cuma melihatnya tanpa mengerti apa yg ku lihat.

Hingga sesuatu membuatku terkejut bukan main. Bagaimana tidak, benda yg sedari tadi berputar” tiba-tiba meledak dengan suara cukup keras. Mungkin ledakannya setara dengan suara petasan sebesar jempol kaki.

Anehnya, dengan suara sekeras itu.. satupun tetanggaku tidak ada yg terbangun bahkan keluar rumah untuk melihat suara apa itu. Semua masih sepi seperti tidak ada apa”. Bahkan saat aku sudah sampai rumahku dan berniat menanyai istriku akhirnya kubatalkan, karena kulihat istriku dan anakku yg masih kecil tetap tidur pulas. Padahal antara rumahku dan rumah Mas Edi berseberangan. Mustahil kalau ada suara ledakan sekeras itu mereka tidak dengar.

Pagi hari saat bangun tidur, aku sudah lupa tentang peristiwa malam tadi. Ditambah kewajiban sebagai panitia di balai desa semakin menguras tenaga dan fikiran, akupun lupa apa yg terjadi. Saat pulang kembali kerumah, hanya mandi ganti baju dan istirahat sampai tidak ingat mau menceritakan kepada istri, tentang kejadian aneh semalam.

Sehabis maghrib saat bersiap” kembali kebalai desa, tiba” mas Edi terdengar menjerit histeris. Para tetangga berdatangan dan mendapati mas Edi tampak lunglai tak berdaya di lantai dapurnya. Sedangkan anaknya yg masih SD kelas 5 juga menjerit menangis di sebelahnya. Sebuah pemandangan yg sangat menyayat hati kami saksikan didepan mata kami. Di dapur nampak mbak Sri istrinya mas Edi menggantung dengan tali yg masih membelit leher dan lidah menjulur keluat dan mata melotot.

Segera warga memberitau pihak berwajib yg akhirnya menangani kasus itu. Entah aku nggak ngerti prosesnya yg pasti mbak Sri di nyatakan murni bunuh diri.

Saat di pemakaman aku bertanya kepada salah satu tetua di kampung kami tentang hal yg aku lihat semalam sebelum tragedi itu. Kata beliau itu dinamakan pulung gantung. Menurut beliau juga keluarga orang yg pernah bunuh diri dengan cara kendat (gantung diri) suatu saat akan mendapat giliran dengan cara yg sama. NAUDZUBILLAH amit” jabang bayik..

Demikian semoga kita dijauhkan dari hal” yang bertentangan dengan ajaran agama kita (agama apapun yg anda anut). Dan seberat apapun persoalan pasti ada jalan keluar. Dengan meminta kekuatan dan petunjuk dari Tuhan.
Sekian dulu INSYAALLAH part 2 menyusul…
bye bye mmmmuuuuaaaccchhhh….