Nama beliau sebenarnya “marjuki” namun entah mengapa orang-orang memanggilnya gareng, mungkin karena parawakannya yang kecil dan
matanya sebelah kanan juling, dan beliau ini juga sering membawakan peran punakawan yang bernama gareng. Dalam kesehariannya kang
gareng ini banyak menghabiskan waktunya mengembala kerbau dan sapi, terkadang juga melayani permintaan warga yang membutuhkan
jasa memetik buah kelapa. Masa itu di
karenakan sudah memasuki musim kemarau, di mana rumput hijau sudah mulai jarang di temui, maka kang gareng tidak lagi mengembalakan
ternaknya, dengan terpaksa kang gareng harus rela bersusah payah mencari rumput.

Pagi itu seperti biasa kang gareng bergegas mencari rumput, dari satu tempat ke tempat yang lain, sampai matahari meninggi ke dua keranjangnya belum juga terisi penuh, dengan penuh kesabaran kang gareng terus saja menelusuri jalan-jalan bersemak mencari sisa- sisa rumbut hijau sebelum mati terbakar oleh panasnya sinar matahari, tanpa di sadari langkah kaki kang gareng membawanya di area belakang lahan jati itu, sebenarnya dalam hati ia merasa ragu merumput di sekitar area lahan jati itu, namun membayangkan hewan ternaknya hanya memakan jerami kering maka timbullah keberanian kang gareng, dengan segera ia menebas rumput-rumput itu.

Memang di area lahan jati itu masih terdapat banyak rumput segar, karena memang keadaan di sekitar tidak terlalu panas, dan juga orang- orang kampung memilih menghindari area itu

ketika merumput. entah sudah berapa lama kang gareng merumput di area lahan jati, yang jelas ke dua keranjangnya sudah hampir penuh.

Namun di tengah keasikannya merumput kang gareng di kejutkan dengan penampakan yang sangat luar biasa..!! penampakan yang sungguhhh menguji iman. Bagaimana tidak, di depan mata kang gareng terliat jelas suatu keindahan yang
membuat setiap mata yang memandangnya pasti terpikat oleh kilauannya.

Penampakan itu tak lain dan tak bukan adalah setumpuk perhiasan emas yang berkilau, seolah memohon ke kang gareng supaya di ambil dan di
simpan di kotak perhiasan yang cantik. Saking kagetnya tubuh kang gareng bergetar, keringat mengucur deras dari dahi, sejenak ia hanya bisa
tertegun memandang setumpuk perhiasan di depan matanya.

Beruntung kang gareng segera dapat menguasai dirinya, sambil terus beristibar kang gareng beranjak mengambil keranjangnya meninggalkan tempat itu dan membiarkan perhiasan itu tetap ditempatnya. Ketika kang
gareng melangkah meninggalkan tempat itu terdengar suara perepuan yang memanggil namanya, ketika di toleh tidak nampak seorangpun, maka dengan setengah berlari kang gareng tergopoh-gopoh meninggalkan area
lahan jati itu.

Sekian dulu ya ceritanya, maaf jika banyak kesalahan kata. Dan sampai ketemu di edisi lainnya.