Yah kali ini Trie mau kasih cerita pengalaman Hubby ku dulu sihh sebelum kenal bahkan deket *walau tetanggaan* hihihiii
disini Trie akan menjadi tokoh utamanya yahh… dan ceritanya juga ga terlalu menyeramkan..

Sore itu di rumah baru kakak ku, sebuah pesan masuk ke hpku dengan sebuah isi ajakan anak2 dorib maen Badminton, Ach males sebenarnya
untuk pergi tapi daripada nanti malam tak bisa tidur lebih baik aku iyahkan saja ajakan anak2. dengan malas akupun balas dengan singkat OK.

Sore yang masih cerah itu aku luangkan untuk mengamati kehidupan di daerah baru ini, Citalang. Hmmpp.. tak asing sih tapi daerah ini awal kehidupanku yang baru. Aku berjalan-jalan sendiri menyusuri jalan demi jalan hingga aku tepat ke perempatan jalan 100 dari rumah kakaku. Dan perempatan ini tak aneh meskipun
disisi-sisinya kebun-kebun milik warga sore hari malah terasa nyaman.
Tapi ada satu jalan lurus menuju pemakaman. Mataku selalu saja tertuju melihat jalan itu hingga aku tersadar ada sebuah motor melewatiku.

20.00 WIB
Sms pun masuk kembali ke hp ku, dengan jengkel akupun bersiap-siap dengan semua alat tugasku. Raket kesayangan baju ganti dan sepatu olah ragaku, Tak lupa jaket kesayanganku yang selalu menemani
bergadangku. Tiga arah jalan keluar menuju perkotaan atau keluar dari daerah Citalang ini dan ketiga jalan itu jika malam hari akan terasa sepi sekali, aku pilih jalan tercepat melewati
sawah-sawah meskipun jalan nya sudah di aspal tapi jalan ini agak sedikit curam, belokan dan langsung turunan dulu disini masih gelap
tak ada cahaya menerangi tapi kini sudah terang benderang, meskipun sepi dan curam.

01.00 WIB
Tepat satu dini hari, aku sudah bosan
melanjutkan permainan ini, anak2 yang lain pun sudah merasa lelah. Entah kemenangan yang keberapa aku malam ini. Tapi badan ini sudah
menuntunku untuk pulang.
Dulu sebelum pindah aku bisa sampai pagi kumpul2 tapi setelah pindah harus ku fikir ulang untuk bergadang
karna jarak yang lumayan jauh belum keadaan jalanan yang sepi.

Niat hati mau pulang melalui jalur tadi berangkat tapi malah terlewat, ku fikir lebih baik jalur ke dua saja tapi hatiku berkata Tidak, yah bagaimana tidak jalur ini jalur perbatasan antara daerah rumahku dan daerah tetangga disini
sawah-sawah yang gelap dan jika malam jarang sekali ada orang yang melewati jalan ini.

Akhirnya jalur ketiga lah yang aku pilih disini banyak yang masih ramai. Tapi, 2 gang yang harus ku pilih salah satu. 1 gang melalui belakang perumahan dan akan keluar dari perempatan yang tadi sore, gang ke dua harus
puter dulu dan lebih jauh. Badanku sudah sangat letih ku putuskan untuk melewati gang pertama, masuk perumahan sunyi sekali bahkan
dibelakang perumahan terlihat gelap, hampir mendekati perempatan sepanjang sisi kanan dan kirinya adalah pagar dari tanaman itu
sedikit bergoyang aku fikir hanya angin saja, hampir aku lewati tanaman yang bergoyang itu, masih bergoyang?? ahh aku fikir ada yang jail
terhadapku, ku matikan mesin motorku dan aku amati dengan jelas tanaman itu.

lamaaaaaaaaaaa kulihat tak ada tanda-tanda manusia yang jail dan tanaman didepanku masih bergoyang tak ada angin atau pohon- pohon lain pun tak bergeming. DEG, jantungku
mulai berdegup bulu kudukku mulai berdiri. Aku tersadar tak lama ku hidupkan segera mesin motor ku dan tancap gas menuju rumah yang
hanya tinggal beberapa meter lagi.

Sesampainya di rumah, ku hanya bisa diam dan ku bayangkan siapa yang mengerjaiku itu. Sekian lama dari
kejadian itu aku baru mengetahui kalau di perempatan sana adalah tempat pembuangan
gedebog pisang orang-orang yang meninggal dan memang suka ada yang usil, nanti akan ku ceritakan lagi yahh 😀