Sebut saja keluarga Darso, keluarga yang
bertempat tinggal di desa karang kedumpel
(samaran). layaknya warga desa lainnya, pak
darso dalam kesehariannya bekarja sebagai
petani, sedangkan bu darso berjualan sayur
keliling. Tidak ada yang aneh dalam keluarga ini,
semua nampak berjalan normal-normal saja,
sampai pada suatu hari pak darso ini berpamitan
ke istri dan keluarga besarnya, beliau hendak
pergi ke kota X, ikut temannya bekerja sebagai
pemotong kayu di hutan milik negara. 6 bulan
bekerja, rupaya pak darso cukup berhasil, terliat
montor baru sudah dapat beliau beli. seiring
berjalannya waktu tanpa di nanya-nanya
keluarga ini sudah mampu membangun rumah
dan membeli beberapa bidang tanah.

Setelah di rasa cukup, pak darso memutuskan
kembali ke desa, dan membangun sebuah mini
market, dan merekut beberapa pagawai guna
membantu menjaga usahanya itu. Ketika
berbelanja di sana kalau di amati memang agak
sedikit aneh, di setiap sudut tokonya itu terliat
patung-patung ular, selain itu di sebelah pintu
masuk berdiri dua patung ular yang cukup besar,
serta karyawan di sana laki-laki semua. Memang
pak darso selalu menolak jika ada perepuan
yang melamar kerja disana. Jika pak darso
memilih fokus pada usaha mini marketnya, lain
halnya bu darso, beliau lebih memilih membuka
toko baju, sama halnya di mini market, di toko
baju mereka pun di mana-mana nampak
terpajang patung-patung ular.

Sebenarnya senter terdengar kalau keluarga
darso ini melakukan pesugihan, memuja siluman
ular. Namun walau begitu warga tidak bisa
berbuat apa-apa, bahkan banyak yang tidak
percaya dengan kabar itu, karena di mata
masyarakat keluarga darso ini di kenal sangat
ringan tangan, menolong warga yang tidak
mampu, sebagian menganggap yang tega
menyebar berita pesugihan itu adalah orang
yang merasa iri atas kesuksesan keluarga pak
darso. Sampai pada akhirnya banyak warga
yang berpikir ulang, mempercayai kabar
pesugihan itu, karena di setiap tahun ada saja
seorang karyawan yang meninggal dunia, entah
kecelakaan mobil, jatuh dari lantai dua, juga
kejadia kematian berturut-turut anggota
keluarga darso, di mana kesemuanya itu adalah
laki-laki, mulai dari ayah pak darso, adik
kandung bu darso, ipar bu darso(ayah dari mba
ratna) dan terakhir keponakan pak darso.
Di mana semua korban yang anggota keluarga
sebelum meninggal memiliki penyakit yang
sama, yaitu rasa sakit pada bagian kema***n
(maaf). Adalah mas galih suami dari mba ratna,
dia memang sejak lama sudah menaruh curiga
pada pak darso, bahkan secara diam-diam mas
galih ini beberapa kali pergi ke orang yang
mengerti tentang hal-hal ghoib, dan menurut yai
itu keluarga pak darso memang melakukan
pesugihan, bahkan yai itu mewanti-wanti mas
galih supaya berhati-hati, kalau bisa segera
keluar dari lingkungan di mana keluarga darso
tinggal. Tiga bulan paska berpulangnya mertua
laki-laki mas galih memutuskan memboyong
istri dan anaknya ke rumah orang tuanya,
sembrani menunggu rumahnya selesai di
bangun. sebenarnya kepindahan mas galih ini di
tentang keras oleh bu darso, bahkan agar
supaya mas galih tidak pindah bu darso
menghadiahi sebuah mobil dan mempercayakan
toko bajunya pada mas galih, namun semua itu
di tolak secara halus dan sopan. Sampai
akhirnya bu darso naik pitam dan memaki-maki
mas galih.

Hampir setahun kepindahan mas galih, selama
itu pula bu darso tidak sudi bertegur sapa
dengan mas galih, sampai pada suatu malam bu
darso dan pak darso bertamu ke rumah mas
galih dengan alasan meminta maaf atas semua
kesalahannya. Dan pada akhirnya setelah
malam itu mas galih selalu mengalami mimpi
buruk di lilit ular besar sampai akhirnya mas
galih mengalami gejala sakit yang sama persis
seperti almarhum mertuanya. Setelah sakitnya
mas galih semua masyarakat seperti di bukakan
matanya, semua mempercayai adanya
pesugihan itu. Siang yang mendung nampak
mas galih terbaring lemah sambil menahan sakit
pada bagian kem***annya(maaf) meliat kondisi
suaminya yang semakin melemah, sakit hati
yang tahunan di pendamnya, membayangkan ia
akan menjadi janda jika suaminya harus
menyerah kalah pada penyakitnya juga
membayangkan anak semata wayangnya harus
menjadi yatim membuat mba ratna menjelma
menjadi wanita yang sangat kuat dan berani.

Siang itu juga mba ratna mendatangi rumah
buleknya, di sana dia bersumpah jika sesuatu hal
yang buruk menimpa suaminya, ia bersumpah
akan menjadi neraka pada keluarga buleknya
itu. bahkan menurut saksi mata mba ratna ini
berkali-kali melayangkan tamparan pada
buleknya juga suaminya. Mba ratna juga
mengancam sesuatu yang buruk akan menimpak
anak-anak mereka.

Entah dari mana datangnya keberanian itu, mba
ratna yang di kenal lemah lembut tiba -tiba
berubah menjadi garang, di matanya yang ada
cuma amarah dan sakit hati. Mungkin memang
benar ketika seorang wanita selalu di dzolimi ia
bisa seperti seekor harima kelaparan yang
memangsa apa saja yang ada di depannya.

Setelah kejadian itu secara bertahap mas galih
memang sembuh dari sakitnya, namun
ketegangan dalam keluarga itu tak kunjung
padam.