“Ah sial, pakai acara ketiduran segala”
umpat saya dalam hati.
” adikkkkkkk, kenapa ga mau membangunkan
kakak, kan sampean tau malam ini kakak harus
ronda malam”
” bukan ga di bangunin, cuma kakak tidurnya
kaya kebo, di bangunin bukannya bangun malah
molor”
” ealah ga sopan ya, ngatain kakaknya seperti
kebo, siapa yang mengajarin sampean? jangan
cengengesan sampean, ga sopan”
” kakak cerewet banget sih, sudah sana cepat ke
pos ronda, pasti sudah di tungguin temannya, itu
jaket, rokok sama wedang jahenya sudah saya
siapkan”

Langsung saja saya lari ke belakang, cuci muka
dan langsung menyembar jaket, rokok dan
wedang jahe. Segera saya bergegas menuju pos
ronda, karena saya sudah sangat terlambat,
pasti teman-teman sudah pada ngedumel
karena saya tak kunjung tiba. sambil
mengancingkan jaket saya hisap rokok dalam-
dalam, kupercepat langkah biar cepat sampai,
namun sial di depan rumah kosong saya cium
aroma kemeyan yang begitu menyengat, selang
beberapa detik tercium bau bangkai yang sangat
menusuk hidung.

” baru rumah kosong, belum tanjakan dan pohon
asem, guman saya dalam hati”

Saya hentikah langkah sejenak, berdo’a
memohon perlindungannya. Lantas ku
langkahkan kaki sambil memperhatikan keadaan
sekitar, tibalah saya di jalan tanjakan,
deeeckkkkkk jantung saya berdetak, sekilas
nampak kelebatan putih di depan mata.
” tidak usah mengganggu, saya hanya lewat
karena mau ronda, kalau mau ikut silahkan, tapi
jangan mengganggu.”
ucap saya dengan penuh keyakinan, kini tibalah
saya melewati pohon asem, sayup-sayup saya
dengar suara orang melanggamkan tembang
jawa. Saya sudah tidak mau peduli dengan
suara-suara itu, saya percepat jalan biar segera
sampai ke pos rondo, pohon asem sudah
terlewati dan alhamdulilah tidak ada kejadian
apa-apa. Saya bisa bernafas lega, pos ronda
pun sudah di depan mata. Namun sial bagi saya,
di pohon jati yang saya lalui saya di kejutkan
dengan suara cekikikan perepuan, dan ketika
saya meliat ke atas astafirullah rupanya nenek
tua dengan wujud mengerikan yang doyan narsis
kepengen ketemu jejaka ganteng seperti saya,
tanpa pikir panjang saya langsung berlari
secepat mungkin.

Dengan nafas yang ngos-ngosan akhirnya saya
sampai di pos roda, langsung saya duduk dan
membuka botol minuman yang saya bawa dari
rumah, namun sialnya lagi saya lupa kalau itu
botol air panas yang isinya wedang jahe. Dan
saya hanya bisa mengumpat dalam hati
” dasar dedemit wadon, orang mau ronda masih
saja di ganggu, giliran maling di biarkan
berkeliaran”