Malam yang begitu indah, bulan bersinar dengan terangnya, bintang berkerlip-kerlip menggoda setiap mata yang memandangnya. Di teras rumah yang begitu sederhana nampak seorang kakek tengah asik menikmati secangkir kopi dan sepiring ubi rebus, tak lupa alunan tembang- tembang jawa dari radio usangnya selalu setia menemani waktu santainya. Sambil sesekali pandangan beliau mengamati motor yang berlalu lalang di depan rumahnya, malam itu memang masih ramai, karena memang belum terlalu larut.

Entah sudah berapa jam beliau bersantai di teras, yang jelas saluran radio kesukaannya sudah menyiarkan acara wayang kulit, yang menandakan hari sudah larut malam. dengan santainya beliau menyimak jalan cerita yang di suguhkan dalang. Di tengah keasyikannya tiba- tiba berhembus angin yang cukup kencang dan membuyarkan konsentrasi beliau.

Lantas beliau mengarahkan pandangan matanya ke sekeliling, namun tidak di jumpai apa-apa, sampai pada akhirnya mata beliau menangkap sesosok bayangan putih di hadapannya, di kiranya sosok itu adalah anak sapi yang lepas dari kandang, karena memang berkaki empat. namun setelah di amati ternyata sosok putih itu adalah seekor macam putih yang menatap tajam ke arah kakek. beliau hanya mampu beristibar sambil terus memandang macan itu. puas beradu pandang dengan kakek lantas macan itu menghilang bersama hembusan angin.

Setelah kejadian itu kakek memutuskan masuk ke dalam rumah, dan melanjutkan mendengarkan radio di dalam.

CERITA KAKAK

“kereta kencana” Kalau mendengar sebutan itu pasti kita membayangkan sebuah kereta yang selalu muncul di flim-flim laga, sebuah kereta yang berhiaskan emas permata, kendaraan bagi para raja ataupun para kasatria.

Nah bagaimana jadinya jika di kehidupan nyata yang serba moderen ini kita menjumpai kereta kencana pada waktu malam hari, tanpa tau siapa yang mengendalikan kereta itu, tentunya bikin takut, merinding atau bahkan pingsan. tapi bagi yang terbiasa dengan hal mistik mungkin biasa saja.

Dan kejadian penampakan kerata kencana itu pernah di alamin langsung oleh kakak. Kakak saya memang mempunyai kebiasaan keluar malam, entah itu sekedar ngobrol di pos ronda, ngopi di warung budhe katemi, atau main ke rumah kakek.

Malam itu sehabis makan kakak pamit ke rumah kakek, dengan sedikit tergesa-gesa ia menuju motor buntutnya, sambil tak lupa berteriak memanggil mas aji teman mainnya. Detik, menit, jam berlalu tak terasa sudah jam 10 malam, tapi kakak belum juga pulang ke rumah, dengan sedikit kesal saya menunggu dia pulang kerumah sambil menonton tv, tiba-tiba saya di kejutkan dengan suara orang menggedor pintu, dengan segera saya membuka pintu.

Saya liat kakak dan mas aji begitu pucat seperti baru saja di kejar mba kunti. Dengan segera saya mengambilkan air buat mereka dan membangunkan bapak. setelah tenang baru mereka bercerita, ketika di tikungan dekat pohon asem, mereka awalnya mendengar suara ringkihan kuda, meresa heran kakak mengurangkan laju montornya sambil meliat-liat sekitar karena penasaran dengan suara kuda, alangkah terkejutnya kakak dan temannya karena di depan mereka terpapang jelas sebuah kereta kencana yang berkilau, namun mereka tidak begitu jelas siapa yang menupangi kereta itu, selang beberapa detik kakak dan temannya mendengar suara derap kuda yang begitu banyak. Tanpa di komandani kakak langsung melajukan motornya sekencang mungkin.
Dan alhamdulilahnya kakak saya tidak sampai kenapa-kenapa tetap bisa mengendalikan montor walau dalam keadaan panik.