Penulis : Kapten Lazaro

Ini cerita dari tanteku yang dialaminya saat tinggal di Cirebon, kejadiannya sekitar tahun 2004.
Tanteku pernah beberapa tahun di Cirebon. Setiap malam Jumat Kliwon, beliau secara rutin selalu berziarah mengunjungi Makam Gunung Jati Cirebon.
Dan yang pasti dari kegiatan ziarah ke Makam Gunung Jati tersebut, pulangnya selalu menjelang tengah malam dan biasanya setelah pulang dari ziarah pasti mampir di rumah kenalannya di suatu perumahan di pinggiran kota Cirebon, untuk sekedar istirahat dan juga menginap di sana beberapa hari. Yang pasti kenalannya sudah sangat hapal dengan kebiasaannya tersebut dan selalu menerima kedatangannya dengan baik.
Untuk menuju perumahan tersebut, tanteku harus naik angkot 2 kali dan berjalan kaki sekitar 2 km untuk sampai ke rumah temannya. Sebetulnya ada tukang ojek yang stand by di pangkalan ojek, tapi setelah tahu arah yang akan dituju oleh tanteku, tukang ojeknya tidak mau mengantar. Alasannya karena lokasi perumahan tersebut dikenal oleh masyarakat di sana adalah daerah angker yang dikenal dengan nama “Daerah Larangan” , takut kalau ada apa-apa dan lagi harus antar ke sana pada waktu seperti itu.
Tanteku dengan terpaksa sekali berjalan kaki dan tiba di rumah tersebut sekitar jam 02.30 WIB dini hari dan disambut tuan rumah dengan disunguhi mimuman hangat dan snack ala kadarnya, dan karena sudah akrab, tanteku pun mempersilahkan tuan rumah untuk isitrahat saja melanjutkan tidur mereka. Lalu tanteku duduk di kursi di teras rumah untuk sekedar bersantai melepaskan penat sebelum akan tidur di kamar tamu yang disediakan tuan rumah sekitar jam 3 an.
Lagi asyik-asyiknya duduk, tiba-tiba ada sebuah selendang mengenai bagian lehernya, dan tanteku pun kaget serta secara reflex memegang selendang tersebut dengan tangan kanannya karena takut selendang itu membelit lehernya. Dan entah dari mana datangnya dihadapannya sudah ada sosok putri cantik berpakaian seperti jaman kerajaan, badannya dililiti kain kemben sampai dibawah lutuk kaki dan memakai semacam kebaya untuk menutupi badan bagian atas, lalu memakai semacam ikat pinggang, rambut panjangnya dibiarkan terurai serta memakai ikat kepala keemasan dan ada semacam hiasan di tengahnya.
Sosok putri itu memegang selendang panjang, dan salah satu ujung selendang tersebut dipegangi oleh tanteku. Sosok tersebut menatap tanteku dengan pandangan sangat marah, dan berkata”Kamu harus pergi dari tempat itu, kamu tidak boleh berada di situ, tempat itu milikku. Pergi dari kursi itu!”
Tanteku pun sempat bingung juga, masak cuma duduk di kursi yang sedang ia duduki saja tidak diperbolehkan dan diusir? Lha ini khan yang punya kursi milik tuan rumah.
Walaupun agak bingung, beliau pun menjawab dengan sopan, “Maaf saya cuma mau istirahat sebentar , saya kecapekan.”
Tapi ternyata permintaan dari tanteku tidak digubris oleh sosok tersebut dan tetap menyuruh tanteku agar segera meninggalkan kursi tersebut secepatnya.
Mendapat perlakuan kasar seperti itu, tanteku tidak terima, diapun tetap duduk di kursi tersebut dan mengabaikan sosok itu. Rupanya tindakan tanteku membuat sosok itu marah, lalu dia mencoba menarik dengan kasar ujung selendang yang sedang dipegang tanteku. Beliaupun jadi terpancing emosinya, ujung selendang itu ia pegang dengan sekuat tenaga agar tidak lepas. Dan terjadilah tarik menarik selendang antara sosok putri tersebut dan tanteku.
Dan entah bagaimana terjadinya, tanteku merasa ujung selendang yang sedang ia berusaha pertahankan berubah menjadi bagian ekor ular, dan seluruh selendang berubah menjadi ular sebesar kaki orang dewasa, dan yang lebih mengagetkan lagi kepala ular tersebut (bersamaan dengan menghilangnya sosok putri dalam wujud manusia) adalah kepala sosok putri tersebut.
Dan tanpa tanteku menyadari, entah karena takut atau jijik dan dapat kekuatan darimana, dia secara otomatis memutarkan-mutarkan tubuh ular berkepala manusia itu beberapa kali (seperti memutar tali laso) kemudian melemparkan sejauh mungkin kearah luar halaman. Tapi anehnya seharusnya ada suara seperti suara benda jatuh, tapi saat itu tidak terdengar apa-apa.
Tantekupun shock juga, tapi untungnya dia bisa mengembalikan ketenangan dirinya, lalu dia pun masuk ke rumah untuk beristirahat.
Keesokan harinya dia menceritakan itu kepada temannya, tetapi ternyata cerita dari tanteku tidak membuat kenalan dan keluarganya cemas, karena kata mereka, hal-hal yang aneh sudah sering mereka alami, jadi mereka menganggapnya biasa saja dan memaklumi kalau tanteku sedang diganggu oleh bangsa gaib.
Rupanya kejadian pada dini hari itu masih ada lanjutannya, siluman wanita ular itu ternyata menaruh dendam pada tanteku.
Pada hari kedua, saat itu tanteku dan tuan rumah sedang ngobrol di ruang tamu di atas tengah malam. Dan tiba-tiba terdengar teriakan keras dari luar rumah, “Keluar..keluar..keluar!” disertai suara wanita tertawa keras dan melengking
Kebetulan jendela di ruang tamu itu adalah sebagian adalah jendela kaca yang ditutupi kain korden yang agak tembus pandang, sehingga tantekupun dan tuan rumah pun bisa melihat keluar rumah. Mereka melihat, khususnya tanteku, bahwa ada 3 sosok wanita sedang berdiri di luar rumah, yang salah satu wanita itu adalah sosok yang tanteku temui sebelumnya.
Tanteku ingin keluar rumah dan mau menayakan apa yang mereka inginkan dari dia, tapi tuan rumah mencegah dan mengatakan supaya membiarkan saja dulu 3 sosok wanita diluar, kecuali kalau mereka masuk ke dalam rumah, barulah dilawan (tuan rumah juga memiliki bekal imu untuk menghadapi makhluk ghaib)
Tapi ternyata ditunggu-tunggu ke tiga wanita itu tidak berani masuk ke rumah, hanya teriak-teriak menantang tanteku dan tertawa cekikikan saja. Dan akhirnya setelah beberapa lama, mereka pun menghilang.
Yap, begitulah cerita yang kudengar dari tanteku, terima kasih