Penulis : Kapten Lazaro

Cerita dari teman kantor. Kejadiannya terjadi sebelum bulan puasa di tahun 2014.
Di kampungku ada berita yang cukup menggemparkan berkaitan dengan sosok Kuntilanak yang entah dianya yang khilaf atau bagaimana, sampai bisa dilihat oleh sekitar 4 orang yang sedang lari pagi di lokasi kejadian( tapi bukan warga kampung). Sekitar antara jam 04.30 – 05.00 WIB, pada hari Selasa. Tapi maaf bukan soal Miss Kunti ini yang akan kuceritakan
Saat hari kejadian, kebetulan aku masih berada di luar kota selama 4 hari karna tugas kantor, dan baru tahu juga karna diomongin sama orang rumah, tapi ya namanya juga cerita dari mulut tetangga ke tetangga yang lain, jadi nggak begitu jelas sih ceritanya, tapi intinya ada penampakanlah 😀 di lokasi tersebut.
Kebetulan aku dapat jatah ikut ronda pada malam Minggu, dan jujur aku penasaran di mana sih lokasinya saat penampakan itu terjadi? Sekitar jam 23.00 WIB aku menuju ke pos ronda untuk berkumpul dengan bapak-bapak warga kampung yang lain.
Malam itu yang pasti tidak seperti biasanya, biasanya yang ikutan ronda hanya paling banyak 6 orang, tapi saat itu yang hadir jumlahnya ada sekitar 10 orang, lengkap sesuai dengan daftar warga yang harus ronda pada hari itu.
Omong punya omong, ternyata mereka penasaran juga dengan kabar penampakan tersebut, dan ingin tahu di lokasi mana sebenarnya terjadinya, yeeh sama donk seperti aku niatnya he..he..he..
Sekitar tengah malam, kami pun berkeliling kampung sambil sesekali memukul tiang listrik sebagai tanda kami sedang bertugas, tapi ya pelan-pelan biar tidak terlalu menggangu warga yang sudah terlelap.
Lalu sampailah kami di lokasi yang jadi perbincangan, sebuah gudang kecil yang pintunya berupa rolling dor, letaknya di pinggir jalan persis, berpagar bambu. Rumah utama yang memiliki gudang tersebut berada di belakang jauh dari gudang tersebut dan jujur saja aku sendiri belum pernah masuk ke sana, bahkan nggak tahu rumahnya seperti apa karena memang posisinya agak ke dalam dan di penuhi dengan pohon-pohon yang cukup rimbun.
Jadi Gudang itu ada di bagian paling depan dari halaman tersebut ( dipinggir jalan) dan yang pasti saat kejadian gudang tersebut dalam keadaan kotor, tertutup , dan tidak ada lampu. Tapi waktu kami berada di tempat, sekarang sih sudah lebih bersih serta ditambah lampu penerangan di dalamnya dan juga ada tambahan lampu penerangan jalan.
Cukup lama kami berada di situ, sambil mendengarkan cerita dari salah satu bapak yang bercerita soal kejadian tersebut, katanya sih warga yang di sekitar lokasi tersebut terbangun karena teriakan keras orang-orang yang sedang sial ketemu mbak Kunti tersebut.
Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan mengelilingi kampung dan kembali ke pos ronda. Dan karna pos tidak bisa menampung semua orang saat itu, lalu kami pun menggelar tikar di jalan depan pos ronda.
Lokasi Pos Ronda tersebut ada di perbatasan antara kampung kami dan kampung sebelah . Dan wilayah kampung sebelah hanya ada beberapa rumah saja dan sebagian besar adalah tanah kosong/sawah-sawah (maklumlah kampung temanku ada di pinggiran kota).
Sekitar jam 2 an, Bapak A dapat panggilan alam alias mau kencing, ia kemudian mencari lokasi yang agak menjauh dari pos sekitar 5 meter , untuk melaksanakan buang air kecilnya. Dan baru kembali sekitar 10 menit dan duduk di sebelahku.
Aku iseng bertanya kepadanya, “Kok kencingnya lama bener pak?. Sambil menyeruput gelas berisi teh hangat.
Beliau tidak langsung menjawab pertanyaanku, dia menyalakan rokoknya terlebih dahulu barulah dia berkata, “Nggak tahu ya mas, apa saya yang ngantuk atau cuma berhalusinasi, tapi tadi saya seperti melihat sesuatu yang aneh.”
“Eh, kapan pak, di mana?” tanyaku penasaran, dan bapak-bapak yang lainnya juga ikutan tertarik.
Bapak A kemudian bercerita, tadi waktu sudah selesai kencing dan akan kembali ke pos. Pandangannya seperti melihat ada gerakan yang mencurigakan dari arah kebun kosong di sebelah rumah wilayah kampung sebelah. Jarak antara dia dan rumah itu sekitar 10 meter.
Karna lampu penerangan di depan rumah tesebut tidak begitu terang jadi agak lamat-lamat dia melihat seperti ada orang yang keluar dari kebun sebelah rumah itu yang kebetulan banyak tanaman pisangnya menuju ke jalan.
Awalnya Bapak A pikir orang itu berjalan dengan menggunakan alat seperti Egrang sehingga kakinya jadi lebih panjang dari pada kaki orang dewasa biasa. Tapi ternyata setelah sosok itu berjalan menjauh dari kebun dan berada di bawah lampu penerangan yang dipasang pada tiang listrik sepanjang jalan yang dilaluinya. Barulah Bapak A menyadari kalau yang dia lihat bukan manusia sesungguhnya.
Kalau dari wujudnya seperti orang pada umumnya , seperti sosok laki-laki tapi tingginya melebihi orang pada umumnya, sekitar 3 meteran kira-kira tingginya. Yang menjadi perhatian Bapak A dari sosok tersebut adalah bagian kaki sosok tersebut terlihat lebih panjang dari bagian badan atas.
Dan yang membuat dia heran adalah pohon-pohon perindang yang tumbuh di sisi kanan kiri jalan tersebut, sama sekali tidak tersentuh/bergoyang , padahal seharusnya dengan tinggi tubuh seperti itu pasti mengenai ranting-ranting pohon yang tumbuh agak menjorok ke arah jalan. Dia sempat terpesona melihat pemandangan itu, sampai akhirnya sosok itu berjalan semakin menjauh dan akhirnya hilang ditelan kegelapan.
“Yah itulah yang tadi saya lihat mas,” kata Bapak A mengakhiri ceritanya sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
Kami semua yang ada di pos langsung berdiri dan melihat ke arah jalan yang diceritakan Bapak A, tapi tentu saja tidak ada yang bisa kami lihat.

Demikianlah ceritanya. Terima kasih.