Penulis : Ambalika

salam sejahtra teruntuk sahabat reunion, perkenalkan saya Panji priastanto. Disini izinkan saya sedikit berbagi kisah pada kalian semua, tentang pengalaman mistik yang saya alami. Seperti judul di atas kejadiannya memang sewaktu bulan purnama.
Pagi itu bapak mengirim pesan sms singkat pada saya, beliau mengajak makan malam keluar. Beliau juga perpesan kalau nanti malam hanya saya dan beliau saja yang keluar, jadi kedua adik saya dengan terpaksa harus di eliminasi 😀. Senang dan tidak sabar menanti malam tiba, itu yang saya rasakan sepanjang hari, ya maklum sudah lama sekali saya tidak menghabiskan waktu bersama bapak, karena keadaan mengharuskan kami harus tinggal terpisah, tapi walau begitu saya dan adik-adik tetap bersyukur karena memiliki orang tua yang luar biasa seperti bapak dan ibu, walau tak dapat kami pungkiri terkadang keputusan mereka juga membuat kami menangis, tapi yang namanya manusia tidak ada yang sempurna, begitu juga dengan orang tua kami, lumprah saja kalau beliau-beliau juga melakukan kesalahan dalam menjalani kehidupan ini. Tanpa terasa lembara demi lembar undangan pernikahan telah saya cetak dan pekerjaan hari ini terasa ringan sekali, mungkin saking senangnya hati ini karena nanti malam bisa menghabiskan waktu bersama bapak, namun walau begitu tetep saja masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan, maklum musim pernikahan jadi pesanan undangan juga lumayan, dan alhamdulilah bisa buat bantu-bantu uang dapur.
Akhirnya yang di nanti sehariaan datang juga, selepas magrib saya dan bapak bergegas berangkat keluar, pelan tapi pasti bapak melajukan montor buntutnya, malam itu sungguh menakjubkan, Subehannallah bulan bersinar dengan terangnya, walau hari sudah malam nampak seperti masih siang saja, sepanjang perjalanan mencari makan saya hanya bisa mengagumi keindahan ciptaanya, namun tiba-tiba entah apa yang terjadi montor tiba-tiba oleng ” ALLAH HUAKBAR” bbbbbbraaaakkkkkkkkkk, kami jatuh tersungkur ke jalanan, beruntung bapak melajukan motor hanya dengan kecepatan sedang, dan allhamdulilah kami tidak sampai terluka, cuma lecet-lecet biasa saja. Jadi ceritanya waktu itu bapak meliat gerombolan bocah gundul tiba-tiba menyebrang jalan begitu saja, itulah sebabnya kami jatuh, tapi anehnya saya sendiri tidak meliat grombolan bocah gundul itu. setelah insiden kecil itu saya mengambil alih melajukan motor, tak berapa lama kami sampai di warung makan lesehan Nirwana, seporsi ayam lodho, dua piring nasi uduk dan dua gelas wedang jahe menjadi menu malam itu. Tak berapa lama pesanan datang saya dan bapak langsung memulai makan, bapak bercerita banyak sekali, dan juga ada beberapa hal yang bapak sampaikan kepada saya, dan kini saya pun sudah faham mengapa bapak hanya ingin mengajak saya saja.
Alhamdulilah kenyang, ayam lodhonya bener-benar nikmat dan gurih, daging ayam kampungnya benar-benar di masak dengan sempurna, sehingga danging terasa sangat empuk dan nikmat sekali, apa lagi nasi uduknya begitu gurih dan wangi, aroma perpaduan santan dan wangi pandan….hemmmmm luar biasanya nikmatnya. Karena di rasa masih terlalu sore buat pulang ke rumah, maka saya dan bapak memutuskan mampir ke warung cethe, memang rasanya tidak afdol kalau ke Nirwana tidak mampir ke warung cethenya. Cethe sendiri adalah seni melukis menggunakan media rokok dan ampas dari kopi hitam, di Tulungagung sendiri cethe memang sudah menjadi bagian dalam keseharian kami, tuan muda semua menyukai nyethe, jadi tak heran kalau di sepanjang jalan-jalan berdiri warung-warung cethe. Saya sendiri yang dasarnya suka melukis memang selalu bersemangat kalau di ajak nyethe, bahkan terkadang saya juga mendapat pesanan cethe dari pak lurah, ya lumayan hasilnya bisa buat beli rokok 😀.
Puas nyethe kami bergegas pulang ke rumah, karena memang hari pun semakin larut, kasian lika dan adik yang saya tinggal di rumah, tak lupa saya membeli oleh-oleh buat ke dua gadis saya” Oreo” yah itulah yang menjadi kegemaran mereka, entah apa istimewanya makan satu itu sampai-sampai ke dua adik saya begitu menyukainya. Sama halnya pas berangkat tadi, perjalanan pulang ke rumah masih begitu mengasikan, bulan bersinar begitu indahnya, namun kali ini jalanan sudah terlihat lengang mungkin karena hari juga sudah semakin larut, sesekali sambil bersiul bapak yang di belakang bercerita-cerita, namum tiba-tiba beliau menupuk pundak saya dan menyuruh menghentikan motor, saya langsung manut saja, kami berhenti di pinggir jalan yang jalananya bersemak-semak dan tidak ada sutu pun rumah warga.

” le, coba kamu liat ke atas itu”

bapak menunjukan jari telunjuknya ke atas, Asstafirullah saya melihat bola api melayan menuju arah selatan ke pemukiman penduduk

” Pak, saya takut, ayo pulang saja”

ucap saya bergetar, sambil menahan takut.

” wis le jangan takut, kita berdo’a saja mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa, yo wis ayo sekarang kita pulang”

Namun saat itu saya dan bapak di kejutkan lagi dengan munculnya bola api yang melayang-layang, bahkan bukan hanya satu bola api melainkan ada tiga, saya dan bapak langsung bergegas menuju motor dan langsung pulang ke rumah. Entah apa bola api itu, ada yang bilang bahwa itu adalah semacam teluh akan tetapi ada juga yang bilang kalau bola api itu adalah dedemit yang bernama bangaspati. Entalah, saya sendiri tidak mau terlalu tau, yang jelas pengalaman malam purnama itu sampai sekarang masih membekas jelas di ingatan saya. Begitu lengkapnya, saya menghabiskan malam bersama bapak, tapi juga mengalami dan menyaksisakan sendiri kejadian mistik.