karya unsriyani

Hai, namaku Rizky Syahrul. Biasa
dipanggil Rizky. Aku sekarang duduk
di bangku kelas XI IPA 2 SMAN 1
Bandung. Aku punya seorang kekasih
satu angkatan di kelas sebelah.
Namanya Alicia. Dia cewek yang imut
dan lucu. Kami sudah berpacaran
sejak kelas 8 SMP. Hehehe…
langgeng ya! Yang ku suka dari dia
adalah senyumannya. Senyumannya
berbeda dengan cewek lain. Kau tau
kenapa? Karena saat dia tersenyum,
dia memiliki dua pasang lesung
sekaligus. Satu pasang lesung di
pipinya yang chubby, dan sepasang
lagi diatasnya. Unik kan? Dia sangat
imut dan manis jika tersenyum.
Sudah pipinya chubby, punya dua
pasang lesung pula.
Ceritanya, satu minggu lagi aku
ulang tahun. Ulang tahunku yang
ke-17. Aku sudah sangat tidak sabar.
Surprise apa ya yang akan dia kasih
buatku tahun ini?
Senin, 6 January 2014 07.00 WIB
Back to school again. Hari pertama
masuk sekolah. Dan, hari yang ku
tunggu-tunggu. Hari ulang tahunku
yang ke-17. Umurku 1 tahun lebih
tua dari Alicia. Tapi kita satu
angkatan.
“Udah gak sabar sama surprise di
sweet seventeen gue tahun ini.”
Ucapku riang sambil berjalan di
koridor sekolah.
Senin, 6 January 2014 11.00 WIB
Udah jam segini. Kok Alicia belum
kelihatan ya? Padahal aku lagi
kangen banget sama senyuman
lesung gandanya itu.
“Eh, Ren! Loe liat cewek gue kagak?
Kok sampe jam segini gue belom liat
dia ya..?” Tanyaku pada Rendy.
Teman dekatku.
“Kagak tau bro! Gue denger-denger
sih, dia gak sekolah.”
“Hah? Yang bener loe?? Masa dia
kagak masuk sih? Emang dia kagak
tau ini hari apa? Emang dia lupa ini
hari ulang tahun gue?”
“Udahlah bro, jangan emosian dulu.
Siapa tau di sakit atau ada urusan
mendadak.. Positif Thinking aja
kali!!”
Senin, 6 January 2014, 14.00 WIB
“Hhhuffft… hari yang melelahkan!”
Kubaringkan tubuhku di atas kasur.
Masih dengan pakaian seragam
melekat di tubuhku.
“Gue bener-bener kecewa hari ini,
gue kecewa sama dia!!! Dia bener-
bener lupa sama hari ulang tahun
gue. Dia gak ngucapin selamat ulang
tahun, biasanyakan dia selalu
ngucapin paling pertama. Tapi kali
ini tidak! Gak ada surprise, gak
masuk sekolah lagi. SIALAN. Gue
bener-bener Kecewa.” Aku
mengeluarkan semua uneg-uneg
yang ada di hatiku hari ini.
Tiba-tiba, saat aku mencoba
memejamkan mata ini untuk
melepas penat, Handphone ku
berdering. Ada telefon masuk.
“Indah? Ngapain dia nelfon gue?”
Ya, dia Indah. Sahabat Alicia.
Kuangkat telfonnya.
“Halo…”
“Halo, Ki! Loe kok gak dateng ke
rumah Alicia? Loe harus dateng Ki…”
Belum sempat Indah melanjutkan
perkataannya, aku memotongnya.
“Udahlah, Indah. Gue males sama
dia. Gue lagi kecewa berat sama dia.
Loe jangan mancing amarah gue ya?”
TUUT… TUUTT… TUUUTTT…
Dengan kesal ku matikan telfon. Aku
benar-benar kecewa. Kekecewaanku
beradu dengan derasnya hujan di
luar sana.
TOK! TOK! TOKK!
Terdengar ketukan pintu. Dengan
malas, aku pun beranjak dari tempat
tidur untuk membukakan pintu.
“Siapa sih lagi hujan gede gini
datang? Gak ada kerjaan lain apa?”
“Haahh… Alicia??”
Aku terkejut ketika membuka pintu,
dan kudapati kekasihku berdiri di
hadapan ku. Dia mengenakan gaun
biru muda selutut. Tangan kirinya
memegang payung transparan, dan
tangan kanannya membawa sebuah
kotak kado yang indah.
Namun, wajahnya pucat. Rambut
ikalnya yang hitam sebatas dada,
menutupi sebagian wajahnya yang
pucat.
“Selamat ulang tahun, sayaaang…
Maaf aku telat dan telah
membuatmu kecewa. Tapi aku telah
menepati janjiku kan?”
Dia tersenyum. Tetapi dingin.
Sangat dingin. Seperti wajahnya
yang pucat pasi. Senyumannya jadi
tak seceria biasanya. Tapi dia tetap
terlihat manis.
Aku pun tersenyum. Kekecewaan dan
amarahku padanya seketika hilang
jika sudah melihat senyumannya.
“Kamu belum pernah loh ngasih
surprise, langsung di rumahku.
Makasih banget ya sayaaaang…”
Sebagai tanda terimakasih, ku peluk
tubuhnya. Namun. Oh, ya tuhaan!!
Dingin sekali. Tubuhnya terasa
sangat dingin saat ku peluk.
“Kamu… sakit ya? Muka kamu pucat.
Badan kamu juga dingin? Kenapa
kamu maksain diri gini, ini kan
hujan lebat sayang… kalau tambah
sakit gimana?? Ayo masuk dulu. Aku
buatin coklat panas kesukaan kamu
ya.”
Dia hanya tersenyum simpul. Lalu
mengikutiku masuk dari belakang.
Aku bawakan handuk yang lumayan
tebal. Dan mengenakan handuk itu
ke tubuhnya. Dia hanya tersenyum.
“Oya, aku bikin coklat panasnya dulu
ya…” Aku pun beranjak ke dapur
dengan perasaan senang.
Saat aku sedang asyik
membayangkan apa isi dari kado
yang dia bawa sambil membuat
coklat panas, handphoneku
berdering lagi. Indah? Ada apa lagi
dia menelfonku?
“Halo. Apa lagi sih Indah…?”
“Ki, stop ki! Loe harus denger ini, ki!
Loe jangan bicara dulu sebelum gue
selesai bicara. OKE!! Loe denger
baik-baik ya… pacar loe itu, Alicia…
kemaren dia kecelakaan pas beli
kado ulang tahun buat loe, Ki! Dia
sempat kritis, dan tadi siang, dia
udah menghembuskan nafas
terakhirnya… loe cepetan ke rumah
Alicia. Sebelum upacara pemakaman
dimulai.”
Begitulah yang Indah katakan.
Suaranya sedikit parau dan serak.
Aku sempat terkejut dan RAGU. Lalu,
siapa yang sekarang duduk di ruang
tengah? membawa kado ulang
tahunku?
“Indah, loe jangan ngada-ngada ya!!
Gue gak bodoh, Ndah! Loe tau gak,
sekarang Alicia tuh lagi di rumah
gue, dia bawa kado ulang tahun
buat gue.”
TUUT… TUTT… TUUUUTTT…
Lagi-lagi ku matikan telfon dengan
kesal, dan beranjak dari dapur
menuju ruang tengah sambil
membawa coklat panas kesukaan
Alicia.
Saat tiba di ruang tengah.
“Semua yang dikatakan Indah benar,
sayang…” Alicia berkata dengan nada
datar. Kepalanya tertunduk sehingga
wajahnya tertutupi oleh sebagian
rambutnya yang terurai.
PPPRRANGGG!!!
Secangkir coklat panas yang ku
pegang mendadak terjatuh ke lantai
dan pecah menjadi berkeping-
keping.
“A… apa?? Gak mungkin kan
sayang?”
Perlahan Alicia mengangkat
wajahnya. Aku langsung terjatuh
lemas ketika kulihat, wajahnya
penuh luka dan berlumuran darah.
Gaun biru mudanya yang cantik itu
ternodai oleh darah yang menetes
dari luka di wajahnya.
“Oh.. tidak!!!” Sungguh sadis dan
mengerikan. Aku sangat tidak
sanggup melihat pemandangan yang
mengerikan dan memilukan ini.
“Maafkan aku sayang, aku telah
membuatmu kecewa di hari ulang
tahunmu ini. Tapi aku berharap,
kado ini adalah kado terindah yang
pernah kamu terima di hidupmu.
Maaf aku harus pergi sayang,
terimakasih ya sudah mewarnai
hidupku yang indah. Aku pergi
bukan karena keinginanku. Tapi
karena takdir yang telah dituliskan
Tuhan untuk setiap makhluk-Nya.
Aku mencintaimu. Dan kita memang
jodoh, sayang. Tetapi bukan di dunia
ini. Sekarang, tugas dan janjiku
sudah ku tepati. Saatnya aku untuk
pergi. Jaga dirimu baik-baik ya…
akan ada wanita yang lebih baik
dariku dan akan menemani hidupmu
di dunia ini. Selamat tinggal
sayang.”
Dia tersenyum. Sangat manis.
Senyuman ceria yang seperti
biasanya. Tak ada luka di wajahnya,
noda-noda darah di gaun biru
mudanya pun lenyap bersamaan
dengan tubuhnya yang hilang tak
berbekas. Hilang untuk selamanya.
Air mataku mengalir dengan
derasnya. Baru kali ini aku menangis
merasakan pilu di hati ini. Tak rela
dia pergi. Dia adalah ‘Bidadari
Lesung Gandaku’.
Perlahan aku bangkit dan mengambil
kado yang tergeletak di atas meja.
Lalu aku membuka isi dari kado itu.
Ternyata isinya adalah sebuah
kemeja putih. Dan, satu lagi. Sebuah
album foto terselip di antara lipatan
kemeja itu. Oh tuhan… semua isi
foto di foto album ini adalah foto ku
bersama Alicia. Ya tuhan, ini sangat
menyayat hatiku. Ini membuatku
semakin tak rela kehilangannya.
Aku memeluk semuanya erat. Air
mata ini tak henti-hentinya
mengalir. Aku menyimpan kembali
semuanya dengan rapi ke dalam
kotak kado tersebut. Aku segera
berlari keluar. Hujan masih deras
mengguyur bumi. Namun aku segera
bergegas menstater mobilku dan
membawanya melaju kencang
menuju rumah Alicia. Menembus
derasnya guyuran hujan.
Sesampainya disana, kulihat
sepasang bendera kuning terpasang
di setiap sisi gerbang masuk
rumahnya. Banyak orang disana. Aku
langsung menghambur masuk ke
dalam rumah. Orang-orang sedang
mengaji mengelilingi tubuh Alicia
yang tertutup kain. Terbaring kaku
dan tak bernyawa. Aku langsung
memeluk tubuh kaku itu. Perlahan
ku buka kain penutupnya dan
menatap wajah nya yang pucat pasi.
Aku tak kuasa menahan pedih dan
pilu di hati ini.
“Kenapa kamu pergi, sayang?
Kenapa? Kenapa harus di hari ulang
tahunku?? Jawab sayang, ayo jawab!”
Aku menggoyang-goyangkan
tubuhnya.
“Udah Ki… Ini takdir, ikhlasin Alicia
pergi. Dia akan tenang di alam
sana.”
Saat hujan sudah reda, upacara
pemakaman pun dilaksanakan.
Setelah upacara pemakaman selesai,
para pelayat pun pulang satu
persatu. Aku masih terduduk di
depan makam yang tanahnya masih
merah itu. Ku taburkan bunga
terakhir.
“Aku akan tetap mengenangmu
sebagai ‘Bidadari Lesung Gandaku’,
sayang.”